Skip to main content

Posts

Showing posts from 2022

Kata orang itu berbahaya

Satu kalimat bikin ambyar, sampai tak bisa tidur dan tiba-tiba lenyap tak berbekas ketika berhasil tidur lalu terbangun esok hari. Sudah plong dan tidak kepikiran lagi. Kadang manusia memang butuh waktu untuk bisa mencerna segala realita yang terjadi dan konsekuensi yang ditimbulkan.  Waktu yang dibutuhkan untuk memahami bahwa apa yang dipikirkan itu tidak akan pernah terjadi. Mengapa harus memikirkan apa yang tidak akan terjadi dan fokus terhadap probabilitas di luar kendali kita? Belakangan saya berpikir, ada beberapa lagu selama tiga tahun terakhir yang melekat sekali, semacam identitas waktu tertentu lewat sebuah nada. Lagu-lagu yang membangkitkan memori dan mengingat lagi momen manis yang menyelimuti. Lalu terpikir, apakah bisa terperangkap dalam momen itu? Ternyata tidak bisa, kita hanya bisa mengingat tetapi tidak bisa mengulang.  Saya berkata dalam hati, mungkin benar adanya tentang menikmati momen saat ini dengan segala daya yang kita miliki agar ketika mengingat kembali tidak

New York dan realita

Suatu hari saya pernah gagal melanjutkan sekolah di Universitas di New York, sudah kepalang tanggung resign dari tempat kerja. Terdampar ketika musim dingin dan kembali tertampar di realita Jakarta.  Bebeapa mungkin ada yang mencibir, tetapi saya pikir konsekuensi logis karena sudah woro-woro sekolah dan ternyata kembali tanpa gelar karena perkara funding.   Saya punya semacam “Hollywood dream” tentang New York, dicekoki semenjak film Home Alone dan sederet film lainnya yang menyuguhkan sisi gemerlap New York.  Atau buku-buku tentang New York dan meromantisasi kemegahan kota itu.  Itulah saya 10 tahun lalu. Anak muda yang mabuk cinta dengan kota yang digambarkan film-film. Belum berpikir bayar sewa tempat tinggal, makan sehari-hari dan apa yang akan saya lakukan selain jalan-jalan di Time Square dengan panoramic view lalu lari pagi di Central Park?  Saya berpikir begini: “Pokoknya saya harus bisa menetap di sana ketika usia 30an.” Dan lihatlah saya masih di Jakarta, menulis ini sembari

Setelah ini, apa?

Foto di atas adalah seorang kakek yang mengantre oksigen pada Juni 2021.  Puncak kasus Omicron digabung dengan kecemasan bersama yang dialami orang-orang sedunia, jadilah: Breakdown moment.  Thinking back on earlier time when July 2021 marked as the most breakdown moment for me to report about the peak of Omicron cases in Jakarta.  Since March 2020, everything looks hazy. We did everything to keep (or to be) alive.  And that sounds crazy when we remembering what kind of wacky acts we did to minimized the risks.  And I put a trust on hand sanitizer rather than the minister who speaks, because from what we learn trough dark momentum since 2020, I think government has failed in term of communicate with its people eventhough they have all resources to do so.  Every country is on a race to handle this global pandemic, some have done what they were supposed to do, and some of them get a bumpy road, we can (finally) get rid of it, in a time when most of countries except China have

Tulisan terapi terakhir

 Sejak awal tahun hingga bulan ketujuh, tulisan saya di sini semacam menyesap memori yang sudah corrupt dan di-restore kembali menjadi bagian utuh.  Jika sebelumnya adalah puzzle, dengan menulis, saya bisa meraih semua yang sempat terenggut.  Jadi, mungkin ini tulisan ‘terapi’ terakhir. Karena Silvano, atau siapapun pasti akan berevolusi menjadi manusia dalam versi terbaiknya. — I wanna punch myself if I remember stupid things I’ve done before. Seriously.  Tahun ini saya menyadari ada semacam rem…yang entah kenapa bilang dan membisiki saya “Stop…macam kau paling benar saja.” Setiap kalo saya ingin mengungkapkan sesuatu tentang sebuah kejadian yang meresahkan. Beberapa kali saya menghitung kadang lepas kontrol dalam bertindak, menyakiti hati seseorang, memang jahat sekali mulut dan perilaku orang ini. But it’s okay, I will always evolve to be a better men.  Not better than you, but better than I was. And that’s how life must begin with acceptance. Berapa kali saya tak bisa tidur menging

