Skip to main content

Cerita pandemi: Gaya sosialita yang tak mampu membeli adab


Sejak siang saya duduk di pojok kafe sepi. Bekerja dengan tenaga aglio e olio diskonan yang sudah berada di lambung. 

Seliter kopi dan segelas besar es teh. Tujuh bulan terakhir ini kali ketiga saya kerja di luar rumah. 

Memilih meja di luar ruang dengan sirkulasi udara yang baik, terutama sepi.

Tiba-tiba lima perempuan datang, duduk tepat di meja belakang saya. Mereka nampak modern dengan dandanan bak mantan model. Memegang tas yang gaji saya pun belum tentu cukup untuk membelinya. Mereka rupawan dan terlihat bersih dengan kerut tipis khas wanita paruh baya yang berusaha disamarkan lewat produk kecantikan termahal.

Peraturannya, maksimal dua orang boleh duduk di sana. 

Saya terusik karena ini menyangkut keselamatan dan kesehatan bersama. Namun tak lama manajer kafe datang memberitahu mereka agar mejanya dipisah.

Peringatan itu tak digubris, apalagi mereka merokok. Saya lantas keluarkan cairan disinfektan, menyemprotkan ke meja dan kursi yang saya duduki. 

Mereka memandang aneh, seakan saya adalah maling yang berusaha mengincar isi di dalam tas mereka.

"Apa nggak ada tempat lain? Kita sama-sama saling jaga kesehatan ya," 

Lalu meluncurlah kata-kata khas seorang pecundang yang keluar dari mulut seorang perempuan. "Protes aja kayak cewek."

Saya berdiri lalu bilang "Anda perempuan yang merendahkan perempuan, malu dengan usia Anda yang harusnya lebih bijak,"

Saya lanjutkan pekerjaan dan masih memakai masker. Tak lama saya hampiri manager kafe itu, meminta tolong untuk memperingatkan gerombolan ibu-ibu 'berkelas' yang asap rokoknya ke mana-mana.

Tak lama, manajer kafe datang lagi ke meja mereka. Menawarkan meja lainnya untuk sebagian dari mereka. 

"Bu, kalau ada sidak, kami yang didenda, gaji kami dipotong berbulan-bulan, dendanya 10 juta." 

Salah satunya menjawab "Oh cuma 10 juta? Kita bayar kalo ada sidak."

Volume suara mungkin memang sengaja dinaikkan beberapa tingkat hingga saya bisa mendengar, selain meja kami berdekatan.

Saya menghela napas panjang-panjang. Saya berdiri dan bilang ke manajer kafe "Ok mba terima kasih. Udah nanti saya yang pergi, sbentar lagi kerjaan beres kok, emang uang nggak bisa beli adab."

Lima orang 'berkelas' itu kaget bukan main. Mereka kehabisan kata-kata, lalu hanya bisa melihat saya dengan tatapan penuh dengki ala Leily Sagita.

Saya kembali duduk melanjutkan pekerjaan. Seorang dari mereka sudah dijemput sopir pribadinya, posisi saya menghadap lobi, mobil mewah datang, dia melewati meja saya, melihat saya seolah saya adalah rusa yang siap diterkam singa.

Saya hanya bisa menatap kembali, sambil geleng-geleng, sedikit membuka masker dan tersenyum.

Sempat berpikir, seharusnya saya ada di rumah, lebih aman dan tidak berisiko. 

Mereka tak tahu virus corona itu mungkin sudah mengikuti mereka sampai tempat duduk kulit edisi terbatas yang membalut tempat duduk mobil mereka...

Saya yang begitu protektifnya saat ini kembali menarik ucapan penyesalan di dalam benak.

Jika saya tak ada di kafe itu, saya tak pernah tahu bahwa uang tak bisa membeli adab. Bahwa uang bisa membuat orang menjadi superior. 

Saya meyakini ini adalah kerja semesta yang menjawab pertanyaan saya: Mengapa saya tidak jadi kaya raya meski sudah jungkir balik bekerja?

Karena obsesi akan kebendaan yang saya miliki bisa membuat saya lupa adab. Mungkin jika posisinya dibalik, saya akan memeperlakukan manusia lain lebih rendah.

Jadi, saya bertanya kembali, mengapa saya harus berterima kasih kepada Tuhan karena uang yang saya miliki tidak lebih?

Ternyata kekayaan bukan hanya diukur dengan uang. Bukan pula saya merasa lebih beradap dari segerombol orang yang hartanya melimpah itu...

Saya menyadari, moral saya bobrok juga sama seperti milenial lain di luar sana.

Saya ingat, harga diri. 

Harga diri bisa membeli waktu. 

Hingga saya punya waktu untuk berpikir sepanjang perjalanan pulang dan menulis ini.

