Skip to main content

Pergi ke Taiwan & Singapura: Antisipasi virus corona saat traveling


Virus corona yang baru membuat manusia jadi 'less human' begitupun dengan saya. Pertama kalinya traveling yang seolah pergi ke tempat berbahaya.

Dua pekan sebelum berangkat, saya sempat berpikir, untuk membatalkan perjalanan. Namun saat melihat perkembangan berita, kenapa harus takut? masalahnya bukan virusnya, tapi manusianya. 

Terdapat puluhan orang terjangkit virus corona yang baru di Singapura dan Taiwan. Tidak ada yang meragukan kedua negara itu dalam menangani sebuah wabah. Lalu bagaimana jika tiba-tiba virus itu berkelana melalui udara dan menjangkit orang-orang seisi kota. 

Maka saat masih di Jakarta, saya membeli masker setiap hari, sekaligus untuk bekal di dua negara itu, berikut dengan cairan pembersih tangan. Di Jakarta, kedua jenis benda medis itu sudah mulai langka. Begitu pula di Singapura dan Taiwan.

Saya punya waktu 12 jam transit di Singapura dan saya gunakan untuk kembali menapaki Clarke Quay dari patung merlion, memotret segala kenangan masa sekolah dan menghabiskan sore di sana.


Naik MRT ke Bugis Street dan Little India untuk mencari makan dan selebihnya kembali ke Changi Airport. Saya gunakan masker di tempat umum, mengingat merebaknya virus corona yang baru ini cukup membuat saya dan manusia lainnya ketakutan.

Apalagi frekuensi menyemprotkan cairan pembersih tangan jadi lebih sering setelah memegang banyak benda di tempat umum. Seorang teman yang bermukim di Singapura bilang, "Ini bukan film zombie, jadi chill lah," walau begitu, dua hari kemudian setelah saya meninggalkan Changi, Singapura berstatus waspada di aplikasi Safe Travel buat Kementerian Luar Negeri. Lalu saya pikir, bagaimana nanti ketika saya kembali ke Singapura dan transit selama 11 jam di sana sebelum kembali ke Jakarta?

Semua berjalan dengan normal sampai penerbangan berikutnya ke Taiwan. Mulailah pikiran serba paranoid muncul. Melihat orang terbatuk, langsung menjauh atau bahkan menahan napas. Adengannya sama persis dalam film The Host yang saya tonton di Netflix, bercerita tentang mahluk mutan penghuni Sungai Han yang dianggap menyebarkan virus. Seseorang terbatuk di tengah kerumunan, yang lain mulai menyadarinya dan menjauh. Padahal tidak ada virus yang mewabah pada akhirnya.


Namun di sisi lain, saya butuh memproteksi diri saya. Taipei tempat orang wara-wiri dari China daratan bukan tak mungkin jadi tempat yang mematikan seperti Wuhan. 

Saya dan rekan travel memutuskan hanya mencopot masker ketika makan, berfoto dan sudah ada di penginapan. Setiap pagi kami minum multivitamin, makan yang banyak dan terus minum air putih. Sebisa mungkin badan harus sehat dalam perjalanan ini.


Pagi hari ketika tiba di Taipei, kami putuskan untuk langsung ke Taipei Main Station. Bangunannya tua, kalau di aula stasiun serasa ada di Grand Central, puluhan tuna wisma dan kebanyakan paruh baya tidur di pojokan dan luar stasiun. Mereka membekali diri dengan selimut tebal, karena cuaca di Taipei saat itu cukup dingin.


Kami menjelajah kota sebelum ke penginapan di daerah Dongximen. Sarapan cakwe dengan bubur kembang tahu, toppingnya seperti bubur ayam, kaldunya kurang vetsin. Meminum secangkir kopi yang nikmat luar biasa di gang dekat stasiun Shilin.


Lalu kemudian tidur di penginapan sampai malam tiba. Karena pada hari itu, terdapat festival lentera di jalan utama dekat penginapan. Acara dibuka oleh Walikota Taipei, dia berpesan agar masyarakat tetap mengenakan masker saat di berada di tempat umum, selalu menjaga kebersihan badan dan terutama menjaga kesehatan badan.


Kami berdiri paling belakang, menghindari kerumunan. Ini kali pertama saya tidak berada di tengah kerumunan. Sungguh tidak asyik ketika semua orang mengenakan masker. Saya tidak tahu apakah mereka tersenyum atau sinis, saya tak dapat melihat gerak bibir ketika berbicara dengan orang-orang, ini tidak mudah bagi saya.