The race of nothing

 I keep in mind when I think I'm on a race, there will be no race.  Mengapa banyak dari kita yang merasa akan lebih baik jika telah 'menaklukkan' suatu hal.  Satu hal yang pasti, saya bukan saingan Anda. I try to do my best and the rest is...having fun.  Idealnya begitu, tapi saya merasa senang jika telah mengalahkan seseorang dan unggul.  Sedetik kemudian, langsung bertanya dalam hati "Mengapa harus berkompetisi?" Dan terus berulang. Semacam afirmasi bahwa saya adalah orang yang lebih baik daripada yang lain.  Kadang berkompetisi seperti sebuah sistem otomatis yang membuat manusia terus berlari, karena sudah otomatis, kadang juga sulit dikontrol.  Dari hal yang sepele sampai yang bisa menentukan hajat hidup orang banyak, semua adalah andil kompetisi.  I hate being in a race since I was a kid. There's two option when I was in school, I can't be the top of the class so I chose to be in the middle. It's good for me because I'm invisible.  But the sys

Harimau terbang

Harimau itu tahu bahwa dia tidak bisa terbang. Dia hanya berucap "Berani saja dahulu, kalau jatuh ya jatuh, yang penting terbang." Nyalinya besar, dia coba segala cara, mengaum begitu keras menggetarkan tanah dan menggoyangkan rerumputan tempat dia berbaring melihat gumpalan awan di langit.  Dia lalu mengambil ancang-ancang untuk berlari dan melompat sejauh-jauhnya, tapi tetap tidak bisa terbang. Hingga akhirnya, dia melihat bekas cakarnya di sebuah pohon.  Dia berdiri dengan dua kaki, meraih bekas cakar paling tinggi. Harimau memanjat pohon itu sampai ujung paling ringkih. Dia memutuskan untuk melompat ke pohon sebelahnya, mengayuh kakinya, dan terbang. "Berani dahulu, lalu terbang kemudian, yang terbang bukankah akan ke tanah lagi karena gravitasi?" Itu kalimat penutup harimau yang kini ketakutan dan cemas untuk terbang, memanjat pohon, dan melompat lagi ke pohon lainnya yang lebih tinggi. 

Mengapa manusia begitu serakah?

Gajah Sumatera mati karena diduga diracun manusia. Why this kind of shit always happen when human tried to do something in selfish way. Begini, coexist memang omong kosong kalau manusianya terlalu egois, egois saja tidak cukup (karena pada waktu tertentu kita juga butuh selfish) lebih tepatnya serakah.  Jadi, hutan dibabat, ya semua juga tahu. Luasannya semakin berkurang bukan karena koloni manusia yang menghuni wilayah itu melainkan pemenuhan kebutuhan manusia dari si pemerah sapi sampai sapi perahnya.  Ok, pemerah sapi itu mereka yang punya modal, sapi perahnya ya kita ini, 250 juta lebih manusia yang hidup di Indonesia dan siap untuk membeli apa saja yang penting puas tanpa peduli asal-usul barang yang kita beli. Pekan ini rekan saya menulis tentang janji manis pengusaha terhadap masyarakat adat yang dijadikan petani plasma sawit, singkat cerita tahu lah siapa yang dirugikan.  Rasa-rasanya ketika melihat ketidakadilan di depan mata, ingin memanggil malaikat untuk meniup terompet san

