Skip to main content

Posts

Kenapa harus ke Auschwitz?

Satu juta orang lebih mati di Auschwitz, peristiwa genosida yang tidak pernah akan bisa dilupakan dunia. Sebuah negara yang suka dengan air mineral bersoda. Negara yang saat musim dingin begitu nikmat meminum sebotol vodka tanpa merasa mabuk ala orang-orang tropis seperti saya. Mereka menyebut kopi dengan kawa, kopi terbaik yang bisa disajikan berasal dari Torino, Italia. Negara yang masih mengandalkan batu bara untuk suplai energi, meski konfrensi PBB tentang perubahan iklim digelar di negara itu lebih dari sekali. Saya tidak membahas tentang perubahan iklim kali ini. Orang bilang, kita belum ke Polandia kalau belum ke Auschwitz, saya bersama dua rekan yang kebetulan ada di Polandia, Desember 2018 lalu memutuskan untuk mampir ke sana. Ketika saya ke Auschwitz, saya baru sadar bahwa apa yang dibilang orang-orang itu benar. Bukan lantas memenuhi bucket list travel, dan dengan bangganya mengumumkan di sosial media. Sebuah sejarah kelam yang saya tahu lewat sepenggal s...

Mengenang Palu, meresapi tiap meter kehancuran

Hancur semua! Hancur! Pertama kali tiba di bandara Mutuara Sis Al Jufri, air mata ini tak dapat dibendung. Kehancuran separuh bagian bandara nyata di depan mata. Saya cubit beberapa kali tangan ini untuk memastikan bahwa apa yang saya lihat bukan mimpi. Bang Eddy, sahabat saya yang menjemput. Dia telah menemani semua rangkaian liputan sejak 2016 lalu, saat isu teroris, kelompok Santoso menyeruak. Saya peluk dia, sambil menangis, seakan-akan musibah itu juga menimpa saya. "Kau belum lihat jembatan kuning sekarang?" Kata Bang Eddy. Kami akhirnya coba untuk melihat seisi kota pasca gempa. Kaki saya gemetar, bahkan ketika melihat pesisir pantai, tempat biasanya kami menghabiskan sore usai liputan. Mobil bisa-bisanya sampai ke atap rumah, bangunan di pesisir yang masih berdiri, turun sekitar 1 meter. Palu Grand Mall tempat kami menghibur diri usai liputan panjang di Poso, sebagian hancur. Padahal tahun lalu, saat tiba untuk meliput Tour de Central Cele...

Kopi terakhir saat gempa Palu dan Lombok, masa tergalau dalam hidup

Karena sibuk dan sedang masa transisi pekerjaan, saya baru bisa menulis lagi. Maafkan. Cerita ini dimulai dari penugasan mendadak saat pergi meliput gempa Lombok. Saya langsung ke Landasan Udara Halim Perdana Kusuma, menumpang Hercules. Kami berangkat sore, saya tidak bawa perbekalan kecuali sebotol kopi panas. Suara mesin Hercules yang sangat bising dan para tentara yang duduk kesempitan di atas barang-barang untuk kebutuhan pengungsi termasuk tenda, buat saya stres. Saya tak bisa tidur, 4 jam paling menyiksa, kaki saya berada di antara rangka tenda pleton, tumpukan pelampung jadi tempat duduk, musik di ponsel sama sekali tak bisa membantu. Saya buka botol itu, seteguk kopi panas, menenangkan. Sampai di Bandara Praya, kami tak lantas ke daerah terdampak gempa. Tiga pleton prajurit duduk berbaris, menanti makan malam, sambil menunggu truk tronton yang akan membawa kami sampai ke Sembalun. Tengah malam, kami tiba di tenda pengungsian Kecamatan Sambelia, sepanjang perja...

Misteri Wiji Kawih

Wiji Kawih sempat disebut dalam buku All About Coffee, merujuk dari Encyclopedia Britannica 1910 edisi XV, Prasasti yang dibuat pada tahun 856, menyebutkan Wiji Kawih, yang dikatakan sebagai kaldu biji-bijian dalam daftar minuman Jawa oleh David Tapperi, pada 1667, yang kemungkinan kopi. Saya terkejut setengah mati. Hampir mustahil pada masa itu kopi sudah masuk di Indonesia, karena catatan jurnal secarah para pengelana dan pedagang tidak menyebutkan kopi. Pamor kopi kala itu masih kalah dengan rempah. Prasasti tahun 856, menjerumuskan pencarian saya kepada Prasasti Shivagrha, yang saat ini berada di Museum Nasional. Prasasti itu asalah cerita tentang Candi Prambanan. Jika kita lihat lini masa kopi, Kaldi tak sengaja menemukannya kira-kira 200 tahun sebelumnya, dalam jangka waktu itu, kopi mulai dibudidayakan bangsa Arab. Pada masa yang bersamaan, saya agak skeptis, bagaimana bisa kopi yang dikatakan tanaman endemik masuk ke Indonesia? Ada banyak pikiran liar yang terbe...

