Skip to main content

Detoks Sosmed di Luang Prabang


Foto: Zeeta #bijimotret

Jangan salahkan hujan jika dirimu basah. Itu hanya tetesan air yang jatuh dari langit. Maka, nikmatilah.


Luang prabang memberikan banyak pelajaran untuk saya sebagai generasi milenial, di sana muncul satu pertanyaan: Apakah kini hidup saya dikendalikan media sosial?

Medium kita untuk berteman dan tak jarang mencitrakan diri.

Hidupmu bukan sekadar album foto di instagram.

Kalau dipikir, sekarang kita sibuk melabeli diri kita sebagai apa, sementara di ujung sana ada yang sibuk melabeli orang lain.

Kucingnya tak mau lepas, lalu Zeeta dan Lucyanne memotret saya, kami dipotret Andreas. Potret-ception

Biarlah identitasmu itu hadir karena banyak hal yang telah kamu lakukan.

Take your life back! Jadikan internet sebagai fasilitas tambahan untuk mendukung kegiatanmu sehari-hari.

Dipotret Zeeta, jendela dengan mosaik ini ada di kuil Wat Xien Tong.
Ok, baik. Sebelum ke Luang Prabang, yang saya lakukan adalah mencari #LuangPrabang di instagram, yang muncul gambar-gambar cantik suasana kota tua dan kuil-kuil eksentrik yang dibangun beberapa abad lalu.

Patung ini ada di Bukit Phou Si


Satu hal ketika saya datang ke Luang Prabang bersama tiga teman lainnya, oh saat itu musim hujan dan saya tidak akan dapat foto sempurna untuk saya publikasikan di instagram.

Kala itu saya mulai lupa, esensi berbagi cerita dan bersenang-senang.

Iya, pasti akan sangat menyenangkan jika memotret foto yang sempurna, membaginya lewat media sosial.

Tapi, belakangan saya berpikir: "I'm so sick about beautiful photos on instagram, these photos looked plain beauty without story,"

Luang Prabang memberikan saya waktu untuk berdiskusi dengan diri saya. Maka simaklah pelan-pelan tulisan ini.

Terjebak Waktu di Luang Prabang

Saya membahas hujan. Musim yang selalu saya hindari kalau liburan maupun liputan, selain foto atau video tanpa langit biru, awan kelabu tidak sedap dipandang.

Terutama kamera, yang tidak tahan air.

Hujan membuat sejuk udara kota tua Luang Prabang. Penginapan saya menghadap Wat Wisunarat, komplek kuil Buddha yang dibangun pada tahun 1500an.



Bangunan kayu berlantai dua, dengan pemandangan satu juta dollar, mungkin dikurangi 200 ribu dollar karena kuil tua itu terhalang kabel listrik di Jalan.

Saya duduk di balkon bersama tiga teman saya. Kami sarapan sebelum siangnya melanjutkan perjalanan keliling kota.

Foto oleh Andreas, diambil dari balkon kamar tempat kami menginap.

Sarapan yang kami beli dari pusat kota, setelah menyaksikan agenda rutin tiap pagi, para biksu berkeliling, orang-orang memberikan bahan makanan untuk mereka.

Pagi yang sibuk bagi para pelancong untuk mendapatkan potret sesuai gambar di kartu pos, instagram, atau bahkan laman daring wisata.

Maknanya apa? I have noticed, it’s called: Berderma makanan, bukan membagi berkah. Itu protes dari seorang teman di Instagram yang mendalami Buddha.

Saya berambisi untuk mendapatkan foto yang bermakna. Kami berempat mengambil jarak yang cukup jauh dari para biksu agar mereka tidak terganggu.

Saat momennya sudah tepat, seseorang (turis) yang lebih ambisius dari saya menutupi lensa kamera. Hilang sudah momen hitungan menit itu.

Iya, saya sempat kesal, namun akhirnya dapat pelajaran berharga. Apa yang saya cari sebenarnya? Bukankah esensinya adalah: kegiatan berderma makanan itu merupakan pagi tersibuk di Luang Prabang?

Bayangan hitam di bagian atas foto, bukti ada turis ambisius pemgejar likes di instagram lewat depan kami.

Bukan buat pelancong, melainkan buat mereka yang saling membutuhkan.

Momen itu cukup terekam dalam ingatan saja Karena prosesnya begitu cepat. Rombongan biksu berjalan dari kuil ke kuil, melewati jalan utama.

