Skip to main content

Raksasa dan Istana Ular (2)



Seingatku, setelah setengah hutan rawa terbakar bapak membawaku ke rumah kerabatnya. 

Aku dititipkan di sana untuk sementara waktu. Mereka keluarga bahagia, punya kasur terempuk sehingga aku betah tidur di sana sepanjang waktu.

Sepekan awal, semua baik-baik saja. Sampai pada waktu diriku yang masih kecil itu, membuka tudung saji di meja makan. Menemukan abon sapi kesukaanku, lalu ku makan. 

Bude dengan sangat marah melihat adegan itu dan dengan beringas memukul punggungku dengan benda keras. Rasanya sakit sekali. 

Aku masih ingat sakitnya, karena sempat luka. Luka yang menimbulkan bekas kehitaman di punggungku hingga dewasa. 

Pemukulan itu dilakukan terus-menerus, kadang dia atau bahkan pembantunya. Seminggu bisa tiga hingga empat kali, tergantung kadar kepatuhanku kepada mereka.

Dan aku tidak pernah mengadu kepada bapak atau siapapun, karena kala itu, menurutku adalah sebuah kewajaran untuk menghukum seseorang agar lebih patuh. Seperti yang bapak lakukan kepada ibu. 

Hingga suatu pagi bapak datang. Menjemputku lalu pergi ke rumah kerabat lainnya. Dia menitipkanku kepada seseorang yang begitu terobsesi ingin membuat anak kurus seperti diriku segemuk babi ternak yang siap disembelih.

Ada kalanya saat aku kekenyangan dan dia masih menyuapiku dengan porsi orang dewasa dalam satu sendok, dia lalu menekan sendok itu Sepenuh tenaga agar mulutku terbuka, seperti mencongkel cangkang tiram.

Hasilnya,  bibirku sering berdarah. Kadang saking kesalnya karena aku tidak menghabiskan makanan, dia memukulkan sendok ke  daguku hingga berbekaslah satu sayatan di dagu.


Aku pikir-pikir lagi setelah dewasa dan mengingat kejadian itu, serba salah juga, mau makan salah mau tidak makan tambah salah lagi.

Makan itu seharusnya menjadi hal ternikmat di dunia, selain kentut dan sendawa.

Oh satu lagi, tidur.

Itu semua kuceritakan kepada Raksasa. Kami sudah sepantaran sekarang dan dia melihat banyak sekali perubahan. 

Aku tidak mendustakan kopi yang kuteguk pelan-pelan saat suhu air panasnya sudah mencapai tingkat kenikmatan ketika menempel di lidah.

Begitupun dengan Raksasa. Kami saling pandang.  “Apa yang membuatmu begitu berbeda dengan dirimu terdahulu?”

“Aku menemukan diriku dalam pekerjaan yang aku geluti, apakah menurutmu ini aneh?”

“Tidak, selama ini bukankah kau selalu mencari tahu apa guna dirimu itu di dalam kehidupan ini?”

“Iya, itu salah satunya, lebih dari itu, dari ribuan orang yang kutemui, mereka…melatihku menjadi orang yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.”

“Kau yang melatih dirimu sebenarnya.” Sambar Raksasa.

Dia menambahkan, ketika dirinya tidak ada, bukan berarti dia tidak peduli terhadapku.

"Dari kesendirianmu sejak kecil, apakah kau tahu, selalu ada diriku di dalam dirimu?" 

"Dari kesedihanmu yang tak berkesudahan, rasa sakitmu yang tak kunjung usai, kau dan aku yang merasakan semua itu."

Aku membalas ucapan Raksasa dengan mengangguk dan berkata kepadanya, "Kadang, ketika aku meledak, aku tahu itu adalah dirimu Raksasa, aku sangat mengenal dirimu." 

"Kau hanya butuh kontrol, toh kita berjumpa kembali kan?" Kata Raksasa.

"Maksudmu?" Aku tidak mengerti apa yang ada di benak Raksasa.

"Aku mendengar setiap sesi konseling mu dalam memahami kemarahan yang sering kau luapkan, aku dengar semua itu, karena aku adalah dirimu juga. Setiap orang punya raksasanya masing-masing, dan aku adalah Raksasa yang kau miliki." Jelas Raksasa.

Dari ujung meja, seorang pelayan kedai menghampiriku. "Mas mau tambah lagi americanonya?"

Lamunanku buyar sudah. "Oh sudah, ini sudah gelas kelima, sebentar lagi saya pulang." Aku menjelaskan sambil menyodorkan gelas kosong ke pelayan itu. 

Ketika raksasa di dalam dirimu sudah menyatu dan menguatkan dirimu, maka kau akan meminta keadilan, menuntutnya hingga kau menang, entah dalam hal yang paling remeh, hingga mempertaruhkan hajat hidup orang banyak.

Di dalam kepala ku, kini ada tiga sosok yang sering tidak akur. Si lemah, raksasa dan si pemikir. Mereka seringnya ingin mendominasi segala tindakan yang akan aku lakukan.

Dan ketika aku bisa mengendalikan mereka, aku bisa menjadi sebenar-benarnya manusia.

Bagaimana caraku mengendalikan mereka yang selalu ribut di kepala?

Butuh 10 tahun pencarian. Mencari diriku yang hilang. Seorang anak yang hilang, memedam dirinya hingga si lemah muncul mengambil alih semuanya. 

