Skip to main content

Posts

Cerita Terbaru

Kata orang itu berbahaya

Satu kalimat bikin ambyar, sampai tak bisa tidur dan tiba-tiba lenyap tak berbekas ketika berhasil tidur lalu terbangun esok hari. Sudah plong dan tidak kepikiran lagi. Kadang manusia memang butuh waktu untuk bisa mencerna segala realita yang terjadi dan konsekuensi yang ditimbulkan.  Waktu yang dibutuhkan untuk memahami bahwa apa yang dipikirkan itu tidak akan pernah terjadi. Mengapa harus memikirkan apa yang tidak akan terjadi dan fokus terhadap probabilitas di luar kendali kita? Belakangan saya berpikir, ada beberapa lagu selama tiga tahun terakhir yang melekat sekali, semacam identitas waktu tertentu lewat sebuah nada. Lagu-lagu yang membangkitkan memori dan mengingat lagi momen manis yang menyelimuti. Lalu terpikir, apakah bisa terperangkap dalam momen itu? Ternyata tidak bisa, kita hanya bisa mengingat tetapi tidak bisa mengulang.  Saya berkata dalam hati, mungkin benar adanya tentang menikmati momen saat ini dengan segala daya yang kita miliki agar ketika mengingat kembali tidak
Recent posts

New York dan realita

Suatu hari saya pernah gagal melanjutkan sekolah di Universitas di New York, sudah kepalang tanggung resign dari tempat kerja. Terdampar ketika musim dingin dan kembali tertampar di realita Jakarta.  Bebeapa mungkin ada yang mencibir, tetapi saya pikir konsekuensi logis karena sudah woro-woro sekolah dan ternyata kembali tanpa gelar karena perkara funding.   Saya punya semacam “Hollywood dream” tentang New York, dicekoki semenjak film Home Alone dan sederet film lainnya yang menyuguhkan sisi gemerlap New York.  Atau buku-buku tentang New York dan meromantisasi kemegahan kota itu.  Itulah saya 10 tahun lalu. Anak muda yang mabuk cinta dengan kota yang digambarkan film-film. Belum berpikir bayar sewa tempat tinggal, makan sehari-hari dan apa yang akan saya lakukan selain jalan-jalan di Time Square dengan panoramic view lalu lari pagi di Central Park?  Saya berpikir begini: “Pokoknya saya harus bisa menetap di sana ketika usia 30an.” Dan lihatlah saya masih di Jakarta, menulis ini sembari

Setelah ini, apa?

Foto di atas adalah seorang kakek yang mengantre oksigen pada Juni 2021.  Puncak kasus Omicron digabung dengan kecemasan bersama yang dialami orang-orang sedunia, jadilah: Breakdown moment.  Thinking back on earlier time when July 2021 marked as the most breakdown moment for me to report about the peak of Omicron cases in Jakarta.  Since March 2020, everything looks hazy. We did everything to keep (or to be) alive.  And that sounds crazy when we remembering what kind of wacky acts we did to minimized the risks.  And I put a trust on hand sanitizer rather than the minister who speaks, because from what we learn trough dark momentum since 2020, I think government has failed in term of communicate with its people eventhough they have all resources to do so.  Every country is on a race to handle this global pandemic, some have done what they were supposed to do, and some of them get a bumpy road, we can (finally) get rid of it, in a time when most of countries except China have