Sementara, kami mungkin bukan yang paling beruntung mendapatkan foto terbaik. Apakah saya menemukan kedamaian dari momen ‘turis tak tahu diri menutupi lensa kamera saya dan berjalan bak model’…saya tidak damai.

Saat kembali menuju penginapan, bertemulah saya dengan si turis itu, dia mengalungi kamera DSLR dengan lensa mahalnya.

Saya amati dengan mata menantang-ajakan-berkelahi.

Lalu dia menunduk dan mempercepat langkahnya.

Semua kebencian itu hilang karena sarapan, termasuk hujan yang syahdu.

Suatu saat, layakanya friendster, google+, mungkin saja media sosial yang kita punya saat ini akan hilang dari peredaran.

Maka, beli harddisk sebanyak-banyaknya untuk menyimpan foto dan video.

Karena kenangan itu sangat mahal. Vivian Maier contohnya. Siapa yang sangka, seorang pengasuh anak hobi fotografi dan punya segudang...iya segudang film yang belum dicetak.

Ok, dalam tulisan lain akan saya bahas tentang Vivian Maier.

Poin pentingnya, kala masih ada, manfaatkan. Beberapa kali saya menang sayembara lewat media sosial, atau kadang terbantukan ketika bingung mau ke mana.

Jadi, lebih kepada medium untuk referensi. Itu fungsi yang ideal dari media sosial kan?

Memang, banyak orang yang saat ini berpenghasilan dari media sosial, tak apa, mereka pintar mencari peluang dan kreatif.

Yang bahaya itu, sampah di media sosial, lalu punya banyak pengikut. Pengikutnya menirukan apa yang ia lakukan.

Bertamu di Kuil

Sudah hampir siang. Sinar matahari kembali mengeringkan aspal. Saatnya mngayuh sepeda, dan berkeliling.

Ada puluhan kuil tua di Luang Prabang, bingung? Googling saja mana yang paling direkomendasikan.

Tapi ingat, jadi 'google driven' itu bisa jadi jebakan. Mungkin memangkas waktu, namun kita kehilangan waktu untuk belajar melalui buklet lawas di bandara tentang sebuah bangunan tua, atau hilang kesempatan bertemu orang-orang lokal yang justru akan merekomendasikan lokasi-lokasi ajaib, sehingga pengalaman yang kita dapat bisa berbeda.

Sudahlah, mampir dahulu saja ke Sungai Mekong. Melihat kesibukan orang-orang yang akan menyeberang sungai.

Lalu mulailah satu-persatu kuil kami datangi.

Mosaik yang buat saya jatuh cinta

Orang-orang banyak datang ke Wat Xieng Tong. Kuil Buddha yang dibangun pada 1560. Apa yang pertama kali kami lakukan? Berfoto. Memenuhi nafsu duniawi agar kelak bisa dipajang di album foto virtual (Baca; Instagram).

Dinding kuil berhias mosaik, salah satunya adalah pohon kehidupan. Kilau cermin memantulkan sinar matahari, patung-patung emas, detail ornamen dari atap hingga lantai sungguh meledakkan kepala saya.

Mosaik kehidupan masyarakat Luang Prabang, sebuah kota yang diartikan sebagai: Kota Buddha Emas. Cocok dengan namanya, it’s golden, it’s something you want for your life that you’re trapped in time to memorize what will flashing around in your head.

Di sudut area kuil terdapatlah keterangan, suatu waktu kuil ini pernah terbakar dan dibenahi ulang. Saya ingat betul, seni mosaik ini juga jadi salah satu inspirasi kerajinan tangan.

Bordir manual menyerupai mosaik ada di pasar malam, tempat kami menghabiskan waktu saban malam.

Apa yang saya pelajari adalah, ketika dirimu terlalu napsu agar kamu lebih aktual dalam dunia media sosial, kamu akan kehabisan waktu untuk menyelam di tengah keindahan corak kuil dan detail lainnya.

Untung saja, saya masih diberi kebijakan untuk menyeimbangkan dunia media sosial dan pemuasaan diri agar kepala ini penuh dengan kedamaian. Termasuk canda bersama teman-teman baik, Andreas, Lucyanne, dan Zeeta.

Selanjutnya kami bersepeda menuju Kafe di pinggir sungai Mekong. Menghentikan dahaga dengan bir Laos.

Seakan waktu berhenti di sini. Duduk santai tanpa ponsel. Oh, ponsel hanya digunakan untuk menangkap gambar…agar mewakili apa yang kami rasakan saat itu.

