Skip to main content

Mengenang Palu, meresapi tiap meter kehancuran






Hancur semua! Hancur! Pertama kali tiba di bandara Mutuara Sis Al Jufri, air mata ini tak dapat dibendung. Kehancuran separuh bagian bandara nyata di depan mata. Saya cubit beberapa kali tangan ini untuk memastikan bahwa apa yang saya lihat bukan mimpi.

Bang Eddy, sahabat saya yang menjemput. Dia telah menemani semua rangkaian liputan sejak 2016 lalu, saat isu teroris, kelompok Santoso menyeruak.

Saya peluk dia, sambil menangis, seakan-akan musibah itu juga menimpa saya.

"Kau belum lihat jembatan kuning sekarang?" Kata Bang Eddy.

Kami akhirnya coba untuk melihat seisi kota pasca gempa. Kaki saya gemetar, bahkan ketika melihat pesisir pantai, tempat biasanya kami menghabiskan sore usai liputan.



Mobil bisa-bisanya sampai ke atap rumah, bangunan di pesisir yang masih berdiri, turun sekitar 1 meter.

Palu Grand Mall tempat kami menghibur diri usai liputan panjang di Poso, sebagian hancur.

Padahal tahun lalu, saat tiba untuk meliput Tour de Central Celebes, Bandara ramai dengan tarian-tarian penyambutan tamu dan para pesepeda dalam maupun luar negeri, malamnya saat pembukan, anjungan Nusantara dibuat ramai dengan panggung hiburan. Penyanyi asal Maluku yang terkenal di Palu, Mitha Talahatu, menyanyikan lagu 'sayang' semua terbawa suasana angin pantai, tak lama kembang api memeriahkan teluk itu. Kala itu, saya bilang, wow Palu berubah menjadi kota metropolis, dengan bentang alam dan modernisasi menyatu.

Padahal, pada 2011 lalu, pertama kalinya saya ke Palu, kota itu hanyalah pusat kumpul manusia yang menjenuhkan.

Pada Maret lalu, saya yang tak bisa lepas dari kopi (snob sedikit) ngotot mencari kedai kopi specialty, seisi kota kami putari, google maps kami buka berkali-kali.

Kala itu liputannya ke Sigi, seminggu di hutan, ketika menyentuh kota seperti Palu, harapannya bisa menikmati 1 gelas arabica dari Pantan Musara. Benar saja, kedai kopi itu akhirnya kami temukan, kopi dari Pantan Musara, dikirimkan dari Roasting house di Bandung, siapa pemrosesnya?

Hendra Maulizar! saya foto bungkus kopinya lalu kirim lewat whatsapp.

Lihat kan, segalanya ada di Palu.

Lamunan saya tentang momen itu terpecah ketika Bang Eddy menunjukkan jembatan kuning, yang runtuh.

Saya sudah tidak bisa menangis lagi, ketika banyak orang dengan jaket relawannya, berswafoto sambip cekikikan.

Padahal beberaa bulan sebelumnya, saat jalanan dan jembatan ditutup untuk balap sepeda, saya sempat menunggu lama di sana, mengabadikan gambar, dan mengandaikan diri saya berada di Golden Gate, atau bahkan Broklyn Bridge.

Dari kejauhan, jembatan kuning itu nampak gagah, apalagi jika malam tiba, lampu berwarna, berpijar jadi hiasan kota.

Itu terlihat dari anjungan pantai Talise dan balkon hotel Palu golden. Bakon bersejarah bagi liputan saya. 2016 dan 2017 lalu live report dari sana karena sudah kelelahan, dan tim bisa langsung tidur.

Kamar hotel yang sempat kaminubah menjadi studio mini untuk wawancara keluarga Santoso, orang yang paling dicari kala itu.

Kemudian semua bayangan itu hilang karena pantai hancur, jembatan hancur, hanya Hotel itu yang berdiri meski halamannya porak poranda.

Pagi setelah gempa berhari-hari, kami memutuskan untuk melihat Jono Oge, ribuan orang terkubur hidup-hidup karena likuifaksi.