Tulisan terapi terakhir

 Sejak awal tahun hingga bulan ketujuh, tulisan saya di sini semacam menyesap memori yang sudah corrupt dan di-restore kembali menjadi bagian utuh.  Jika sebelumnya adalah puzzle, dengan menulis, saya bisa meraih semua yang sempat terenggut.  Jadi, mungkin ini tulisan ‘terapi’ terakhir. Karena Silvano, atau siapapun pasti akan berevolusi menjadi manusia dalam versi terbaiknya. — I wanna punch myself if I remember stupid things I’ve done before. Seriously.  Tahun ini saya menyadari ada semacam rem…yang entah kenapa bilang dan membisiki saya “Stop…macam kau paling benar saja.” Setiap kalo saya ingin mengungkapkan sesuatu tentang sebuah kejadian yang meresahkan. Beberapa kali saya menghitung kadang lepas kontrol dalam bertindak, menyakiti hati seseorang, memang jahat sekali mulut dan perilaku orang ini. But it’s okay, I will always evolve to be a better men.  Not better than you, but better than I was. And that’s how life must begin with acceptance. Berapa kali saya tak bisa tidur menging

The race of nothing

 I keep in mind when I think I'm on a race, there will be no race.  Mengapa banyak dari kita yang merasa akan lebih baik jika telah 'menaklukkan' suatu hal.  Satu hal yang pasti, saya bukan saingan Anda. I try to do my best and the rest is...having fun.  Idealnya begitu, tapi saya merasa senang jika telah mengalahkan seseorang dan unggul.  Sedetik kemudian, langsung bertanya dalam hati "Mengapa harus berkompetisi?" Dan terus berulang. Semacam afirmasi bahwa saya adalah orang yang lebih baik daripada yang lain.  Kadang berkompetisi seperti sebuah sistem otomatis yang membuat manusia terus berlari, karena sudah otomatis, kadang juga sulit dikontrol.  Dari hal yang sepele sampai yang bisa menentukan hajat hidup orang banyak, semua adalah andil kompetisi.  I hate being in a race since I was a kid. There's two option when I was in school, I can't be the top of the class so I chose to be in the middle. It's good for me because I'm invisible.  But the sys

Harimau terbang

Harimau itu tahu bahwa dia tidak bisa terbang. Dia hanya berucap "Berani saja dahulu, kalau jatuh ya jatuh, yang penting terbang." Nyalinya besar, dia coba segala cara, mengaum begitu keras menggetarkan tanah dan menggoyangkan rerumputan tempat dia berbaring melihat gumpalan awan di langit.  Dia lalu mengambil ancang-ancang untuk berlari dan melompat sejauh-jauhnya, tapi tetap tidak bisa terbang. Hingga akhirnya, dia melihat bekas cakarnya di sebuah pohon.  Dia berdiri dengan dua kaki, meraih bekas cakar paling tinggi. Harimau memanjat pohon itu sampai ujung paling ringkih. Dia memutuskan untuk melompat ke pohon sebelahnya, mengayuh kakinya, dan terbang. "Berani dahulu, lalu terbang kemudian, yang terbang bukankah akan ke tanah lagi karena gravitasi?" Itu kalimat penutup harimau yang kini ketakutan dan cemas untuk terbang, memanjat pohon, dan melompat lagi ke pohon lainnya yang lebih tinggi. 

Mengapa manusia begitu serakah?

Gajah Sumatera mati karena diduga diracun manusia. Why this kind of shit always happen when human tried to do something in selfish way. Begini, coexist memang omong kosong kalau manusianya terlalu egois, egois saja tidak cukup (karena pada waktu tertentu kita juga butuh selfish) lebih tepatnya serakah.  Jadi, hutan dibabat, ya semua juga tahu. Luasannya semakin berkurang bukan karena koloni manusia yang menghuni wilayah itu melainkan pemenuhan kebutuhan manusia dari si pemerah sapi sampai sapi perahnya.  Ok, pemerah sapi itu mereka yang punya modal, sapi perahnya ya kita ini, 250 juta lebih manusia yang hidup di Indonesia dan siap untuk membeli apa saja yang penting puas tanpa peduli asal-usul barang yang kita beli. Pekan ini rekan saya menulis tentang janji manis pengusaha terhadap masyarakat adat yang dijadikan petani plasma sawit, singkat cerita tahu lah siapa yang dirugikan.  Rasa-rasanya ketika melihat ketidakadilan di depan mata, ingin memanggil malaikat untuk meniup terompet san