Belum Selesai Tentang Kopi

Halo Pembaca, Kalau wine membuatmu jujur, kopi akan membuatmu egois. Saya pernah diperingatkan agar menjauhkan ego, ketika mencari tahu seluk-beluk kopi. Secara tidak sadar, ego itu merasuki pikiran. "Mas cuppernya siapa?" "Mungkin saya kenal" saya desak terus pertanyaan itu kepada Mas Yunan, dia sedang membina Petani dan prosesor kopi di Pagur, Mandailing Natal, Sumatera Utara. Dalam sebuah eksibisi kopi nusantara, Kopi asal Pagur ini menyita perhatian saya. Karena Pak Mahfus, sang petani, dengan sederhana bilang, kalau kopi yang ia tanam berjenis Ateng Super. Sesuatu yang saya tahu, Ateng Super adalah varietas yang dibudidayakan di Aceh Tengah. Mas Yunan, dari Nuli Coffee, mungkin menyangka saya adalah coffee snob yang ingin mengajak berdebat. Tetapi, akhirnya pembicaraan kami cair saat Ukers berada di sela-sela obrolan. Buku tua itu, baru dua pekan saya baca. Mas Yunan sempat bilang, ada British Journal yang mengutarakan bahwa kopi di Indonesia, b...

Kopi & Yang Sudah Selesai (10)

Pekan ini akhirnya selesai juga seri Kopi & Yang belum Selesai. Untuk episode terakhir seri Kopi, saya beri judul Kopi & Yang Sudah Selesai. Sesuai urutan dari seri 1 hingga 10, bisa dibaca juga. Saya beruntung bisa merasakan nikmat kopi, bertemu para penggila Kopi yang tak pelit ilmu, dan beberapa kali merasakan momen kenikmatan puncak bersama kopi yang saya teguk. Seri kopi ini bukan bermaksud sok tahu, tapi semuanya akan terjawab dalam episode terakhir.  Kalau sudah jadi bagian hidupmu, sudikah dirimu berbagi rasa bahagia, atau bahkan mencari momen yang tepat untuk menikmati kopimu? Saya sedang membuat film hidup saya sendiri. Saya membuat story boardnya, menyutradarainya dan sebagai tokoh utamanya. Tiap babak sangatlah penting, untuk menentukan, film macam apa yang saya buat. Campur tangan Tuhan bagaimana? Bagi saya, entitas maha agung itu yang memberikan banyak probabilitas, karena film kehidupan ini, tidak pernah memiliki naskah. Saat ini, anda sedang me...

Kopi & Yang Belum Selesai (9)

Andai saja, bahan plastik sekali pakai di kedai kopi tidak lagi digunakan, akan sangat berarti bagi lingkungan. Andai saja pengguna plastik sadar kalau plastik bisa dipakai berkali-kali. Andai, yang anti plastik bisa sadar, musuhnya itu bukan plastiknya, tapi cara manusia memperlakukan plastik. Apalah aku ini, semacam SJW baru 'meletek' saja. Beberapa kedai di Jakarta sudah memulainya satu tahun belakangan. Lalu baru-baru ini, Starbucks memulainya, dengan meniadakan sedotan plastik, yang ditargetkan pada 2020 nanti serentak di seluruh gerai di dunia. Walaupun ada protes bagi yang berkebutuhan khusus...solusinya sebenarnya lebih mudah, bawa sedotan sendiri yang bisa digunakan berulang-ulang. Kopi bisa kita nikmati juga karena tanah yang kita pijak mendukung kehadirannya. Sebagai penikmat jasa lingkungan, mungkin kita bisa lebih bijak, diawali dengan hal yang paling kecil. Minum tanpa sedotan. Dari lingkungan pula lah, kini terdapat seratusan varietas kopi di dunia. ...