Skip to main content

Kisah Terbenamnya Matahari


Pembicaraan antara manusia tak tahu diri dan Matahari. 

Manusia tak tahu diri:

Kami saling berpandang dan menikmati momentum sekelebat.

Neuron menerima sinyal di otak, mencoba menyimpulkan bahwa semburat tipis itu adalah hal terindah dalam hidupku. 

Aku kagum dengannya, dengan cara dia melihat Bumi dari kejauhan. 

Dengan begitu dia tidak menyiksa, toh dia hanya memberi sepercik hangatnya. 

Dia boleh saja menjadi milik semua orang, tetapi apakah dengan begitu aku bisa memilikinya juga?

Tanpa sinarnya, tumbuh jamur di cangkir bekas kopi yang sudah ditinggalkan seminggu. 

Tahukah apa yang paling menyiksa? Tidak bisa tidur dan menanti kehadiran dirimu secepatnya! Agar aku bisa mencuci cangkir bekas kopi yang berjamur itu dan menyambutmu. Namun, sepertinya aku, bagimu, adalah jamur busuk yang tak pantas mendapat sinarmu. 

Apakah tidak pernah sedikitpun kau mengagumi diriku? Bahwa tanpa sinarmu, aku bisa bertumbuh.

Tanpa keberadaanmu aku bisa menghentakkan listrik di antara neuron di dalam kepalaku dan mulai memimpikanmu meraba Bumi esok harinya. 

Tapi kau memaksa untuk terus terbenam setiap kali aku mulai menikmati dirimu. 

Atau kau takut akan ketidakberdayaan dirimu melihat aku yang ternyata bisa menantangmu?

Mengapa kau berpasrah kepada Bumi yang sudah pasti mengitarimu? Mengapa kau datang dan menghilang setiap hari?

Berkali-kali aku memberikan petunjuk agar kau memilihku, membagi jilatan api di bola berpijar yang jaraknya hanya sejengkal semesta dari Bumi. 

Atau kau takut tidak dapat lagi bertemu sebelum terbenam? 

Matahari:

Aku akan datang menemuimu, memanglah aku berserah dengan rotasi bumi, aku tahu dia mengitariku, apa yang kau inginkan?

Aku hanya ingin berjumpa pada saat yang tepat, supaya aku bisa melihat dirimu dari miliaran pasang mata yang tak henti-hentinya mengeluh bahwa diriku lah penyebab semua kekacauan di Bumi. Padahal mereka sendiri yang berulah. 

Tahukah kau, semua bertumbuh karena apa yang kubagi? Termasuk dirimu.

Aku kagum kepadamu, insan yang selalu datang saat bumi yang kau pijak itu mulai membelakangiku. 

Aku kagum sampai tak berani benar-benar melihatmu. Aku hanya takut ada kiamat di antara kita. Ketika semua itu terjadi, maka momentum yang selalu kau tunggu itu, mungkin tidak akan pernah terjadi lagi. 

Nikmatilah pertemuan kita, meski aku tidak bisa menyentuhmu, bukan berarti aku tidak bisa melihatmu. Sejengkal semesta bagiku sudah cukup adil, agar semburat jingga yang selalu kau dambakan, bisa selalu kau abadikan di dalam benakmu. 

Pahit rasanya harus berbagi dengan Bulan. Aku bisa menggerusnya dengan mudah jika saja aku punya kuasa lebih dekat lagi dengan dirimu. 

Kau pasti tahu jika itu terjadi, bukan dirimu saja yang hancur. Mungkin kejadian itu bak gigitan semut di Galaksi Bima Sakti, tapi bagi kita, itu akan jadi masalah serius. Jadi sebaiknya, aku harus menerima keadaan ini.

Manusia tak tahu diri:

Bisakah kau terus berwarna senja? Atau setidaknya kita punya waktu lebih lama untuk berjumpa? 

Matahari:

Jika saja bisa kulakukan. Aku membuat seisi bumi bertumbuh, apakah itu kurang bagimu?

Atau kau benar-benar ingin tahu bagaimana nasib Neptunus yang sulit sekali ku tembus? Mungkin saja kau tidak tahu panasnya Merkurius dan Venus ketika aku terlalu dekat dengan mereka. 

Manusia tak tahu diri:

Ya mungkin dalam dunia paralel, aku adalah Neptunus itu, jauh dari jangkauanmu, lebih baik begitu bukan? Daripada aku, makhluk Bumi yang kau buat hampir gila dengan segala hukum alam ini. 

