Skip to main content

Posts

Showing posts with the label coffee

Kopi & Yang Belum Selesai (3)

Setelah satu tahun sebagai orang yang fanatik terhadap kopi, akhirnya, saya merasakan kembali, mual yang diakhiri dengan keringat dingin. Malam ini saya tak bisa tidur, menanti sendawa demi sendawa. Ternyata saya tidak bisa minum sembarang kopi. Coffee snob? Am I? Bukan, bukan itu. Ya Allah, jauhkanlah saya dari prasangka itu. Perut saya memang tidak cocok dengan kopi-kopi tertentu. Ini harus ada penelitiannya. Penelitian itu sebenarnya sudah ada 100 tahun lalu. Dalam buku All About Coffee, yang terbit di New York pada 1922 lalu, William H. Ukers menjelaskan hasil experimen banyak ahli, konkulsinya, jika kafein dikonsumsi dalam takaran yang moderat, akan menghasilkan simultan yang baik untuk efisiensi kerja mental dan fisik. Maksudnya adalah, stimulan bagi sistem pencernaan, dan kemudian berpengaruh dengan gerakan peristaltik usus. Kopi juga bereaksi di ginjal sebagai diuretik atau zat yang dapat mempercepat pembentukan urin. Kelebihan asam dalam urin, dalam penelitian kala...

Kopi dan Yang Belum Selesai (2): Suguhan kopi setelah konflik berdarah

Sebuah sungai membelah perkebunan Sawit, di Mesuji. Pada 2011 lalu pembantaian terhadap para pekerja perkebunan terjadi. Kepala mereka terpenggal dan diperlihatkan dalam sebuah video di ruang rapat gedung perwakilan rakyat. Video itu mengantarkan saya ke Mesuji. Lewati liku jalan tak beraspal di tengah perkebunan Sawit. Jalan itu berujung pada sebuah sungai yang membelah perkebunan. Perahu-perahu kecil merapat, membawa sawit. Sebuah rumah panggung berdiri paling tinggi di tepi sungai Sodong. Di bawahnya terdapat meja dan kursi kayu tempat menunggu Kepala Desa. Saya hanya inginkan fakta. Karena ada kabar bahwa terjadi pembantaian di desa itu. Sekeliling saya adalah perkebunan Sawit, desa itu benar-benar berada di tengah-tengah perkebunan. Dalam sunyi, seseorang menghampiri, menanyakan maksud kedatangan kami. Saya beserta tiga kru lainnya, duduk menunggu. Sesaat kemudian, empat gelas kopi datang. Kopinya hitam pekat, robusta khas Lampung, dengan gula yang masih mengendap ...

Kopi dan yang belum selesai: Kedai kopi adalah terminal universal

Perjumpaan saya dengan secangkir kopi pahit, dimulai pada 2013 lalu, ketika saya mendatangi Kedai Kopi Asiang, di Pontianak, Kalimantan Barat. Laki-laki tua bertelanjang dada, dengan tato yang gambarnya tak menarik, menyeduh kopi degan atraksi. Mengangkat tinggi-tinggi ketel dan mengaliri gelas-gelas porselain kecil ala Kopi Tiam. Istrinya membagikan gelas-gelas itu kepada para pemesan, termasuk saya. Om Asiang, kebanyakan orang memanggilnya, mencampur sendiri biji kopi dari beberapa penyuplai, lalu menggilingnya. Kala itu, saya belum mengenal kopi, yang saya tahu adalah ketika Om Asiang mulai beratraksi itu semacam kode untuk memanggil para pelanggan, bahkan yang tidak menyukai kopi, seperti saya. Pelanggannya, adalah pebisnis teri hingga kakap, politikus bawah tanah, hingga yang fotonya sudah terpampang di mana-mana pada saat pemilihan anggota legislatif. Saya, hanyalah seseorang yang memanfaatkan mesin pencari google, tempat populer mana sekitar hotel yang harus dikunjung...