Pendosa dan malam seribu bulan

 Pendosa semacam diriku mana mungkin mendapatkan malam spesial itu yang konon hanya untuk orang suci tanpa dosa. Ya kalau dipikir lagi, setiap manusia yang lahir di dunia ini sudah punya dosa.  Eh tunggu, bayi kan tidak berdosa? Ketika dia bernafas, karbon yang ia hasilkan sudah mengotori Bumi meski perbandingannya hanya nol koma sekian embusan untuk Bumi. Dosa terhadap Bumi meski sulit untuk dihitung.  Adakah manusia yang tidak berdosa?  Jadi ya tidak ada orang yang benar-benar tidak berdosa.  Dosa lainnya adalah melakukan tindakan yang dilarang agama, yang juga sering manusia lakukan. Atau dosa karena polah manusia yang terlalu sakti mandraguna merasa lebih dari yang lainnya sehingga bikin sengsara orang banyak? Ada juga kan dosa seperti itu.  Tentu yang menimbang bukan manusia, tapi Tuhan. Saya pernah berpikir, otak kita terbatas untuk memikirkan bagaimana awal kehidupan ini dibentuk, sehingga Tuhan itu ‘eksis’.  Tangan kita memang bisa mengubah pasir jadi cermin, tapi… Apakah bisa

Mungkin nanti, bukan di realitas ini

Atau tempat dan waktu lain di dalam dimensi antah-berantah.  Aku tahu kau inginkan diriku, tapi maaf aku tak bisa.  Kita tidak bersua juga tak akan merugi. Simpan juga rindumu, atau mungkin enyahkanlah, karena itu tidak berguna, isi kepalaku sudah penuh, tak ada ruang untukmu. Maaf. Lewat apa yang terjadi, semua tidak akan pernah sama. Ya memang sebaiknya begitu bukan? 

Hidup dalam tiga fase

Saya berpikir hidup seseorang itu perkara kemarin, sekarang dan besok.  Selalu begitu.  Tiga penanda waktu yang dipisahkan rotasi Bumi. Atau mungkin…ditandai dengan tidurnya seseorang. Berulang hingga titik jenuh seseorang dalam berbagai perkara kehidupan. Dan dari pengulangan itu, saya menjadi orang yang benar-benar baru ketika terbagun dari tidur.  Momen bangun tidur pada 2022 jika dibandingkan dengan 2008 lalu jelas berbeda.  Kapal yang sama dengan rute yang sama tetapi penumpangnya berbeda.  Dan jika saya yang terbangun pada 2008 lalu berbicara dengan saya yang terbangun pada 2022, yang kemudian saya pertemukan, bertumbukan di kepala, dia akan bilang “You’re someone I want, you did a great job, you’ve walked in the right path.” Dan mungkin saya yang terbangun pada 2022 akan bilang, “Saya tidak menyangka bisa seperti ini.” Lalu di belakang muncul saya yang terbangun versi tahun-tahun sebelumnya. Bersorak, merayakan apa yang telah saya lalui selama ini. Mungkin sebagian tidak suka, k

Serangkai bunga tanda cinta

Rekan sekantor saya tiba-tiba dikirimi bunga. Fansnya memang banyak karena dia pintar dan super dalam segala hal, suaranya kecil tapi keras, cara berjalannya lembut tapi gunung berkabut pun dia gapai, siapa saja pasti kagum dibuatnya.  Dia sih bilangnya: “Ini aku kirim sendiri bunga kepada diriku.” Seandainya pun dia benar mengirim bunga untuk dirinya sendiri, saya pikir itu adalah bentuk kecintaan terhadap dirinya. Suatu hal yang jarang sekali saya lihat. Seperti cerita ibu. Seorang pria tampan idola para gadis dan ibu muda di daerah itu, mendorong vespanya sampai ujung jalan demi ketemu ibu dan memberikan rangkaian bunga tanda cintanya terhadap ibuku. Sayangnya foto pernikahan mereka sudah dibakar setelah bercerai, tapi kisah manis itu masih membekas di hati ibu, bahwa bapak saya yang selama ini jauh sekali, punya sisi romantis yang jarang dimiliki pria tampan pada zamannya. Serangkai bunga tanda cinta, yang kemudian layu dan mengering jika didiamkan. Bukan berarti cintanya juga ikut