Jalan yang saya lalui itu biasanya menyimpan pemandangan yang menakjubkan. Tapi kini, Jalanan dari Biromaru menuju Jono Oge terputus. Gempa membelah aspal, likuifaksi memelintir aspal.

Jalan itu biasa kami lalui menuju Napu, sambil mendengar band rock jadul, Sahara. Lagu Angin Malam, Biarlah Sepi, dan Satu Rasa, membuat kami terlena dari sepinya suasana jalanan. Teriak tidak karuan mengikuti nyanyian sang vokalis, Ixan Rantas.



Tapi kini hingar bingar itu lenyap karena Jono Oge, bagai kuburan massal. Kebun dari pegunungan bergeser ke tempat itu, sebagian desa tenggelam, yang lain bergeser. Lumpur bergerak seperti ombak, kata Yunus, dia tak bisa melihat, namun selamat, anak dan istrinya tak selamat. Seluruh tubuhnya penuh luka sayatan, bekas benda-benda tajam yang tergulung ombak lumpur bersama dirinya. Yunus saya temui di desa Sidera, tempatnya mengungsi.





Jalan dari Biromaru terputus menuju desa Sidera, saya harus jalan kaki menyeberang melewati kuburan massal itu sejauh 3 kilometer. Lumpur masih basah dan bisa menjebloskan manusia sedalam lebih dari 1 meter.

Saat kehausan karena minum sudah habis, terik matahari begitu menyengat, satu rumah yang masih bertahan, jadi tempat kami berteduh. Bertemulah saya dengan Aris, yang membagi buah naga hasil petikkannya dari kebun yang bergeser menuju desa. Mengilangkan haus sejenak.

Aris mengajak saya menuju pengungsian di desa Sidera. Ibunya stroke, menanti kursi roda.

Hari itu, saya coba telepon sana sini meminta bantuan, hingga keesokan harinya. Tidak ada yang merespon, setidaknya memeriksa keadaan sang ibu.

Sampai pada akhirnya, tim medis dari MER-C merespon laporan saya mereka bergegas ke titik yang saya tunjukkan.





Itu pertama kalinya saya merasa berguna menjadi manusia.

Saya tak perlu menjadi filantropi untuk bisa menolong orang, yang saya butuhkan adalah kemauan untuk berbicara.

Bukit Pohon Jomblo, yang terletak dekat Gong perdamaian seakan meratapi kesedihannya ketika dari situ, teluk palu yang dahulu cantik, jadi hancur tak keruan.

Hari semakin sempit menuju kepulangan, banyak keluarga yang masih mencari orang tercintanya. Pengumuman orang hilang banyak ditempel di posko bencana.

Masih merenung di pantai, ombak kuat menghantam beton yang tersisa, aroma jenazah masih menyeruak di depan Palu Grand Mall.

Rumah makan sulit dicari, bekal kami seadanya berupa biskuit dan air mineral, terkadang nasi ayam seadanya, sudah tak ada lagi Kaledo Stereo, tempat saya mampir setiap saya datang ke Palu, kuah berlemak, dengan asam jeruk nipis, bawang khas Palu yang dijual per porsi, dimakan dengan buras, bersama sum-sum dan dengkul lembu atau sapi. gurihnya tiada tara.

Pemiliknya sudah meninggal dunia kala tsunami datang, itu yang saya dengar, moga tidak benar.

Ketika berita tsunami dan gempa masih simpang siur, saya menghubungi orang-orang yang saya kenal di sana, cemas tak berkesudahan karena jaringan komunikasi terputus.

Sempat tidak percaya, namun akhirnya, harus menelan pil pahit, karena bencana itu datang menerjang kota dan daerah yang sedang cantik-cantiknya.


Palu yang ku kenal sangat indah, begitupun dengan Sigi dan Donggala, pantai Tanjung Karang dengan terumbu karang yang lengkap selalu jadi pilihan ketika saya menghabiskan waktu di Sulawesi Tengah sebelum terbang ke Jakarta malam atau esok harinya.

