Skip to main content

Vaksin wartawan: Pembicaraan yang tidak nyaman

pagi ini saya adalah wartawan ke-704 yang divaksin. Padahal masih pukul 09.30 WIB. 

Perasaan campur aduk saat menerima vaksin. Satu sisi merasa terberkati, sisi lainnya, serius merasa bersalah. 

Para wartawan mengunggah foto dan video saat mereka divaksin. Saya percaya, tujuannya baik.

Mereka adalah teman-teman sesama jurnalis yang setiap hari bekerja dan berinteraksi dengan banyak orang. 

Tujuannya (mungkin) agar orang-orang di luar sana percaya, bahwa salah satu jalan menyudahi pandemi ini adalah dengan vaksinasi.

Jadi unggahan di sosial media menandakan euphoria vaksinasi sukses di kalangan wartawan.

Rasanya ada yang mengganjal. Saya termasuk wartawan yang mendaftar vaksin bersama teman-teman jurnalis lainnya di media tempat saya bekerja, meski tidak masuk dalam daftar.

Setidaknya saya berusaha untuk melindungi diri dan orang lain. Yang mengganjal itu, apakah pantas saya mengunggah proses saat saya divaksin meyakinkan publik bahwa vaksin itu aman?

Dan akhirnya dapat vaksin.

Jumat malam, saya dihubungi rekan baik hati yang bilang kalau masih ada satu jatah vaksin lagi, menggantikan orang yang berhalangan untuk divaksin. 

Saya coba mendaftar dan berhasil, lalu menelepon ibu. Sedih rasanya melihat saya yang masih muda ini dengan segala keistimewaan bekerja dari rumah dan liputan penuh protokol kesehatan harus 'mengalahkan' ibu saya sendiri.

"Mama juga mau divaksin, kapan bisanya ya?"

Ibu saya bukan golongan lansia, tetapi termasuk orang yang rentan jika tertular. Saat ini dia 'mengungsi' ke kampung halaman, yang sejatinya lebih aman ketimbang di Jakarta.

Vaksin untuk dirinya entah kapan terlaksana, saya coba mengutarakan "Ma, ada vaksin mandiri sebentar lagi, aku akan bayarkan semuanya untuk mama." 

Entah kapan, perasaan saya campur aduk saat menghubungi ibu saya sendiri. Andai bisa ditukar jatah vaksin ini untuk ibu, saya rela.

Bukan bermasud menafikan segala 'keistimewaan' jadi wartawan, tetapi saya rasa ini tidak adil.

Terakhir, ibu berucap bahwa dia takut divaksin, sama seperti kebanyakan warga di kampungnya.

Jadi, rasanya tidak pantas saya membuat pengumuman kepada publik di luar sana bahwa saya sudah divaksin dan ternyata aman. Bukan tidak mendukung program vaksinasi dan mensyukuri 'keistimewaan' ini. Namun, di luar sana banyak orang yang tidak bisa mengakses program vaksinasi termasuk ibu saya.

Mereka yang menanti vaksinasi tanpa tahu waktu tepatnya. 

Rasanya tidak bijak, mengumumkan 'saya telah divaksin, jangan takut vaksin ya' saat orang-orang di luar sana tak tahu cara meraihnya. Jika mendapat vaksin bisa semudah memakai masker, jaga jarak dan cuci tangan, mungkin saya akan mencoba meyakinkan khalayak akan pentingnya 'silver bullet' ini, because we have no choice.  

Saya percaya, pekerjaan ini bukan hal yang spesial. Saya menghindari sifat tamak yang bisa merasuk. Dengan divaksin terlebih dahulu, bukan berarti mendapat perlakuan istimewa dari negara ini.

Mungkin nanti, saat kebanyakan orang sudah dapat akses vaksin dan mereka tidak percaya, saya bisa bersaksi bahwa vaksin Covid-19 yang sudah masuk ke dalam badan saya beberapa jam lalu, aman untuk kita semua, kecuali jika Anda punya kondisi kesehatan tertentu.

Silver bullet VS Desperated situation

Saya tidak tahu, bahwa kehadiran vaksin akan secepat ini di tengah angka kasus Covid-19 di Indonesia yang masih tinggi. 

Beberapa bulan lalu, saya mengutarakan bahwa solusi vaksinasi ini merupakan silver bullet. Cara paling ampuh adalah flatten the curve, itu sudah paling penting menurut banyak epidemiolog.

But we must try silver bullet in desperately to flatten the curve. 

Vaksin untuk (semua) (orang penting) (orang yang butuh)?

Seorang pesohor, koruptor, anggota dewan dan keluarganya, mereka mendapat vaksin lebih awal. 

Semua orang punya peran penting menyudahi pandemi. Seorang sopir taksi yang mengantar saya menuju tempat vaksinasi tentu berinteraksi dengan lebih dari satu orang setiap hari.

Saya yang selalu cemas termasuk rekan wartawan lain usai liputan, mengisolasi diri dan tes PCR, barang tentu juga punya peran yang sama dengan seorang sopir taksi. Semua orang punya peran penting di sini.

Peran memutus rantai penularan, tapi tersandra kepentingan layaknya bahtera Nuh di film 2012.

Jika pernah nonton film jelek '2012' pasti pernah melihat adegan saat orang berduit, mereka yang dianggap penting adalah yang bisa masuk ke bahtera itu.

Sementara rakyat jelata tak punya kesempatan itu.

I feel it, that scene describes what is happening right now but in case you miss it, everyone have same role to end this pandemic.