Meluncur mengenang bapak

8 April 2022 Hari ini meminta izin (awalnya) masuk setengah hari lanjut kerja sore. Karena saya perhitungkan melanjutkan pekerjaan adalah distraksi yang baik atas kedukaan, tapi tetap tak bisa. Pagi hari saya mendapat kabar, bapak meninggal. Memang darahnya tak mengalir di dalam tubuh saya, tetapi dia yang menyiapkan saya menjadi petarung hebat di ring tinju bernama; Kenyataan. Berduka itu butuh energi yang luar biasa besar. Seharian menangis tak berkesudahan. Semua makanan terasa hambar.  Rasanya sakit sekali tidak ada kesempatan untuk berpamitan. Akumulasi dari rasa kecewa dan sedih, membuat saya lemas seharian.  9 April 2022 Keesokan harinya, Energi saya sudah terkumpul untuk mengungkapkan kedukaan di media sosial. Sebenarnya tidak ingin begitu, tetapi ketika orang  di sekitar saya tahu bahwa bapak saya meninggal, ya rasanya satu hal mengganjal sudah hilang.  I was thinking “Oh, begini ya, meski nggak kenal mereka tetap mendoakan bapak.” Empati itu dimiliki kebanyakan orang di sekit

A simple life: Can you wondering in silence?

I just want to have my morning coffee, sit quietly on my balcony, hear city noises, prepare my work at home, think about what for lunch, should I order gofood, or I cook by myself? I set my playlist on YouTube music for morning tune, prepare breakfast and ready for work. Quite simple and easy. Trying use the best of my working hour with some dips and pull ups, finished my work on time and having me-time to do nothing.  But somehow society thinks it is not common.  I’ve tried new things, having live version of my favorite movies, living like in the movie, but some people said, they were there, It’s what they did like 10 years a go, means, I’m late for 10 years. Well, I don’t have privilege like they have when I was younger.  Wait, I burn incense to boost my mood, giving good ambience for my room so I can be more productive.  Some asked me at my relative’s wedding “When will you propose someone, you’re old enough.” then I answered, “I don’t need that, living together (kumpul kebo) is a b

Ternak manusia

  Dalam perjalanan dan masih di kereta, kembali membaca Animal Farm dan rasanya sama, emosional terhadap Napoleon, kadang merasa kasihan dengan Snowball, tapi lebih kasihan lagi dengan Boxer.  Napoleon dan Snowball yang anti manusia bisa-bisanya berlagak bak manusia, inkonsistensi perilaku mereka tertuang dalam banyak babak.  Sebagai catatan, mungkin satire dalam Animal Farm meski dikemas ala distopia, bisa jadi sepercik latar belakang invasi Rusia ke Ukraina. Antara romantisasi masa lalu atau mungkin mengulang sejarah hidup manusia yang penuh intrik, itu semua soal kuat atau tidak kuat berpolitik.  Kompleksitas Uni Soviet digambarkan lewat karakter hewan dalam 10 babak sederhana dan semua orang yang membacanya pasti langsung bisa berimajinasi. Terpenting, buku yang ditulis George Orwell sebagai bentuk satire atas totaliterisme Uni Soviet pada masa Perang Dunia II, rasa-kalau dipikir merefleksikan polah manusia dan kuasanya dari zaman ke zaman hingga kini. Dan mungkin kita bisa bilang,

Gravitasi

  Gravitasi tidak membuatku ke mana-mana. Membuatmu berat, teramat berat. Bahkan kau tidak dapat melayang, terombang-ambing di angkasa. Membuatmu bingung karena butuh gerak dan waktu agar tercipta sebuah momentum yang membuatmu berpikir dirimu bisa ke mana-mana. Gravitasi membuatmu jatuh dan tidak dapat menerka langkah selanjutnya.  Tanpa gerak, kau hanya seonggok daging yang tak berdaya. Pasrah dengan gravitasi yang membuatmu tetap di satu titik. Tidak ada yang menolongmu selain dirimu. Kau tahu itu kan? Aku yang terobsesi dengan fisika mungkin saja baru sadar bahwa selama ini aku tertipu. Bahwa aku sendiri yang mampu membuat gravitasi berpihak kepadaku ketika aku mampu bergerak. Bertolak dari tanah tempat berpijak, berpeluh dengan keringat sendiri, berdaya dengan segala energi yang aku punya. Apakah akan melelahkan untuk bergerak begitu jauh dari titik pijakan pertama? Sungguh berat rasanya. Seberat membawa beban badan ini. Namun lebih berat menerka gerakan apa yang bisa terjadi, tan

