Skip to main content

Setelah ini, apa?




Foto di atas adalah seorang kakek yang mengantre oksigen pada Juni 2021. 

Puncak kasus Omicron digabung dengan kecemasan bersama yang dialami orang-orang sedunia, jadilah: Breakdown moment. 

Thinking back on earlier time when July 2021 marked as the most breakdown moment for me to report about the peak of Omicron cases in Jakarta. 

Since March 2020, everything looks hazy. We did everything to keep (or to be) alive. 

And that sounds crazy when we remembering what kind of wacky acts we did to minimized the risks. 

And I put a trust on hand sanitizer rather than the minister who speaks, because from what we learn trough dark momentum since 2020, I think government has failed in term of communicate with its people eventhough they have all resources to do so. 

Every country is on a race to handle this global pandemic, some have done what they were supposed to do, and some of them get a bumpy road, we can (finally) get rid of it, in a time when most of countries except China have declared no longer to wear a mask. 

It's weird when hazy thing happen in a last 2 years most of us think we are the 'right' one by followed all health protocols so the spread of the virus can be reduced. 

It's okay I think. I did it. Because we are not a scientist.

And I felt like an alien when I have arrived in Heathrow. It took two years to get back to normal life, I guess. Not so normal. 

Despite pandemic took lives of our beloved, this dark momentum such a level up journey for the way our life will be. 

For the angle of our perception and for the time we need the most to know better ourselves. 

Bagi seseorang yang berada di tempat yang tepat, dua tahun ini adalah re-set kehidupan, tetapi bagi mereka yang berada di tempat yang sulit, pandemi adalah hantaman luar biasa yang tak ada habisnya.

Orang yang berada di tempat yang tepat justru menyadari pandemi ini semacam menyadarkan manusia untuk lebih 'slow down' menerima semuanya. 

Mereka yang sudah beradaptasi dengan kehidupan pandemi yang ternyata justru jauh lebih bermanfaat. 

Kehidupan pandemi di satu sisi membuat saya takjub. Karena awal pandemi saya mencoba menerima segala kenyataan tidak bisa ke mana-mana lagi, resah tentang sumber penghasilan sampai akhirnya bersiap jika ada kemungkinan kiamat zombie. 

2020 itu yang ada di kepala saya adalah: Ini akan lama dan kehidupan kita tidak akan bisa kembali normal, tetapi jelang 2023 ini, saya cuma bisa menertawakan diri saya dua tahun lalu. 

Hidup kita sudah kembali normal, dengan segala penyesuaiannya. 

Sejumlah kepala negara sudah mengumumkan bahwa di negara mereka sudah tidak diwajibkan memakai masker karena banyak aspek yang mereka lihat salah satunya adalah rasio vaksinasi.
Banyak perusahaan yang tidak atau belum menerapkan full WFO, dan sata bersyukur masih banyak diberikan waktu untuk WFH.

Namun jika harus kembali ke kantor, setiap pagi berangkat melewati macet ibukota, berdesak-desakan di kereta, jalan di trotoar berpolusi, saya belum bisa membayangkannya. 

Jika saatnya tiba, saya tidak bisa mengontrol itu semua. Yang bisa saya lakukan ya mengontrol cara berpikir di dalam kepala ini.

My boss told me, he didn't know when the time comes, tapi nikmatilah selagi bisa masa-masa ini.

Konser musik kembali digelar, tempat publik mulai ramai, bus dan kereta sesak dan mungkin penjualan alat-alat penunjang 'gaya hidup pandemi' mengalami penurunan. 

Some people have higher power to make decision, dan saya harap mereka merumuskan kebijakan berlandaskan cara kita beradaptasi selama ini. 






Comments

Popular posts from this blog

At the end of pandemic? A moment of new fresh air?

Ada di pertengahan film menuju klimaks atau ketika akhir di sebuah cerita ketika si tokoh utama memulai babak baru hidupnya. Dia berjalan dengan sangat meyakinkan meski tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.  Karena itu film dan dengan sengaja saya sering mencari momen new fresh air itu. Movies I watched did a great job to manipulate my inner child to find my own new fresh air moment. I did it everytime I have new project and finished, again and again, it was like a pattern of my work cycle.  A bit new fresh air isn't? Ketika Presiden Jokowi mengumumkan bahwa PPKM sudah dicabut, seharusnya menjadi momen 'a new fresh air' tapi bagi saya kok terasa hampa. Ada perasaan aneh ketika mengingat betapa pahit dan sekaligus manis kehidupan yang saya alami pada 2020 lalu.  Sepulang dari Taiwan pada Februari 2020 lalu, saya baru memahami bahwa pandemi global ini adalah kenyataan yang saya harus terima. Penyakit misterius yang belum ada obatnya dan seketika dunia menjadi sepi....

New York dan realita

Suatu hari saya pernah gagal melanjutkan sekolah di Universitas di New York, sudah kepalang tanggung resign dari tempat kerja. Terdampar ketika musim dingin dan kembali tertampar di realita Jakarta.  Bebeapa mungkin ada yang mencibir, tetapi saya pikir konsekuensi logis karena sudah woro-woro sekolah dan ternyata kembali tanpa gelar karena perkara funding.   Saya punya semacam “Hollywood dream” tentang New York, dicekoki semenjak film Home Alone dan sederet film lainnya yang menyuguhkan sisi gemerlap New York.  Atau buku-buku tentang New York dan meromantisasi kemegahan kota itu.  Itulah saya 10 tahun lalu. Anak muda yang mabuk cinta dengan kota yang digambarkan film-film. Belum berpikir bayar sewa tempat tinggal, makan sehari-hari dan apa yang akan saya lakukan selain jalan-jalan di Time Square dengan panoramic view lalu lari pagi di Central Park?  Saya berpikir begini: “Pokoknya saya harus bisa menetap di sana ketika usia 30an.” Dan lihatlah saya masih di Jaka...

Dalam lagu ada kamu

Jadi, belakangan ini beberapa kali merasa janggal sekali ketika mendengar sebuah lagu.  Saya pikir si penyanyi itu adalah saya, dan dia menyanyikan lagu itu untuk kamu.  Namun ternyata sebaliknya, kamu yang menyanyikan lagu itu untuk saya.  Saya pikir, kita berdua sama-sama tahu, tetapi masing-masing bingung memulainya.  Pernah saya cerita tentang matahari terbenam, iya, itu untuk kamu.  Mengapa sulit sekali ya menghapus dirimu di dalam pikiran ini. Sampai terbawa mimpi.  Ah sudahlah, mungkin ini adalah gambaran ketika seseorang yang tinggal beberapa tahun lagi menyentuh usia 40. Apa namanya? Puber kedua barangkali. Lagu itu terasa sangat nyata, bagi saya. Sweet-nya Cigarettes After sex, bisa jadi menceritakan tentang kita. Lagu dalam urutan ke-10 di playlist yang saya beri nama kode rahasia kita berdua.  Kita berdua punya kesempatan, tapi entah kenapa, bagimu ini semua adalah sebuah persaingan. Siapa yang kalah dan menang.  Padahal dalam cinta, t...