Kami berkeliling lagi, menyusuri jalan dengan bagunan yang masih bertahan sejak zaman kolonial. Bangunan-bangunan pemerintah di Luang Prabang terdiri dari dua bahasa. Prancis dan Bahasa Laos. Sangat jelas bahwa Prancis berperan dalam Ock Pop Tok, atau West Meet East. Paduan budaya itu terlihat dari bangunan, sampai makanan.

Roti Prancis campur dedaunan termasuk daun ketumbar dan ham? Ada di Luang Prabang. Atau motif rajut dan warna, paduan dua budaya itu, ada juga di kota ini.

Kali ini, kami pergi ke sebuah restoran berjudul Ock Pop Tok. Jangan bingung, Ock Pop Tok juga sebuah nama bagi perkumpulan seniman mandiri terutama perempuan di Luang Prabang.

Kain-kain yang dipamerkan seharga diri saya, no, I mean it’s quite expensive for me, even I can afford piece of them, but I choose another (cheaper) one in Night Market.

Baiklah, saya harus coba makanan yang otentik. Paling khas Laos. Karena bertetangga dengan Thailand, makanan di Luang Prabang juga mirip-mirip, bahkan Tom Yum jadi menu andalan di banyak restoran.

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, perpaduan barat dan timur itu bisa disantap di sini. Otentik karena sudah sekira dua abad usia resep makanananya.

Sosis sayur, dipadu dengan sayur rebung, paku-pakuan, kuah santan dan nasi ketan. Wow, what a festive lunch.

Ketagihan di Pasar Malam

Saban malam, paling semangat. Selain buat makan malam, apalagi yang mau dicari? Kerajinan tangan.

Kami makan di sebuah gang, bagi yang berniat ke Luang Prabang, atau sudah pernah ke sana pasti tahu posisinya di mana. Biasanya penjaja makanan menyediakan makanan yang sudah jadi di depan kios semi permanen mereka, Makanan disusun layaknya pusat gulai di Senen.

Kami mendatangi kios ‘bakar-bakar’ dan salad papaya selama tiga malam berturut-turut. Sayap ayam, hingga daging babi bisa dibakar, dimakan dengan nasi ketan dan salad pepaya yang dibuat ‘dadakan’ ala tahu bulat, begini maksudnya dibuat seperti penjual rujak gerobak.

Salad pepaya masih terngiang-ngiang dalam ingatan hingga tiga bulan seduah kami meninggalkan Luang Prabang.

Lezat tiada tara, manis, gurih jadi satu, saya yang tidak suka daun ketumbar jadi suka. Sangat suka, walaupun baunya seperti walang sangit, namun yang masak sangat cantik, bak Mba Marsha Timothy, Serius.

Pasar malam berarti surga belanja bagi penggila barang seni, dari yang paling murah sampai yang agak mahal.

Lebih baik membeli kerajinan tangan, hitung-hitung juga membantu roda perekonomian lokal, daripada beli barang antik dan kuno. Sudah ilegal, mahal pula.
Makanan kami setiap malam

Kami datangi satu persatu kios, menawar harga dan deal. Berulang-ulang kami lakukan, sampai-sampai tas saya penuh dengan belanjaan.

Lalu belanja untuk siapa?

Ya saya utamakan untuk diri saya dahulu, lalu ibu dan apapun benda-benda yang bisa saya beli.

Ini semua karena terlalu nafsu untuk belanja dan terutama, surga nilai tukar mata uang. Akhirnya nilai mata uang negara saya bisa membeli banyak barang di Luang Prabang.

Sampai malam, ingatlah bahwa yang kami lakukan adalah menyenangkan diri sendiri, membahagiakan pikiran, agar bisa segar kembali menghadapi Jakarta dan keanehannya.

Hujan oh hujan, kau menamparku


Pagi sekali kami berangkat menuju taman nasional tempat air terjun Kuang Si. Banyak foto yang beredar tentang keindahan air terjun berlapis itu. Kalau di Indonesia, mungkin hampir sama dengan air terjun Salu Opa di Tentena, Poso.

Makan waktu sekitar satu jam menuju lokasi air terjun. Mobil yang menjemput kami sudah kami booking satu hari sebelumnya.

Tapi, ternyata karena hujan, air terjun meluap.

Sangat deras, hingga percikannya melompat terlalu jauh. Membasahi ujung rambut sampai ujung kaki.

Kecewa, iya mungkin. Tapi pelajarannya, tidak semua keindahan di media sosial dapat dinikmati setiap saat.

Tapi akhirnya kami ubah pandangan kami, tidak semua orang bisa melihat air terjun Kuang Si yang seolah sedang teriak.