Kejar-kejaran hidup dan mati

Bagaimana jika setelah kematian tidak ada alam lain? Yang ada hanya kehampaan. Kita hilang begitu saja tanpa ada kesadaran, termakan gelap dan kehampaan.  Bagaimana jika tidak ada surga dan neraka? Tidak ada jalan lainnya setelah kematian, eksistensi kita yang dibangun dengan kesadaran penuh ya sudah lenyap begitu saja. Ada suatu waktu ketika bermimpi yang membuat bulu kuduk merinding, sampai terbangun, keringat mengucur deras. Di dalam mimpi itu saya merasa kecil sekali, di antara kehampaan ruang, mempertanyakan siapa saya, berulang-ulang. Saya entitas nihil di sebuah dimensi tanpa batas ruang dan waktu.  Dalam mode terjaga itulah saya akhirnya berpikir. Bagaimana jika setiap hari kita sebenarnya sudah mati? Dan bangun kembali menjadi sosok yang baru pada hari berikutnya. Atau… Bagaimana jika diri kita yang kemarin sejatinya adalah entitas yang berbeda dengan diri kita saat ini? Setiap hari kita mati dan bangun lagi, atau setiap hari kita mereplikasi diri hingga mungkin menjadi 20 rib

Overthinking: Prince Rupert’s drop

Kepalanya kuat sampai-sampai palu saja tak berani menggores ‘tetesan’ kaca cair yang mengeras, tetapi jika bagian ekornya dipatahkan, kaca yang katanya kuat itu hancur menjadi serpihan kecil.  It’s trick from royal family to another royal family back in 17th century, some kind of riddle that physic-worthy to be solved in modern age. Saya tidak akan membahas fisika. Mungkin semacam refleksi diri, bahwa manusia pada dasarnya kuat dan lemah sekaligus, bisa hancur, remuk dan luruh. Begitupun dunia ini yang dihuni enam miliar jiwa, dengan peradaban yang relatif lebih muda ketimbang leluhur kita. Umur Indonesia merdeka tak lebih tua dari Majapahit, sejarah perang dunia pertama dan kedua masih segar dalam semua buku yang membahasnya meski sudah lewat seabad, kita dan peradaban modern saat ini ringkih seperti halnya ekor Prince Rupert’s drop. Ketika membaca kembali sejarah PD I, kompleksitas di dalamnya, negara mana saja yang terlibat, bahwa Penembakan Franz Ferdinand menjadi pemicu utama PD I

Raksasa dan Istana Ular (2)

Seingatku, setelah setengah hutan rawa terbakar bapak membawaku ke rumah kerabatnya.  Aku dititipkan di sana untuk sementara waktu. Mereka keluarga bahagia, punya kasur terempuk sehingga aku betah tidur di sana sepanjang waktu. Sepekan awal, semua baik-baik saja. Sampai pada waktu diriku yang masih kecil itu, membuka tudung saji di meja makan. Menemukan abon sapi kesukaanku, lalu ku makan.  Bude dengan sangat marah melihat adegan itu dan dengan beringas memukul punggungku dengan benda keras. Rasanya sakit sekali.  Aku masih ingat sakitnya, karena sempat luka. Luka yang menimbulkan bekas kehitaman di punggungku hingga dewasa.  Pemukulan itu dilakukan terus-menerus, kadang dia atau bahkan pembantunya. Seminggu bisa tiga hingga empat kali, tergantung kadar kepatuhanku kepada mereka. Dan aku tidak pernah mengadu kepada bapak atau siapapun, karena kala itu, menurutku adalah sebuah kewajaran untuk menghukum seseorang agar lebih patuh. Seperti yang bapak lakukan kepada ibu.  Hingg

