Skip to main content

Manusia rusak




When you always have a thought you'll never be the person you want to be because of your past, a bitter memories since your brain capable to memorize every fragments of your life.


Saya merasa selalu menjadi manusia rusak, benda yang tak utuh dan tidak berfungsi selayaknya sosok yang saya inginkan.


Yes I do have control with everything I want. Satu hal yang tidak bisa diubah dalam hidup adalah masa lalu ketika saya dilahirkan. 


Pernah dengar istilah barang rusak yang akhirnya teronggok tidak berguna? Atau barang rusak yang masih bisa digunakan tetapi tidak pernah bisa kembali lagi seperti barang baru?


Itu yang saya rasakan sejak kecil. Disiksa oleh keluarga terdekat, dianggap anak tak berbapak dan beribu, dikucilkan karena tidak seperti anak-anak lain dan tidak ada yang peduli tentang eksistensi saya sebagai seorang manusia.


Since then, I try harder to be happy. 


I have to say, it's not easy to share your pain in public space like this, but I think I should.


Desember 2021 merupakan momen ketika semua memori buruk yang saya simpan dalam-dalam tiba-tiba tumpah lewat satu kejadian yang memancing emosi.


I want justice for my inner child. Yes I am evolve, a broken piece of shit finally can speaks. 


Saya justru berterima kasih dengan semua masa lalu yang sempat saya singgahi. Terlatih sakit hati, pintar menyimpan semua yang menyakitkan dan senyum tanpa merasa ada beban yang begitu berat dari masa lalu.


That kind of smile is really painful somehow. Dan itulah mengapa pekerjaan saya sebagai wartawan justru yang menyembuhkan segala luka yang saya alami. 


Saya masih rutin konseling, mencari kesibukan dengan menggambar, crafting, bahkan membuat furnitur. Olahraga juga saya lakoni. And that was a golden in kintsugi.


I asked myself why I should have a rough journey? 


And other side of me tells: Because that’s the only way to be you! 


On 30s I give myself a redemption for something that I can’t afford along the way.


I give myself a true love. A very sentimental feeling just for myself. 


Saya percaya semua manusia di dunia ini punya peran berbeda, sebagian terseok hingga napas terakhirnya, sebagian masih diberikan kesempatan untuk tersenyum. Membahagiakan diri kali ini adalah upaya yang paling sulit ketika mengisi peran kita di dunia. 


Jika kamu di luar sana merasa dunia ini tidak adil mungkin kalimat ini bisa membuatmu menyadari apa yang harus kamu tuju: Jadilah manusia merdeka. Tahu apa yang kita butuhkan dan bisa bersuara lantang.


Saya yakin semua dari kita pernah mengalami hal terpahit dalam hidup, tembikar pecah yang ditambal emas bisa memukau dan menjadi karya seni tak ternilai. Akhirnya saya menyadari sakit yang kita simpan tidak akan pernah bisa hilang, tapi memaafkan diri sendiri dan menerima diri kita apa adanya, barang tentu menjadi pengobatan paling ampuh menyembuhkan luka batin. Sehingga manusia rusak ini bisa menyadari, bahwa barang yang pernah rusak masih punya kesempatan untuk jadi lebih berguna dan dihargai. 


Bagaimana dengan orang-orang yang pernah memperlakukan kita teramat buruk? Jangan dendam. Memaafkan mereka bukan berarti mengalah, tapi juga memaafkan diri kita sendiri. Jangan pernah memberi makan ego kita dengan segala hal terburuk yang pernah kita alami.


Meski, terkadang kalau kumat rasanya ingin berkelahi sehari semalam. Atau ketika ada letupan dan sulit dihindarkan. Saya beberapa kali meledak oleh hal-hal kecil yang seharusnya tidak penting. Tapi mengakui jika itu salah dan meminta maaf kepada orang yang menjadi ‘korban’ letupan itu harus dilakukan. Karena saya tidak ingin berhutang maaf. 