Andai vaksin datang lebih awal untuk orang-orang yang rawan terpapar, atau orang lain tidak egois untuk menjaga mereka yang terpaksa kerja di luar...

Rekan saya, Rizky, jurnalis bertalenta. Dia meninggal dunia karena Covid-19.

Usianya lebih muda dari saya. Saya tidak percaya dia pergi secepat itu.

Sepengetahuan saya, Rizky sudah berhati-hati dalam pekerjaan sehari-harinya sebagai seorang wartawan. Namun dia tetap bisa tertular.

Liputan bersama almarhum Rizky pada 2016 lalu. Saat pemimpin kelompok sipil bersenjata di Poso tertangkap.

Andai dia bisa divaksin lebih awal, saya dan sesama rekan jurnalis yang pernah bekerja dengannya tak perlu bersedih hati akan kematiannya.

Melihat musibah itu, saya berpikir, bahwa semua wartawan punya risiko yang sangat tinggi tertular virus. Mengingat pekerjaan kami yang mau tidak mau harus berinteraksi dengan manusia lainnya.

Sedisiplin apapun, apa yang kita semua lakukan hanya bisa mencegah. Bukan berarti kita kebal dari virus.

Apakah sekarang saya egois ketika menggantikan jatah vaksin seorang jurnalis yang tak dapat divaksin? Saya melakukan ini dengan sadar dan bermaksud mengamankan diri saya dan orang lain di sekitar saya. 

Sebuah keberuntungan yang hanya berlangsung dalam hitungan jam. Saya adalah manusia biasa sama seperti siapapun. Tidak merasa diistimewakan, hanya ingin menjadi orang baik yang mengikuti aturan pemerintah. Saya tak ingin kehilangan teman baik lagi, atau mereka yang punya masa depan gemilang nantinya. 








Comments

Popular posts from this blog

Apakah masih ada senyum terselip di balik masker kain Anda?

Sesudah virus corona, lalu apa? I've asked this question over and over again inside my head. What if we never get back to our ordinary life before pandemic? Karena makin lama, lingkungan di luar sana seperti planet lain bagi saya.  Setiap minggu level stres naik, bukan saya sendiri yang mengalaminya, tapi semua orang. Jika pada pekan lalu mereka yang saya temui di jalan masih enak diajak ngobrol, kali ini, semua menatap bak kriminal. Saya menghabiskan waktu di rumah sekaligus bekerja. Dalam seminggu, hanya sekali keluar untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Sehari sebelum ramadan, saya meliput masjid dekat rumah. Awalnya semua baik-baik saja, saya sapa marbot dan dia mengizinkan saya meliputnya. Cerita yang ingin sekali saya dengar adalah para marbot yang nelangsa kala ramadan. Jika tahun lalu jamaah salat tarawih berbaris-baris hingga menyesakkan seisi masjid, kini ibadah itu ditiadakan.  Gerbang depan masjid dalam keadaan terkunci, kain penutup dipasang di teras masjid

Jalan Raya Tertinggi di Indonesia 3600 MDPL (2)

Kalau dipikir, kemiringan jalannya sampai 60 derajat, saya sudah cemas, karena setelah tanjakan langsung tikungan, lalu turun curam dan berbelok di jalan yang mulai berlumpur. Apalagi yang bisa saya lakukan selain tertawa. Menertawakan hidup saya, yang jauh-jauh datang ke Papua hanya untuk menyetor nyawa. Saat itu, Trans Papua sedang dibangun. Cerita yang saya dengar, awalnya saat pembukaan jalur, TNI lah yang bergerak. Beberapa titik masih rawan. Kami sama-sama berdoa sambil bercanda di mobil. Wabah misterius itu merenggut puluhan nyawa anak-anak di Distrik Mbua. Media daring yang bagai kilat melaporkan 50an anak mati. Terlebih, saat itu sedang ramai pembicaraan tentang ebola. Persiapan kami menghadapi itu semua adalah: mengucap basmalah. Keselamatan memang jadi faktor utama. Kebutuhan logistik sudah tersedia, peralatan medis dasar juga sudah ada. Takdir membawa kami ke Distrik Mbua, untuk membukakan mata, siapapun yang ada di Jakarta. Saat mobil tiba di jalan keci

Jalan Raya Tertinggi di Indonesia 3600 MDPL (1)

Dua tahun lalu, pergi ke Papua itu sangat mahal, bahkan lebih mahal ketimbang berlibur ke Jepang. Kalau bukan karena penugasan dari rapat redaksional, saya tak mungkin bisa ke sana. Saat itu saya mengejar cerita tentang kematian misterius puluhan anak di Distrik Mbua, Kabupaten Nduga. Saya masih ingat, penerbangan dari Jakarta, transit dahulu di Makassar, berlanjut menuju Manokwari, kemudian Jayapura, dan akhirnya tiba di Wamena. Bandaranya kala itu masih tradisional. Saya gambarkan seperti terminal bus era 90an. Tapi sekarang bandara yang baru sudah dibuka, setaraf dengan bandara-bandara di tempat saya dan tim, transit sebelum sampai Wamena. Pak Nico, driver kami menjemput dengan mobil yang memiliki spesifikasi tangguh di medan pegunungan. Kami mengisi bahan bakar dahulu. 20 liter bensin, seharga 2 juta rupiah. Saya dan kedua rekan langsung terkejut. Pegunungan di sekeliling menyembul, pamer keindahan. Saya tanyakan kepadanya, apakah dia bahagia tinggal d