Lalu, hujan pula yang membisiki saya, seolah-olah begini, "wahai manusia, ini waktu yang tepat buat ngopi," kata hujan kepada saya.
Pinjam payungnya Tante Inayah (nama samaran) pemilik hostel tempat kami menginap

Kami putuskan untuk ngopi sejenak di Saffron Café. Menut Riset Zeeta, kedai kopi itu direkomendasikan.

Kedai yang menyajikan biji kopi dari kawasan pegunungan di Laos, atau bahkan berbatasan dengan segita emas saat Khun Sa masih berkuasa.
Foto grup dengan gaya palsu

Jadi ya mungkin agak-agak beropium, Karena tanah tempat kopi itu tumbuh bekas ladang opium. Oh itu hanya analisis sotoy saya saja. Postingan lainnya akan saya bahas tentang segituga emas dan penguasa opium Indocina.

Hujan pula yang mengantarkan kami hingga Royal Palace. Saat masuk istana, tidak boleh membawa kamera, ponsel, dan alas kaki.

Lihat kan? Hujan buat kita lebih senang

All you need is a paper and pen. Saya bisa gambarkan bahwa semua yang ada di Luang Prabang ada di dalam bangunan itu.

Paduan banguan ala Indocina dan Prancis yang dibangun pada 1904. Rumah dari Raja Sisavang Vong. Saat masuk, terdapat aula besar dengan dinding yang semuanya dilukis. Nuansanya hijau penuh tanaman tropis. Masuk ruang lainnya, terdapatlah mosaik di dinding istana, dan beragam benda peninggalan raja.

Oh kaki saya lemas melihat segala keajaiban seni ini.

Berpisah dengan Luang Prabang

Hari terakhir, satu hal yang belum kami lakukan, menuju Bukit Phou Si, jaraknya tak sampai 1km dari penginapan.

Kami naik tangga di punggung bukit. Tangga naga sampai puncak, diselingi dengan patung-patung emas, sang Buddha bersantai, oh kami tak bisa menghitung ada berapa banyak.

Kucing di kuil yang sangat ingin 'menguasai' manusia

Tapi di atas bukit, pemandangan seisi kota bisa dilihat. Kadang paling enak itu harus naik sampai di ketinggian tertentu, tidak dengan drone untuk meilihat seisi kota. Karena banyak detil yang jadi kejutan.


Contohnya, orang-orang di Luang Prabang kalau naik motor atau sepeda bisa dengan tangan satu. Satu tangan lainnya memegang payung.

Mereka suka makanan yang pedas. BeerLaos penetralisir rasa pedas itu.

Para biksu sering berjalan di trotoar tiap pagi, hari pertama sih mungkin takjub, lama kelamaan jadi pemandangan biasa.

Sampai saat ini, Zeeta yang anak kesayangannya Tante Inayah berteman di Facebook, mereka sering sapa. Tante Inayah pakai bahasa Laos, Zeeta pakai bahasa Inggris.
Tante Inayah (tengah) sempat menitikan air mata saat hari terakhir kami di Luang Prabang

Wisata alam bisa jadi sangat menggiurkan apalagi bisa bertemu gajah, jika punya waktu panjang di Luang Prabang. 


Terakhir, pedestriannya bagus, laik bagi pejalan kaki, kereta dorong bayi, bahkan kursi roda.

Waktu kami seakan berhenti di Luang Prabang.

Saya dapat pelajaran yang begitu penting. Apa yang saya cari?

Bukan aktualisasi diri. Bukan pula sesuatu yang harus ditunjukkan.

Memuaskan diri dalam keadaan apapun itu sangatlah penting, karena langit biru sekalipun jika saya frustasi ya buat apa, agar follower senang? Agar album foto virtualmu bisa terlihat cantik?

Jika batin tak puas buat apa?

Luang Prabang adalah kota tua yang berisi sejarah, seni, dan budaya. Orang-orangnya bisa berkomunkasi dengan lancar, bahkan tak ada kendala bahasa walaupun berbeda bahasa, kok bisa?

I don’t know. Kala orang lain bahasa untuk pertama kalinya dipertemukan, selalu ada cara berkomunikasi, apapun itu.

Jangan biarkan hidupmu diambil alih media sosial, atau dirimu jadi google driven person.

Saya suka perjalanan ini, mencatatnya dan membagikan ke semua orang yang sempat baca blog saya.