Yes I’m struggling, but it’s painfully beauty I should reach to have my inner peace. So if you think your world is crumbled, and it’s too painful to tell, you may read this to feel you’re not alone. We are human, have million reason to be happy. You and I deserve it. 


So what is your purpose of your life? 

To be happy. 



Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Apakah masih ada senyum terselip di balik masker kain Anda?

Sesudah virus corona, lalu apa? I've asked this question over and over again inside my head. What if we never get back to our ordinary life before pandemic? Karena makin lama, lingkungan di luar sana seperti planet lain bagi saya.  Setiap minggu level stres naik, bukan saya sendiri yang mengalaminya, tapi semua orang. Jika pada pekan lalu mereka yang saya temui di jalan masih enak diajak ngobrol, kali ini, semua menatap bak kriminal. Saya menghabiskan waktu di rumah sekaligus bekerja. Dalam seminggu, hanya sekali keluar untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Sehari sebelum ramadan, saya meliput masjid dekat rumah. Awalnya semua baik-baik saja, saya sapa marbot dan dia mengizinkan saya meliputnya. Cerita yang ingin sekali saya dengar adalah para marbot yang nelangsa kala ramadan. Jika tahun lalu jamaah salat tarawih berbaris-baris hingga menyesakkan seisi masjid, kini ibadah itu ditiadakan.  Gerbang depan masjid dalam keadaan terkunci, kain penutup dipasang di teras masjid

Jalan Raya Tertinggi di Indonesia 3600 MDPL (2)

Kalau dipikir, kemiringan jalannya sampai 60 derajat, saya sudah cemas, karena setelah tanjakan langsung tikungan, lalu turun curam dan berbelok di jalan yang mulai berlumpur. Apalagi yang bisa saya lakukan selain tertawa. Menertawakan hidup saya, yang jauh-jauh datang ke Papua hanya untuk menyetor nyawa. Saat itu, Trans Papua sedang dibangun. Cerita yang saya dengar, awalnya saat pembukaan jalur, TNI lah yang bergerak. Beberapa titik masih rawan. Kami sama-sama berdoa sambil bercanda di mobil. Wabah misterius itu merenggut puluhan nyawa anak-anak di Distrik Mbua. Media daring yang bagai kilat melaporkan 50an anak mati. Terlebih, saat itu sedang ramai pembicaraan tentang ebola. Persiapan kami menghadapi itu semua adalah: mengucap basmalah. Keselamatan memang jadi faktor utama. Kebutuhan logistik sudah tersedia, peralatan medis dasar juga sudah ada. Takdir membawa kami ke Distrik Mbua, untuk membukakan mata, siapapun yang ada di Jakarta. Saat mobil tiba di jalan keci

Jalan Raya Tertinggi di Indonesia 3600 MDPL (1)

Dua tahun lalu, pergi ke Papua itu sangat mahal, bahkan lebih mahal ketimbang berlibur ke Jepang. Kalau bukan karena penugasan dari rapat redaksional, saya tak mungkin bisa ke sana. Saat itu saya mengejar cerita tentang kematian misterius puluhan anak di Distrik Mbua, Kabupaten Nduga. Saya masih ingat, penerbangan dari Jakarta, transit dahulu di Makassar, berlanjut menuju Manokwari, kemudian Jayapura, dan akhirnya tiba di Wamena. Bandaranya kala itu masih tradisional. Saya gambarkan seperti terminal bus era 90an. Tapi sekarang bandara yang baru sudah dibuka, setaraf dengan bandara-bandara di tempat saya dan tim, transit sebelum sampai Wamena. Pak Nico, driver kami menjemput dengan mobil yang memiliki spesifikasi tangguh di medan pegunungan. Kami mengisi bahan bakar dahulu. 20 liter bensin, seharga 2 juta rupiah. Saya dan kedua rekan langsung terkejut. Pegunungan di sekeliling menyembul, pamer keindahan. Saya tanyakan kepadanya, apakah dia bahagia tinggal d