Skip to main content

Kopi terakhir saat gempa Palu dan Lombok, masa tergalau dalam hidup

Karena sibuk dan sedang masa transisi pekerjaan, saya baru bisa menulis lagi. Maafkan.

Cerita ini dimulai dari penugasan mendadak saat pergi meliput gempa Lombok. Saya langsung ke Landasan Udara Halim Perdana Kusuma, menumpang Hercules.


Kami berangkat sore, saya tidak bawa perbekalan kecuali sebotol kopi panas.

Suara mesin Hercules yang sangat bising dan para tentara yang duduk kesempitan di atas barang-barang untuk kebutuhan pengungsi termasuk tenda, buat saya stres. Saya tak bisa tidur, 4 jam paling menyiksa, kaki saya berada di antara rangka tenda pleton, tumpukan pelampung jadi tempat duduk, musik di ponsel sama sekali tak bisa membantu.

Saya buka botol itu, seteguk kopi panas, menenangkan.

Sampai di Bandara Praya, kami tak lantas ke daerah terdampak gempa. Tiga pleton prajurit duduk berbaris, menanti makan malam, sambil menunggu truk tronton yang akan membawa kami sampai ke Sembalun.



Tengah malam, kami tiba di tenda pengungsian Kecamatan Sambelia, sepanjang perjalanan, semua orang tidur di teras rumahnya. Rumah mereka retak. Sebagian hancur.


Saya ingat pada 2013 lalu, pernah juga meliput gempa di Kecamatan Pemenang. Gempa terjadi siang hari kala orang-orang berkumpul di Bruga, semacam pondokan yang dibangun di halaman rumah. Hampir tak ada korban jiwa. Walau rumah mereka rusak parah akibat gempa.

Tetapi kali ini berbeda, gempa terjadi saat sebagian orang mulai istirahat di rumah.



Korban jiwa, masih tercatat puluhan orang. Menurut cerita para pengungsi, gempa itu melempar mereka, manusia seperti berada di akurium raksasa yang diguncang Titan, hingga akhirnya sulit untuk keluar rumah.

Barulah saya bisa rasakan gempa susulan, seperti dijatuhkan setengah meter rasanya.

Hampir pagi, dan gempa susulan terjadi lagi, mereka tiba-tiba bersalawat. Ini momen yang buat bulu kuduk merinding.

Pakaian yang melekat, tidak ganti selama berhari-hari, dan itupun liputan terakhir di CNN. Saya bahkan sempat live report dalam keadaan menggigil, karena kedinginan, namun ada orang-orang yang baik berikan saya kain untuk menghangatkan badan.

Tugas akhirnya selesai, saya kembali ke Mataram, menikmati sedikit kenyamanan hotel, dan melanjutkan pekerjaan lainnya, untuk membuat profil keluarga Zohri.

Lalu saat semua selesai dan kami kembali ke Jakarta, gempa susulan yang lebih kuat datang. Saya sedih luar biasa. karena saat gempa pertama, mereka, masyarakat mencoba bangkit, hanya butuh 3 hari untuk berkegiatan seperti biasa walaupun masih takut berada di dalam rumah.

Mereka masih takut sampai sekarang.

20 tahun lalu, pertama kalinya saya merasakan gempa bumi. saat duduk, kepala seperti berputar, bangku pelan-pelan bergeser.

Saya kira, mau flu, atau demam, ternyata itu gempa bumi.

19 tahun kemudian, di apartemen tempat saya tinggal, rak piring bergetar. Kepala saya berputar lagi, kali ini lebih hebat.

Saya pastikan air di gelas dahulu, ternyata bergerak. Tas berisi surat-surat penting, action figure Groot, biskuit, power bank, langsung saya raih.

Dalam hitungan detik pula saya coba berpikir keras apa yang harus dilakukan. Saya berada di lantai 6. Jika ingin ke rooftop pasti terlalu jauh. Saya memilih berdiam diri di tangga darurat.


Saya ingat, jika tangga darurat tempat paling kuat di sebuah gedung. Jikapun gedung runtuh masih ada harapan hidup melalui sela-sela beton. Sementara jika saya memilih di rooftop, kemungkinan besar jenazah bisa ditemukan.

Tetapi, ketika Gempa terjadi di Palu dan melihat langsung gedung rubuh, sampai tak menyisakan celah buat manusia bertahan, saya pikirkan lagi masak-masak, bahwa mengevakuasi diri ketika bencana alam datang, adalah bernegosiasi dengan malaikat maut. Kita tidak akan tahu tentang segala probabilitas yang terjadi.