Kini,yang biasanya makan Kaledo di Kaledo Stereo, lalu melewati Napu, lepas lelah di Palu Grand Mall, atau sekadar jalan-jalan di pinggir pantai Palu, dan diakhiri berenang di Donggala, sudah tidak ada.


Saya menantikan Sulawesi Tengah untuk bangkit. Simak video di bawah ini:


Comments

Popular posts from this blog

Apakah masih ada senyum terselip di balik masker kain Anda?

Sesudah virus corona, lalu apa? I've asked this question over and over again inside my head. What if we never get back to our ordinary life before pandemic? Karena makin lama, lingkungan di luar sana seperti planet lain bagi saya.  Setiap minggu level stres naik, bukan saya sendiri yang mengalaminya, tapi semua orang. Jika pada pekan lalu mereka yang saya temui di jalan masih enak diajak ngobrol, kali ini, semua menatap bak kriminal. Saya menghabiskan waktu di rumah sekaligus bekerja. Dalam seminggu, hanya sekali keluar untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Sehari sebelum ramadan, saya meliput masjid dekat rumah. Awalnya semua baik-baik saja, saya sapa marbot dan dia mengizinkan saya meliputnya. Cerita yang ingin sekali saya dengar adalah para marbot yang nelangsa kala ramadan. Jika tahun lalu jamaah salat tarawih berbaris-baris hingga menyesakkan seisi masjid, kini ibadah itu ditiadakan.  Gerbang depan masjid dalam keadaan terkunci, kain penutup dipasang di teras masjid

Jalan Raya Tertinggi di Indonesia 3600 MDPL (2)

Kalau dipikir, kemiringan jalannya sampai 60 derajat, saya sudah cemas, karena setelah tanjakan langsung tikungan, lalu turun curam dan berbelok di jalan yang mulai berlumpur. Apalagi yang bisa saya lakukan selain tertawa. Menertawakan hidup saya, yang jauh-jauh datang ke Papua hanya untuk menyetor nyawa. Saat itu, Trans Papua sedang dibangun. Cerita yang saya dengar, awalnya saat pembukaan jalur, TNI lah yang bergerak. Beberapa titik masih rawan. Kami sama-sama berdoa sambil bercanda di mobil. Wabah misterius itu merenggut puluhan nyawa anak-anak di Distrik Mbua. Media daring yang bagai kilat melaporkan 50an anak mati. Terlebih, saat itu sedang ramai pembicaraan tentang ebola. Persiapan kami menghadapi itu semua adalah: mengucap basmalah. Keselamatan memang jadi faktor utama. Kebutuhan logistik sudah tersedia, peralatan medis dasar juga sudah ada. Takdir membawa kami ke Distrik Mbua, untuk membukakan mata, siapapun yang ada di Jakarta. Saat mobil tiba di jalan keci

Jalan Raya Tertinggi di Indonesia 3600 MDPL (1)

Dua tahun lalu, pergi ke Papua itu sangat mahal, bahkan lebih mahal ketimbang berlibur ke Jepang. Kalau bukan karena penugasan dari rapat redaksional, saya tak mungkin bisa ke sana. Saat itu saya mengejar cerita tentang kematian misterius puluhan anak di Distrik Mbua, Kabupaten Nduga. Saya masih ingat, penerbangan dari Jakarta, transit dahulu di Makassar, berlanjut menuju Manokwari, kemudian Jayapura, dan akhirnya tiba di Wamena. Bandaranya kala itu masih tradisional. Saya gambarkan seperti terminal bus era 90an. Tapi sekarang bandara yang baru sudah dibuka, setaraf dengan bandara-bandara di tempat saya dan tim, transit sebelum sampai Wamena. Pak Nico, driver kami menjemput dengan mobil yang memiliki spesifikasi tangguh di medan pegunungan. Kami mengisi bahan bakar dahulu. 20 liter bensin, seharga 2 juta rupiah. Saya dan kedua rekan langsung terkejut. Pegunungan di sekeliling menyembul, pamer keindahan. Saya tanyakan kepadanya, apakah dia bahagia tinggal d