Skip to main content

Kopi & Yang Belum Selesai (3)


Setelah satu tahun sebagai orang yang fanatik terhadap kopi, akhirnya, saya merasakan kembali, mual yang diakhiri dengan keringat dingin.

Malam ini saya tak bisa tidur, menanti sendawa demi sendawa. Ternyata saya tidak bisa minum sembarang kopi.

Coffee snob?

Am I?

Bukan, bukan itu. Ya Allah, jauhkanlah saya dari prasangka itu. Perut saya memang tidak cocok dengan kopi-kopi tertentu. Ini harus ada penelitiannya. Penelitian itu sebenarnya sudah ada 100 tahun lalu. Dalam buku All About Coffee, yang terbit di New York pada 1922 lalu, William H. Ukers menjelaskan hasil experimen banyak ahli, konkulsinya, jika kafein dikonsumsi dalam takaran yang moderat, akan menghasilkan simultan yang baik untuk efisiensi kerja mental dan fisik. Maksudnya adalah, stimulan bagi sistem pencernaan, dan kemudian berpengaruh dengan gerakan peristaltik usus. Kopi juga bereaksi di ginjal sebagai diuretik atau zat yang dapat mempercepat pembentukan urin. Kelebihan asam dalam urin, dalam penelitian kala itu, tidak menunjukkan tanda-tanda membahayakan.

Jawaban itulah yang saya dapatkan dari sebuah buku hasil berbalas email satu pekan ke beberapa perpustakaan. Saya mendapatkan versi PDF nya, buku setebal lebih dari 800 halaman itu membuat daftar asal penanaman kopi berikut karakteristiknya. Di Indonesia, pada 1922, setidaknya saat buku itu terbit, sudah ada dua lusin daerah penghasil kopi.

Contohlah Mandheling, dalam daftar itu, tertulislah "best coffee in the world" harga tertinggi, bijinya besar, bodi berat, rasa dan aroma yang didefinisikan "exquisite"

Kala itu, Indonesia masih menjadi Netherlands East Indies Sumatera. Dengan pusat dagang kopi mulai dari Sumatera Utara, sampai ke Krui, lalu ke Jawa, Flores, bahkan Sulawesi.

Kalau dipikir, buku itu juga menjelaskan beragam cara penyajian kopi, sampai berapa sentimeter tinggi ideal sebuah meja untuk menyajikan kopi. Lalu saya bingung, sebuah buku berusia hampir 100 tahun, bisa menjelaskan fenomena 3rd wave Coffee Culture yang gandrung lima tahun belakangan di Indonesia.

Sebelum gerai kopi moderen yang didefinisikan sebagai 2nd Wave muncul, kita menubruk! Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kopi tubruk, namun saya kurang setuju jika disebut 1st Wave. Karena itu tadi, 3rd Wave sudah terdefinisi sejak dahulu kala. Kita saja yang terlalu reaktif mau diapakan kopi specialty di depan mata kita. Rasanya sayang kalau hanya tubruk. Tetapi tunggu, pada 2015 lalu, saya sempat ke Banyuwangi.

Saat itu, saya meliput program dokumenter tentang Banyuwangi, bersama juru kamera dan produser lapangan, malamnya kami datang ke tempat Iwan Subekti, yang bagi saya adalah museum bagi Suku Osing. Dia membeli rumah kayu suku Osing yang masih tersisa, lalu menyusunnya lagi di tempatnya. Di Bangunan paling depan terdapat teras luas tempat kami menunggu. Ada semacam bar kopi di tengah, dengan mesin espresso.

Sebelum dapat duduk di sana, Iwan Subekti, merupakan orang yang susah ditebak, dia adalah maestro kopi agak ajaib, dengan mood yang bisa saja berubah. Itu kata-kata kontributor kami, sebelum menyambangi tempatnya.

Maka dari itu, pendekatan yang kami lakukan ke Pak Iwan sangatlah halus. Awalnya raut wajah Pak Iwan merengut.

"Ada apa ke sini?" Katanya dingin.

Setidaknya kami datang dengan maksud baik. Pak Iwan ternyata suka kepada orang-orang yang penasaran akan kopi dan budaya.

Anggaplah saya bodoh, lalu bertanya karena ingin tahu. Dia menyajikan kopi, awalnya satu cangkir kecil.

Katanya, suhu air panas itu harus sesuai, mengaduknya saja kalau bisa tidak boleh pakai sendok metal, pakailah kayu. Karena metal bisa mengurangi suhu. Lihatlah cremanya, karena itu indikasi kopi yang baik. Sangat mendasar, namun benak saya berkata, orang ini sungguh gila. Mengapa suhu penting?

Karena dalam secangkir kopi, ada reaksi kimia. Crema adalah tingkat kepuasan kopi saat terseduh. Pak Iwan lalu menjelaskan tentang Tubruk.