Berada di Taipei artinya kembali pada suasana tahun 90an, bangunan lawas bukan berarti orang-orangnya kolot. Semua sadar diri dengan kesehatan mereka, kebanyakan sih. Mulai dari para penjual makanan di pasar malam, hingga para muda-mudi dari luar kota yang ingin berlibur di Taipei.


Mereka mengenakan masker, tapi tidak berarti mengucilkan orang atas dasar ketakutan tertular virus, entah apa jenisnya.

Mereka tidak menganggap semua orang seolah sudah terjangkit virus corona yang baru, seperti yang ada di pikiran saya selama ini.

Saya mulai berani mencopot masker saat naik ke Elephant Mountain, bukit di Taipei yang jika sudah ada di puncaknya bisa melihat panorama kota berikut dengan gedung Taipei 101. Bonusnya adalah udara segar dari hutan di bukit itu.


Rasanya rugi jika masker menghalangi udara segar itu masuk ke dalam paru-paru saya. Banyak pula para manula yang meniti tangga batu mencapai puncaknya, kami berbagi udara segar pagi itu, di bawah kabut dan langit kelabu di Taipei.

Banyak area publik yang menyediakan alat deteksi panas tubuh dan cairan antiseptik sebelum masuk ke area itu. Jika sudah begitu, apakah masih takut akan persebaran virus?

Masih. 

Saya masih takut, apalagi ketika tenggorokan berasa gatal. Entah udaranya terlalu dingin? Yang jelas, menurut Pemerintah Taiwan, bulan ini merupakan musim flu karena cuaca tak menentu. Jika dingin akan sangat dingin, begitupun jika panas.

Sampai pada akhirnya saya overdosis vitamin, yang terbuang percuma lewat urin.

Kota selanjutnya adalah Taichung. Kota ini tak sebegitu ramai seperti Taipei, masih banyak orang yang tidak mengenakan masker, mereka menjalankan rutinitas seperti biasa.


Seorang kakek masih memperbaiki sepatu di tokonya, seorang gadis masih menuntun anjingnya jalan-jalan di pinggir sungai dan dua turis, merasa kebingungan dengan semua anomali ini. Dua jam setengah waktu tempuh dari Taipei, seolah tidak pernah ada berita tentang virus corona yang baru.

Kami pergi ke Taichung karena akan ikut tur ke dataran tinggi Hehuashan mountain.

Ada tiga tempat yang kami kunjungi, Cingjing farm, Mt. Wuling dan Hehuanshan. Kami berenam dalam satu van, diberikan waktu hampir dua jam ke masing-masing tempat, hiking ke puncak lalu turun lagi. Bukan pengalaman itu yang membuat perjalanan ini begitu bermakna.

Dua orang dari Indonesia, dua lainnya dari Malaysia dan dua lagi dari Singapura. Salah satu dari mereka menyeka ingus, lainnya batuk-batuk. Saya mengencangkan masker.

Saya dan rekan berpandangan. Oh it's doomed? 

Namun, setelah beranjak dari Cingjing Farm dan mengobrol dengan mereka, saya putuskan untuk membuka masker.

Saya pikir begini, ketika saya yakin badan saya sehat, virus itu tidak akan pernah mengganggu hidup saya dan saya yakin, kami semua sehat.

Saya memandang mereka sama seperti saya, sama-sama sehat. 

Di trek bagian timur Hehuanshan, saya duduk bersama rekan saya, memandang baris pegunungan dengan salju tipisnya yang masih tersisa lalu berpikir: Virus itu membuat saya, bahkan Anda merasa kurang manusia. 

Saya mengingat tentang seorang dokter di Wuhan yang usianya tak jauh dari saya, akhirnya mati karena virus itu. Li Wenliang, adalah orang yang pertama memperingatkan virus corona yang baru, ketika mendapati pasiennya mati. Namun dia dianggap penyebar berita palsu. Hingga akhirnya virus itu nyata adanya dan sudah banyak orang terjangkit.

Manusia sesungguhnya yang mencoba memberi pesan.

Bagaimana jika masalahnya bukan virus tapi manusianya?

Iya, virus corona yang baru itu memang ada, tapi mengapa kita harus takut padahal sudah memproteksi diri kita sedemikian baiknya?

Setelah naik Hehuanshan, saya jadi lebih santai meski masih sedikit takut, bahkan secara tidak sadar mengingatkan rekan saya untuk menyemprotkan cairan antiseptik dan menggunakan masker.