Sejatinya, sejarah tidak akan pernah ada tanpa ada orang yang mencatat perjalanannya. Seorang pelaut yang selalu menulis jangkauan jelajahnya 5 abad lalu masih tersimpan dan menjadi bagian penting sejarah dunia.

Kita yang mencatat sejarah diri kita sendiri, tanpa intervensi dari media sosial, sangat mungkin dilakukan.

Buatlah tembok dan batas, niscaya, media sosial yang anda miliki akan sangat berguna.

Dari beberapa peristiwa di Luang Prabang dan memang suasananya 'sway' maka saya rasa media sosial bagi saya sudah kembali seperti fungsi utamanya.

Memilih apa yang bisa ditunjukkan kepada dunia, tapa memperlihatkan ruang privatmu.

Oh satu lagi, jangan jadi palsu. Selalu berusaha jujur di manapun kau berada.




Comments

Popular posts from this blog

Apakah masih ada senyum terselip di balik masker kain Anda?

Sesudah virus corona, lalu apa? I've asked this question over and over again inside my head. What if we never get back to our ordinary life before pandemic? Karena makin lama, lingkungan di luar sana seperti planet lain bagi saya.  Setiap minggu level stres naik, bukan saya sendiri yang mengalaminya, tapi semua orang. Jika pada pekan lalu mereka yang saya temui di jalan masih enak diajak ngobrol, kali ini, semua menatap bak kriminal. Saya menghabiskan waktu di rumah sekaligus bekerja. Dalam seminggu, hanya sekali keluar untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Sehari sebelum ramadan, saya meliput masjid dekat rumah. Awalnya semua baik-baik saja, saya sapa marbot dan dia mengizinkan saya meliputnya. Cerita yang ingin sekali saya dengar adalah para marbot yang nelangsa kala ramadan. Jika tahun lalu jamaah salat tarawih berbaris-baris hingga menyesakkan seisi masjid, kini ibadah itu ditiadakan.  Gerbang depan masjid dalam keadaan terkunci, kain penutup dipasang di teras masjid

Jalan Raya Tertinggi di Indonesia 3600 MDPL (2)

Kalau dipikir, kemiringan jalannya sampai 60 derajat, saya sudah cemas, karena setelah tanjakan langsung tikungan, lalu turun curam dan berbelok di jalan yang mulai berlumpur. Apalagi yang bisa saya lakukan selain tertawa. Menertawakan hidup saya, yang jauh-jauh datang ke Papua hanya untuk menyetor nyawa. Saat itu, Trans Papua sedang dibangun. Cerita yang saya dengar, awalnya saat pembukaan jalur, TNI lah yang bergerak. Beberapa titik masih rawan. Kami sama-sama berdoa sambil bercanda di mobil. Wabah misterius itu merenggut puluhan nyawa anak-anak di Distrik Mbua. Media daring yang bagai kilat melaporkan 50an anak mati. Terlebih, saat itu sedang ramai pembicaraan tentang ebola. Persiapan kami menghadapi itu semua adalah: mengucap basmalah. Keselamatan memang jadi faktor utama. Kebutuhan logistik sudah tersedia, peralatan medis dasar juga sudah ada. Takdir membawa kami ke Distrik Mbua, untuk membukakan mata, siapapun yang ada di Jakarta. Saat mobil tiba di jalan keci

Jalan Raya Tertinggi di Indonesia 3600 MDPL (1)

Dua tahun lalu, pergi ke Papua itu sangat mahal, bahkan lebih mahal ketimbang berlibur ke Jepang. Kalau bukan karena penugasan dari rapat redaksional, saya tak mungkin bisa ke sana. Saat itu saya mengejar cerita tentang kematian misterius puluhan anak di Distrik Mbua, Kabupaten Nduga. Saya masih ingat, penerbangan dari Jakarta, transit dahulu di Makassar, berlanjut menuju Manokwari, kemudian Jayapura, dan akhirnya tiba di Wamena. Bandaranya kala itu masih tradisional. Saya gambarkan seperti terminal bus era 90an. Tapi sekarang bandara yang baru sudah dibuka, setaraf dengan bandara-bandara di tempat saya dan tim, transit sebelum sampai Wamena. Pak Nico, driver kami menjemput dengan mobil yang memiliki spesifikasi tangguh di medan pegunungan. Kami mengisi bahan bakar dahulu. 20 liter bensin, seharga 2 juta rupiah. Saya dan kedua rekan langsung terkejut. Pegunungan di sekeliling menyembul, pamer keindahan. Saya tanyakan kepadanya, apakah dia bahagia tinggal d