"Orang kita itu kebule-bulean, dulu, londo bilang I want to brew my coffee,"

Dia lalu melanjutkan kalimatnya sambil tertawa
Orang sok londo memesan kopi "mas pesan kopi to brew," si penyaji kopi menjawab "to brew?" Lalu si orang sok londo itu bilang "iyo mas, tu bruk, iyo, tubruk."

Candaan seorang maestro kopi kelas dunia, di Banyuwangi akhirnya berhenti. Ketika saya bilang "pak, saya itu kalau minum kopi selalu mual,"

Dijawablah dengan kalimat "coba kopi yang saya buatkan."

Tiga cangkir kopi saya habiskan malam itu, tanpa rasa mual sedikitpun. Bagi saya, jika kopi diperlakukan dengan benar, kita akan mendapatkan benefitnya. Tetapi kalau tidak, sendawa demi sendawa akan mengganggu tidurmu.

Sama halnya dengan manusia. Berbuat baik kepada sesama, akan menghasilkan karma baik, dan sebaliknya.

Comments

Popular posts from this blog

Apakah masih ada senyum terselip di balik masker kain Anda?

Sesudah virus corona, lalu apa? I've asked this question over and over again inside my head. What if we never get back to our ordinary life before pandemic? Karena makin lama, lingkungan di luar sana seperti planet lain bagi saya.  Setiap minggu level stres naik, bukan saya sendiri yang mengalaminya, tapi semua orang. Jika pada pekan lalu mereka yang saya temui di jalan masih enak diajak ngobrol, kali ini, semua menatap bak kriminal. Saya menghabiskan waktu di rumah sekaligus bekerja. Dalam seminggu, hanya sekali keluar untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Sehari sebelum ramadan, saya meliput masjid dekat rumah. Awalnya semua baik-baik saja, saya sapa marbot dan dia mengizinkan saya meliputnya. Cerita yang ingin sekali saya dengar adalah para marbot yang nelangsa kala ramadan. Jika tahun lalu jamaah salat tarawih berbaris-baris hingga menyesakkan seisi masjid, kini ibadah itu ditiadakan.  Gerbang depan masjid dalam keadaan terkunci, kain penutup dipasang di teras masjid

Jalan Raya Tertinggi di Indonesia 3600 MDPL (2)

Kalau dipikir, kemiringan jalannya sampai 60 derajat, saya sudah cemas, karena setelah tanjakan langsung tikungan, lalu turun curam dan berbelok di jalan yang mulai berlumpur. Apalagi yang bisa saya lakukan selain tertawa. Menertawakan hidup saya, yang jauh-jauh datang ke Papua hanya untuk menyetor nyawa. Saat itu, Trans Papua sedang dibangun. Cerita yang saya dengar, awalnya saat pembukaan jalur, TNI lah yang bergerak. Beberapa titik masih rawan. Kami sama-sama berdoa sambil bercanda di mobil. Wabah misterius itu merenggut puluhan nyawa anak-anak di Distrik Mbua. Media daring yang bagai kilat melaporkan 50an anak mati. Terlebih, saat itu sedang ramai pembicaraan tentang ebola. Persiapan kami menghadapi itu semua adalah: mengucap basmalah. Keselamatan memang jadi faktor utama. Kebutuhan logistik sudah tersedia, peralatan medis dasar juga sudah ada. Takdir membawa kami ke Distrik Mbua, untuk membukakan mata, siapapun yang ada di Jakarta. Saat mobil tiba di jalan keci

Jalan Raya Tertinggi di Indonesia 3600 MDPL (1)

Dua tahun lalu, pergi ke Papua itu sangat mahal, bahkan lebih mahal ketimbang berlibur ke Jepang. Kalau bukan karena penugasan dari rapat redaksional, saya tak mungkin bisa ke sana. Saat itu saya mengejar cerita tentang kematian misterius puluhan anak di Distrik Mbua, Kabupaten Nduga. Saya masih ingat, penerbangan dari Jakarta, transit dahulu di Makassar, berlanjut menuju Manokwari, kemudian Jayapura, dan akhirnya tiba di Wamena. Bandaranya kala itu masih tradisional. Saya gambarkan seperti terminal bus era 90an. Tapi sekarang bandara yang baru sudah dibuka, setaraf dengan bandara-bandara di tempat saya dan tim, transit sebelum sampai Wamena. Pak Nico, driver kami menjemput dengan mobil yang memiliki spesifikasi tangguh di medan pegunungan. Kami mengisi bahan bakar dahulu. 20 liter bensin, seharga 2 juta rupiah. Saya dan kedua rekan langsung terkejut. Pegunungan di sekeliling menyembul, pamer keindahan. Saya tanyakan kepadanya, apakah dia bahagia tinggal d