Ketika rumah menjadi tempat paling aman dan ternyata dalam sekejap tanah bisa terpelintir seperti likuifaksi di Jono Oge, Petobo dan Balaroa, mengubur ribuan orang, saya seperti ditinju. Aspal bisa dipelintir, rumah bisa 'dimakan' lumpur berombak yang dipijak menjadi cair.



Tidak ada tempat yang benar-benar aman di Indonesia. Tsunami di teluk Palu, dan pesisir Donggala bukan berarti yang terakhir. Garis pantai di Indonesia itu yang paling panjang nomor 2 di dunia, dengan populasi lebih dari 50 persen penduduk Indonesia yang hidup di pesisir.

Kembali ke Palu yang sudah hancur itu perkara hati. Karena beberapa kali saya ke sana dengan penuh suka cita. Pinggir pantai, mall, jembatan, kaledo stereo, semua hancur.

Itu rasanya hatimu terasa hancur berkeping-keping setelah kau menyadari kehilangan orang yang kau cintai. Butuh waktu lama untuk sembuhkan luka itu, dan harapan saya, kita semua bisa bersabar.

Gempa susulan berkali-kali terjadi saat saya berada di Palu. Rasanya berbeda seperti gempa di Lombok.



Ketika gempa, tanah itu seperti bergemuruh. Tanah sepertinya marah.

Sulawesi Tengah, khususnya di jalur Patahan Palu Koro, masuk dalam kategori merah sampai cokelat dengan nilai percepatan gempa bumi pada batuan dasar kisaran 0,7 sampai lebih dari 1,2 g (gravitasi m/2det). Ini artinya kawasan tersebut amat rawan gempa bumi.

Dalam catatan NOAA, Tsunami di Indonesia tercatat sejak tahun 416, ini hampir sama dengan Penelitian Eko Yulianto, seorang peneliti hebat yang meneliti tentang paleo Tsunami.

Dalam penelitiannya, dia juga menduga ada kesamaan bencana alam yang tercatat dalam katalog Wichmaan. Di kawasan selatan Jawa hingga hingga Bali terdapat lapisan sedimen yang diduga bekas tsunami dari waktu yang berbeda. Semuanya bermuara dengan interval perulangan setiap 675 tahun.

Peristiwa itu tercatat dalam katalog berjudul Arthur Wichmann's Die Erdbeben Des Indischen Archipels, atau Gempa Bumi di Kepulauan Hindia Belanda, yang mengumpulkan cerita 61 gempa bumi dan 36 tsunami di Indonesia antara tahun 1538 hingga 1877.

Bagaimana dengan gempa bumi? Bayangkan BMKG pada 2017 lalu mengeluarkan rilis jika gempa bumi terjadi hampir setiap hari sepanjang tahun. Karena apa? Kita ini ternyata hidup di daerah dengan risiko bencana 100 persen. Pertemuan tiga lempeng, kemudian memicu terjadinya ratusan patahan yang membentuk pulau-pulau di Indonesia, bukan terjadi dalam 1 jam. Tetapi proses ratusan juta tahun, yang terus bergerak hingga kau baca tulisan ini.

Belum lagi, gunung berapi yang aktif, struktur tanah yang rawan longsor. Kemudian bencana yang disebabkan oleh manusia, wajar jika BMKG menyebut Indonesia adalah supermarket bencana.

Saat tanah bergemuruh, geram tak berkesudahan, saya yang mencoba untuk memberitakan tentang pentingnya mitigasi sejak 2015 lalu, akhirnya bisa sedikit memahami bahwa apa yang kita lakukan tak menyentuh insting dasar manusia untuk bertahan hidup. tak menyentuh kepada kenyataan bahwa akan ada korban jiwa, dan kehilangan harta benda.

Kita akan merugi jika tidak siap-siap.

Saat menciptakan Indonesia,semesta awalnya bilang, jika Indonesia terlalu sempurna. Nanto daerah lain bisa iri.

Sudah banyak pantai, segala tumbuhan gampang ditanam, sapi bisa merumput sambil kentut, pegunungan maha indah...

Apalagi yang kurang?

Oh
....semesta lalu merobek sedikit lempengan utuh itu, mengaliri indonesia dengan air api....

Kemudian jadilah Indonesia

Puluhan ribu tahun lalu, saat nenek moyang kita migrasi ke Nusantara, dan hidup di gua, mereka pasti meyakini bahwa tanah ini diberkati, karena mau tanam apapun pasti bisa dimakan.