Raksasa dan Istana Ular

Aku tidak yakin Raksasa adalah teman khayalan, bahkan ketika aku beranjak dewasa, raksasa terasa nyata dalam benak ini. Baru kali ini aku bisa menumpahkan semua cerita yang ibuku pun tidak tahu. Sampai detik ini aku masih mencari Raksasa di setiap pasar malam yang kini makin langka. Masalahnya, Google saja tidak bisa menemukan Raksasa, apalagi aku yang clueless ini. Pertemuan pertama kali dengannya saat ada pasar malam di dekat rumah. Dia tiba-tiba datang melewatiku.  Aku terkejut, ada sosok yang begitu besar hingga leherku terasa pegal karena mendongakkan kepala terlalu lama dan yang kulihat hanya dagu bulatnya. Dia menoleh ke arah ku, membungkuk, lalu bertanya. "Apa masalah mu?" Bukannya takut, aku malah menantangnya. "Tidak ada." Jawabku sambil bertolak pinggang. Dia tertawa. Aku ingat betul pertemuan itu, dalam waktu setengah jam, kami langsung akrab.  Sejak itu Raksasa menjadi sahabatku, menemaniku berpetualang.  Namun, hari kelabu tiba. Bapak dan ibu bercerai.

I wanna scream

Nenek saya meninggal pagi ini. Dia di UGD selama 24 jam setelah seseorang datang ke rumahnya sambil batuk keras. Saya menimbang bagaimana bisa datang setidaknya ke pemakamannya. Tentu tidak bisa. Nenek dikubur dengan protokol ketat untuk pasien Covid-19.  Saya marah hingga ingin teriak membayangkan nenek batuk tidak bisa tidur, badannya lemas, dia bilang terasa dingin dan kemudian pingsan.  Saya nggak tega membayangkan detik terakhir sebelum meninggal, dia di ruang isolasi, berjuang.  Awalnya saya putuskan buat pulang ke rumah almarhum secepatnya mengejar pemakaman. Ternyata pemakaman dilakukan tiga jam setelah dia bernapas untuk terakhir kalinya. Akhirnya saya disarankan ibu untuk pesan tiket kereta Jumat ini. Kantor tempat saya bekerja memberikan waktu untuk berduka, tapi daripada saya berduam menunggu keberangkatan, saya putuskan untuk kerja.  Ketika bekerja, ada kata-kata di kepala: Saatnya untuk fokus dan lupakan rasa duka ini. Iya lupa dalam beberapa jam. Dan ketika sudah kembali

Melamun tentang lautan

  Dia manusia di bawah air, apakah bisa menapak tanah?Atau aku harus ke air untuk menyelam bersamamu? Manusia mengirim ‘matanya’ menembus atmosfer agar bisa melihat benda bercahaya yang acap kali mengusik rasa ingin tahunya kepada semesta. Konsep itu berawal ketika ingin melihat apa yang terjadi di bawah permukaan laut.  Dari atas permukaan laut, benda hidup di dalamnya tak pernah bisa terlihat dengan jelas sampai seseorang harus berenang menembus permukaan laut agar semua nampak lebih detil.  Jadi, tanyakan kepada dirimu, apakah kau siap mengarungi lautan luas ini denganku?  Sembari menunggumu, mungkin aku akan terus melamun di bibir pantai. Aku persiapkan diri, agar aku juga bisa menerimamu.  Kita berdua tidak akan terkalahkan.  *Tulisan ini akan ada dalam seri Porta