Lalu diriku yang terpendam itu melanjutkan kelana di dalam kepala bersama si pemikir dan raksasa.

Kami bertiga kadang membantu si lemah memperbaiki keadaan. 

Tapi seringnya, si lemah menolak dan justru menikmati penderitaan yang ia alami.

Seperinya aku pantas mendapatkan segala hukuman di dunia ini.

"Derita itu adalah kenikmatan." Tambahnya. 

"Bahagiamu itu tidak akan meletup jika tak ada derita." Dari sudut sana si lemah datang. 

"Iya derita yang kau simpan dalam benakmu, Raksasa sampai kalap membangun tembok tebal dan tinggi agar memori itu tidak terlihat." Si pemikir menyanggah perkataan si lemah.

"Meledaknya Nantang tidak akan terjadi jika kau bisa mengendalikan Raksasa." Si lemah mencoba untuk berdebat.

"Wow hebat, kini kau sudah berani melawanku, apakah Raksasa ada di dalam sana?" 

Bagaimana bisa Raksasa berada di dalam si lemah?

Aku coba berdialog dengan mereka, yang kudapat hanya berisik di kepala. 

Tak ada cara lain, aku menghardik mereka. “Kalian ada di dalam diriku, bisakah kalian bersama?”

“Bisakah kalian akur?”

“Aku yakin kalian semua setengah kosong, masing-masing bisa saling mengisi kekosongan, ketika semua terkoneksi, kalian bisa menjadi sesuatu yang jauh lebih berguna daripada saat ini.”

Mereka lantas terdiam. Hingga 10 tahun kemudian. Meski letupan kadang sering muncul, friksi kecil tak masalah. 















Comments

Popular posts from this blog

Apakah masih ada senyum terselip di balik masker kain Anda?

Sesudah virus corona, lalu apa? I've asked this question over and over again inside my head. What if we never get back to our ordinary life before pandemic? Karena makin lama, lingkungan di luar sana seperti planet lain bagi saya.  Setiap minggu level stres naik, bukan saya sendiri yang mengalaminya, tapi semua orang. Jika pada pekan lalu mereka yang saya temui di jalan masih enak diajak ngobrol, kali ini, semua menatap bak kriminal. Saya menghabiskan waktu di rumah sekaligus bekerja. Dalam seminggu, hanya sekali keluar untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Sehari sebelum ramadan, saya meliput masjid dekat rumah. Awalnya semua baik-baik saja, saya sapa marbot dan dia mengizinkan saya meliputnya. Cerita yang ingin sekali saya dengar adalah para marbot yang nelangsa kala ramadan. Jika tahun lalu jamaah salat tarawih berbaris-baris hingga menyesakkan seisi masjid, kini ibadah itu ditiadakan.  Gerbang depan masjid dalam keadaan terkunci, kain penutup dipasang di teras masjid

Jalan Raya Tertinggi di Indonesia 3600 MDPL (2)

Kalau dipikir, kemiringan jalannya sampai 60 derajat, saya sudah cemas, karena setelah tanjakan langsung tikungan, lalu turun curam dan berbelok di jalan yang mulai berlumpur. Apalagi yang bisa saya lakukan selain tertawa. Menertawakan hidup saya, yang jauh-jauh datang ke Papua hanya untuk menyetor nyawa. Saat itu, Trans Papua sedang dibangun. Cerita yang saya dengar, awalnya saat pembukaan jalur, TNI lah yang bergerak. Beberapa titik masih rawan. Kami sama-sama berdoa sambil bercanda di mobil. Wabah misterius itu merenggut puluhan nyawa anak-anak di Distrik Mbua. Media daring yang bagai kilat melaporkan 50an anak mati. Terlebih, saat itu sedang ramai pembicaraan tentang ebola. Persiapan kami menghadapi itu semua adalah: mengucap basmalah. Keselamatan memang jadi faktor utama. Kebutuhan logistik sudah tersedia, peralatan medis dasar juga sudah ada. Takdir membawa kami ke Distrik Mbua, untuk membukakan mata, siapapun yang ada di Jakarta. Saat mobil tiba di jalan keci

Jalan Raya Tertinggi di Indonesia 3600 MDPL (1)

Dua tahun lalu, pergi ke Papua itu sangat mahal, bahkan lebih mahal ketimbang berlibur ke Jepang. Kalau bukan karena penugasan dari rapat redaksional, saya tak mungkin bisa ke sana. Saat itu saya mengejar cerita tentang kematian misterius puluhan anak di Distrik Mbua, Kabupaten Nduga. Saya masih ingat, penerbangan dari Jakarta, transit dahulu di Makassar, berlanjut menuju Manokwari, kemudian Jayapura, dan akhirnya tiba di Wamena. Bandaranya kala itu masih tradisional. Saya gambarkan seperti terminal bus era 90an. Tapi sekarang bandara yang baru sudah dibuka, setaraf dengan bandara-bandara di tempat saya dan tim, transit sebelum sampai Wamena. Pak Nico, driver kami menjemput dengan mobil yang memiliki spesifikasi tangguh di medan pegunungan. Kami mengisi bahan bakar dahulu. 20 liter bensin, seharga 2 juta rupiah. Saya dan kedua rekan langsung terkejut. Pegunungan di sekeliling menyembul, pamer keindahan. Saya tanyakan kepadanya, apakah dia bahagia tinggal d