Jika sudah memiliki adab ketika sedang flu dan batuk, persebaran virus apapun itu bisa diminimalisir, begitupun jika badan dalam keadaan sehat, apa yang harus ditakutkan?

Maka saya bisa pulang dengan tenang meski harus menginap di Changi menunggu penerbangan esok harinya. Setelah status waspada di Singapura menurut Kemenlu, setelah Singapura menyadari bahwa jejak penyebaran virus corona yang baru masih kabur, pemerintah setempat punya langkah preventif.


Justru yang perlu ditakutkan adalah yang abai dan tak punya adab ketika sedang flu dan batuk. Itu saya rasakan ketika tiba di Jakarta. Seorang bapak bersin di muka umum, lainnya batuk-batuk tanpa ditutup tisu maupun kain, kita sepertinya perlu belajar adab di negara yang sampai pada pertengahan Februari masih nol kasus positf virus corona yang baru.















Comments

Popular posts from this blog

Apakah masih ada senyum terselip di balik masker kain Anda?

Sesudah virus corona, lalu apa? I've asked this question over and over again inside my head. What if we never get back to our ordinary life before pandemic? Karena makin lama, lingkungan di luar sana seperti planet lain bagi saya.  Setiap minggu level stres naik, bukan saya sendiri yang mengalaminya, tapi semua orang. Jika pada pekan lalu mereka yang saya temui di jalan masih enak diajak ngobrol, kali ini, semua menatap bak kriminal. Saya menghabiskan waktu di rumah sekaligus bekerja. Dalam seminggu, hanya sekali keluar untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Sehari sebelum ramadan, saya meliput masjid dekat rumah. Awalnya semua baik-baik saja, saya sapa marbot dan dia mengizinkan saya meliputnya. Cerita yang ingin sekali saya dengar adalah para marbot yang nelangsa kala ramadan. Jika tahun lalu jamaah salat tarawih berbaris-baris hingga menyesakkan seisi masjid, kini ibadah itu ditiadakan.  Gerbang depan masjid dalam keadaan terkunci, kain penutup dipasang di teras masjid

Jalan Raya Tertinggi di Indonesia 3600 MDPL (2)

Kalau dipikir, kemiringan jalannya sampai 60 derajat, saya sudah cemas, karena setelah tanjakan langsung tikungan, lalu turun curam dan berbelok di jalan yang mulai berlumpur. Apalagi yang bisa saya lakukan selain tertawa. Menertawakan hidup saya, yang jauh-jauh datang ke Papua hanya untuk menyetor nyawa. Saat itu, Trans Papua sedang dibangun. Cerita yang saya dengar, awalnya saat pembukaan jalur, TNI lah yang bergerak. Beberapa titik masih rawan. Kami sama-sama berdoa sambil bercanda di mobil. Wabah misterius itu merenggut puluhan nyawa anak-anak di Distrik Mbua. Media daring yang bagai kilat melaporkan 50an anak mati. Terlebih, saat itu sedang ramai pembicaraan tentang ebola. Persiapan kami menghadapi itu semua adalah: mengucap basmalah. Keselamatan memang jadi faktor utama. Kebutuhan logistik sudah tersedia, peralatan medis dasar juga sudah ada. Takdir membawa kami ke Distrik Mbua, untuk membukakan mata, siapapun yang ada di Jakarta. Saat mobil tiba di jalan keci

Jalan Raya Tertinggi di Indonesia 3600 MDPL (1)

Dua tahun lalu, pergi ke Papua itu sangat mahal, bahkan lebih mahal ketimbang berlibur ke Jepang. Kalau bukan karena penugasan dari rapat redaksional, saya tak mungkin bisa ke sana. Saat itu saya mengejar cerita tentang kematian misterius puluhan anak di Distrik Mbua, Kabupaten Nduga. Saya masih ingat, penerbangan dari Jakarta, transit dahulu di Makassar, berlanjut menuju Manokwari, kemudian Jayapura, dan akhirnya tiba di Wamena. Bandaranya kala itu masih tradisional. Saya gambarkan seperti terminal bus era 90an. Tapi sekarang bandara yang baru sudah dibuka, setaraf dengan bandara-bandara di tempat saya dan tim, transit sebelum sampai Wamena. Pak Nico, driver kami menjemput dengan mobil yang memiliki spesifikasi tangguh di medan pegunungan. Kami mengisi bahan bakar dahulu. 20 liter bensin, seharga 2 juta rupiah. Saya dan kedua rekan langsung terkejut. Pegunungan di sekeliling menyembul, pamer keindahan. Saya tanyakan kepadanya, apakah dia bahagia tinggal d