Matahari:

Tolonglah, aku tidak ingin kau menjadi Neptunus. Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa selain semburat jingga yang mungkin biasnya bisa berbeda setiap hari. Aku bisa membuat berbagai macam variasi. Spektrum warna yang kusuguhkan masih kurang kah?

Manusia tak tahu diri:

Iya, andai saja kau manusia. Mungkin kita bisa duduk bersama. 

Matahari:

Mungkin, kita bisa bersama dalam kehidupan selanjutnya. Atau di ruang mimpimu yang selalu bisa menentang hukum alam. 

Manusia tak tahu diri:

Semoga. 




Comments

Popular posts from this blog

Apakah masih ada senyum terselip di balik masker kain Anda?

Sesudah virus corona, lalu apa? I've asked this question over and over again inside my head. What if we never get back to our ordinary life before pandemic? Karena makin lama, lingkungan di luar sana seperti planet lain bagi saya.  Setiap minggu level stres naik, bukan saya sendiri yang mengalaminya, tapi semua orang. Jika pada pekan lalu mereka yang saya temui di jalan masih enak diajak ngobrol, kali ini, semua menatap bak kriminal. Saya menghabiskan waktu di rumah sekaligus bekerja. Dalam seminggu, hanya sekali keluar untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Sehari sebelum ramadan, saya meliput masjid dekat rumah. Awalnya semua baik-baik saja, saya sapa marbot dan dia mengizinkan saya meliputnya. Cerita yang ingin sekali saya dengar adalah para marbot yang nelangsa kala ramadan. Jika tahun lalu jamaah salat tarawih berbaris-baris hingga menyesakkan seisi masjid, kini ibadah itu ditiadakan.  Gerbang depan masjid dalam keadaan terkunci, kain penutup dipasang di teras masjid

Jalan Raya Tertinggi di Indonesia 3600 MDPL (2)

Kalau dipikir, kemiringan jalannya sampai 60 derajat, saya sudah cemas, karena setelah tanjakan langsung tikungan, lalu turun curam dan berbelok di jalan yang mulai berlumpur. Apalagi yang bisa saya lakukan selain tertawa. Menertawakan hidup saya, yang jauh-jauh datang ke Papua hanya untuk menyetor nyawa. Saat itu, Trans Papua sedang dibangun. Cerita yang saya dengar, awalnya saat pembukaan jalur, TNI lah yang bergerak. Beberapa titik masih rawan. Kami sama-sama berdoa sambil bercanda di mobil. Wabah misterius itu merenggut puluhan nyawa anak-anak di Distrik Mbua. Media daring yang bagai kilat melaporkan 50an anak mati. Terlebih, saat itu sedang ramai pembicaraan tentang ebola. Persiapan kami menghadapi itu semua adalah: mengucap basmalah. Keselamatan memang jadi faktor utama. Kebutuhan logistik sudah tersedia, peralatan medis dasar juga sudah ada. Takdir membawa kami ke Distrik Mbua, untuk membukakan mata, siapapun yang ada di Jakarta. Saat mobil tiba di jalan keci

Jalan Raya Tertinggi di Indonesia 3600 MDPL (1)

Dua tahun lalu, pergi ke Papua itu sangat mahal, bahkan lebih mahal ketimbang berlibur ke Jepang. Kalau bukan karena penugasan dari rapat redaksional, saya tak mungkin bisa ke sana. Saat itu saya mengejar cerita tentang kematian misterius puluhan anak di Distrik Mbua, Kabupaten Nduga. Saya masih ingat, penerbangan dari Jakarta, transit dahulu di Makassar, berlanjut menuju Manokwari, kemudian Jayapura, dan akhirnya tiba di Wamena. Bandaranya kala itu masih tradisional. Saya gambarkan seperti terminal bus era 90an. Tapi sekarang bandara yang baru sudah dibuka, setaraf dengan bandara-bandara di tempat saya dan tim, transit sebelum sampai Wamena. Pak Nico, driver kami menjemput dengan mobil yang memiliki spesifikasi tangguh di medan pegunungan. Kami mengisi bahan bakar dahulu. 20 liter bensin, seharga 2 juta rupiah. Saya dan kedua rekan langsung terkejut. Pegunungan di sekeliling menyembul, pamer keindahan. Saya tanyakan kepadanya, apakah dia bahagia tinggal d