Mereka yang baru mengetahui cara bercocok tanam sangat bahagia kala itu.

Tapi sekarang lain cerita, perlu disadari bahwa tidak ada tempat aman di Indonesia. Meski hampir tidak ada gempa bumi di Kalimantan misal, bencana lain datang bernama deforestasi. Bukan saja manusia yang merugi, tetapi lingkungannya.

Saat di Sembalun, kopi terakhir yang bisa saya nikmati adalah kopi arabica yang terakhir dipetik sebelum gempa. Sementara di Palu, kopi Sembalun itu masih saya bawa.


Oh iya, selanjutnya saya mau tulis tentang pengalaman saya di Sulawesi Tengah, sebelum dan sesudah gempa.







Comments

Popular posts from this blog

Apakah masih ada senyum terselip di balik masker kain Anda?

Sesudah virus corona, lalu apa? I've asked this question over and over again inside my head. What if we never get back to our ordinary life before pandemic? Karena makin lama, lingkungan di luar sana seperti planet lain bagi saya.  Setiap minggu level stres naik, bukan saya sendiri yang mengalaminya, tapi semua orang. Jika pada pekan lalu mereka yang saya temui di jalan masih enak diajak ngobrol, kali ini, semua menatap bak kriminal. Saya menghabiskan waktu di rumah sekaligus bekerja. Dalam seminggu, hanya sekali keluar untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Sehari sebelum ramadan, saya meliput masjid dekat rumah. Awalnya semua baik-baik saja, saya sapa marbot dan dia mengizinkan saya meliputnya. Cerita yang ingin sekali saya dengar adalah para marbot yang nelangsa kala ramadan. Jika tahun lalu jamaah salat tarawih berbaris-baris hingga menyesakkan seisi masjid, kini ibadah itu ditiadakan.  Gerbang depan masjid dalam keadaan terkunci, kain penutup dipasang di teras masjid

Jalan Raya Tertinggi di Indonesia 3600 MDPL (2)

Kalau dipikir, kemiringan jalannya sampai 60 derajat, saya sudah cemas, karena setelah tanjakan langsung tikungan, lalu turun curam dan berbelok di jalan yang mulai berlumpur. Apalagi yang bisa saya lakukan selain tertawa. Menertawakan hidup saya, yang jauh-jauh datang ke Papua hanya untuk menyetor nyawa. Saat itu, Trans Papua sedang dibangun. Cerita yang saya dengar, awalnya saat pembukaan jalur, TNI lah yang bergerak. Beberapa titik masih rawan. Kami sama-sama berdoa sambil bercanda di mobil. Wabah misterius itu merenggut puluhan nyawa anak-anak di Distrik Mbua. Media daring yang bagai kilat melaporkan 50an anak mati. Terlebih, saat itu sedang ramai pembicaraan tentang ebola. Persiapan kami menghadapi itu semua adalah: mengucap basmalah. Keselamatan memang jadi faktor utama. Kebutuhan logistik sudah tersedia, peralatan medis dasar juga sudah ada. Takdir membawa kami ke Distrik Mbua, untuk membukakan mata, siapapun yang ada di Jakarta. Saat mobil tiba di jalan keci

Jalan Raya Tertinggi di Indonesia 3600 MDPL (1)

Dua tahun lalu, pergi ke Papua itu sangat mahal, bahkan lebih mahal ketimbang berlibur ke Jepang. Kalau bukan karena penugasan dari rapat redaksional, saya tak mungkin bisa ke sana. Saat itu saya mengejar cerita tentang kematian misterius puluhan anak di Distrik Mbua, Kabupaten Nduga. Saya masih ingat, penerbangan dari Jakarta, transit dahulu di Makassar, berlanjut menuju Manokwari, kemudian Jayapura, dan akhirnya tiba di Wamena. Bandaranya kala itu masih tradisional. Saya gambarkan seperti terminal bus era 90an. Tapi sekarang bandara yang baru sudah dibuka, setaraf dengan bandara-bandara di tempat saya dan tim, transit sebelum sampai Wamena. Pak Nico, driver kami menjemput dengan mobil yang memiliki spesifikasi tangguh di medan pegunungan. Kami mengisi bahan bakar dahulu. 20 liter bensin, seharga 2 juta rupiah. Saya dan kedua rekan langsung terkejut. Pegunungan di sekeliling menyembul, pamer keindahan. Saya tanyakan kepadanya, apakah dia bahagia tinggal d