Menyerah kepada robusta

Jadi pilhannya begini, mau seduhan kopi robusta, atau dengan gula? Dan saya selalu memesan kopi pahit tanpa gula di perhentian dalam perjalanan lintas Sumatera. Bukan karena kafeinnya, tapi pahitnya kopi begitu menyegarkan tenggorokan. Semacam mengembalikan mood ke titik netral di tengah tantrum bosan di jalan. Di tengah energi yang tak tersalurkan akibat terlalu banyak makan gula. Separuh bagian Sumatera yang saya singgahi lekat dengan kebudayaan Melayu, kopinya pun terpengaruh gaya Kopi O yang seringnya menggunakan kopi robusta untuk disajikan.  Namun, ketika sudah menjauh dari kota, apalagi kalau bukan kopi sasetan yang terimakasih Tuhan masih ada varian tanpa gulanya.  Perhentian selanjutnya adalah tempat rehat di jalan tol, ketika satu mini market menyediakan americano dingin dengan biji kopi arabica seharga 50% lebih murah dari sbux tapi rasanya boleh diadu, jauh lebih enak.  Balik lagi ke robusta yang sangat meletup itu, ternyata kau sungguh rupawan, selama ini aku melupakanmu,

Manusia rusak

When you always have a thought you'll never be the person you want to be because of your past, a bitter memories since your brain capable to memorize every fragments of your life. Saya merasa selalu menjadi manusia rusak, benda yang tak utuh dan tidak berfungsi selayaknya sosok yang saya inginkan. Yes I do have control with everything I want. Satu hal yang tidak bisa diubah dalam hidup adalah masa lalu ketika saya dilahirkan.  Pernah dengar istilah barang rusak yang akhirnya teronggok tidak berguna? Atau barang rusak yang masih bisa digunakan tetapi tidak pernah bisa kembali lagi seperti barang baru? Itu yang saya rasakan sejak kecil. Disiksa oleh keluarga terdekat, dianggap anak tak berbapak dan beribu, dikucilkan karena tidak seperti anak-anak lain dan tidak ada yang peduli tentang eksistensi saya sebagai seorang manusia. Since then, I try harder to be happy.  I have to say, it's not easy to share your pain in public space like this, but I think I should. Desember 2021 merupa

Kisah Terbenamnya Matahari

Pembicaraan antara manusia tak tahu diri dan Matahari.  Manusia tak tahu diri: Kami saling berpandang dan menikmati momentum sekelebat. Neuron menerima sinyal di otak, mencoba menyimpulkan bahwa semburat tipis itu adalah hal terindah dalam hidupku.  Aku kagum dengannya, dengan cara dia melihat Bumi dari kejauhan.  Dengan begitu dia tidak menyiksa, toh dia hanya memberi sepercik hangatnya.  Dia boleh saja menjadi milik semua orang, tetapi apakah dengan begitu aku bisa memilikinya juga? Tanpa sinarnya, tumbuh jamur di cangkir bekas kopi yang sudah ditinggalkan seminggu.  Tahukah apa yang paling menyiksa? Tidak bisa tidur dan menanti kehadiran dirimu secepatnya! Agar aku bisa mencuci cangkir bekas kopi yang berjamur itu dan menyambutmu. Namun, sepertinya aku, bagimu, adalah jamur busuk yang tak pantas mendapat sinarmu.  Apakah tidak pernah sedikitpun kau mengagumi diriku? Bahwa tanpa sinarmu, aku bisa bertumbuh. Tanpa keberadaanmu aku bisa menghentakkan listrik di antara neuron di dalam k

What’s your purpose of life?

We just a micron sized of dust in this universe, our existence is only a blink in a history of Earth creation and our life is a next stop for million stops of  human civilization. Jika bisa memetik sedikit dari pemikiran para absurdist, yang memang tujuan hidup manusia adalah absurd mengejar sesuatu atas dasar apa yang ia rasakan, roman-romannya penting juga bahwa jalan hidup manusia itu absurd banget. So what is your purpose of life? To die? Or to have your own role in this-you never know how big is your universe-? Lho kok tanya saya, ya mana saya tahu? My thought, tapi begini, saya nggak pernah tahu apa yang jiwa dan badan ini inginkan, hanya saja kebutuhan keduanya kadang saling berlawanan. Apa istilahnya kalau bukan absurd.  Ada pula yang bilang absurd is a thing when you have nothing in a society. You didn’t obey your society and you think it’s the best way to avoiding conflict in your mind: Happy but society seems didn’t see as happiness or vice versa.  Bullshit. Life in absurd w