Waktu yang cukup untuk saya merenung di dalam taksi dan berterima masih atas kesempatan melihat dunia ini lewat kejadian sepele tapi bisa mengubah segalanya.

Saya ceritakan apa yang saya alami dengan sopir taksi. Kami langsung akrab.

"Situ kenapa ngelawan mereka, susah mending diem, entar capek hati." Kata Pak Sopir.

"Kalo lagi nggak pandemi sih pak saya santai, tapi kalo saya nggak lawan, mana tau saya kalo orang kaya itu bisa gampangin semua hal, kalo emang bisa mungkin mereka bakal beli Tuhan."

Saya bilang begitu, kami berdua tertawa getir. 

Hingga kami menyimpulkan: 

Kewaspadaan saya di tengah pandemi bisa melawan hirarki yang tercipta karena kepemilikan benda.

Oh satu hal, saya masih punya waktu mendengar deretan lagu sebelum tidur. Ini sedang dilakukan.















Comments

Popular posts from this blog

Apakah masih ada senyum terselip di balik masker kain Anda?

Sesudah virus corona, lalu apa? I've asked this question over and over again inside my head. What if we never get back to our ordinary life before pandemic? Karena makin lama, lingkungan di luar sana seperti planet lain bagi saya.  Setiap minggu level stres naik, bukan saya sendiri yang mengalaminya, tapi semua orang. Jika pada pekan lalu mereka yang saya temui di jalan masih enak diajak ngobrol, kali ini, semua menatap bak kriminal. Saya menghabiskan waktu di rumah sekaligus bekerja. Dalam seminggu, hanya sekali keluar untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Sehari sebelum ramadan, saya meliput masjid dekat rumah. Awalnya semua baik-baik saja, saya sapa marbot dan dia mengizinkan saya meliputnya. Cerita yang ingin sekali saya dengar adalah para marbot yang nelangsa kala ramadan. Jika tahun lalu jamaah salat tarawih berbaris-baris hingga menyesakkan seisi masjid, kini ibadah itu ditiadakan.  Gerbang depan masjid dalam keadaan terkunci, kain penutup dipasang di teras masjid

Jalan Raya Tertinggi di Indonesia 3600 MDPL (2)

Kalau dipikir, kemiringan jalannya sampai 60 derajat, saya sudah cemas, karena setelah tanjakan langsung tikungan, lalu turun curam dan berbelok di jalan yang mulai berlumpur. Apalagi yang bisa saya lakukan selain tertawa. Menertawakan hidup saya, yang jauh-jauh datang ke Papua hanya untuk menyetor nyawa. Saat itu, Trans Papua sedang dibangun. Cerita yang saya dengar, awalnya saat pembukaan jalur, TNI lah yang bergerak. Beberapa titik masih rawan. Kami sama-sama berdoa sambil bercanda di mobil. Wabah misterius itu merenggut puluhan nyawa anak-anak di Distrik Mbua. Media daring yang bagai kilat melaporkan 50an anak mati. Terlebih, saat itu sedang ramai pembicaraan tentang ebola. Persiapan kami menghadapi itu semua adalah: mengucap basmalah. Keselamatan memang jadi faktor utama. Kebutuhan logistik sudah tersedia, peralatan medis dasar juga sudah ada. Takdir membawa kami ke Distrik Mbua, untuk membukakan mata, siapapun yang ada di Jakarta. Saat mobil tiba di jalan keci

Jalan Raya Tertinggi di Indonesia 3600 MDPL (1)

Dua tahun lalu, pergi ke Papua itu sangat mahal, bahkan lebih mahal ketimbang berlibur ke Jepang. Kalau bukan karena penugasan dari rapat redaksional, saya tak mungkin bisa ke sana. Saat itu saya mengejar cerita tentang kematian misterius puluhan anak di Distrik Mbua, Kabupaten Nduga. Saya masih ingat, penerbangan dari Jakarta, transit dahulu di Makassar, berlanjut menuju Manokwari, kemudian Jayapura, dan akhirnya tiba di Wamena. Bandaranya kala itu masih tradisional. Saya gambarkan seperti terminal bus era 90an. Tapi sekarang bandara yang baru sudah dibuka, setaraf dengan bandara-bandara di tempat saya dan tim, transit sebelum sampai Wamena. Pak Nico, driver kami menjemput dengan mobil yang memiliki spesifikasi tangguh di medan pegunungan. Kami mengisi bahan bakar dahulu. 20 liter bensin, seharga 2 juta rupiah. Saya dan kedua rekan langsung terkejut. Pegunungan di sekeliling menyembul, pamer keindahan. Saya tanyakan kepadanya, apakah dia bahagia tinggal d