Skip to main content

Kopi & Yang Belum Selesai (6)







Mendadak hari itu mengejar Susi pudjiastuti, menteri kelautan dan perikanan. Saya sedang membuat satu episode dokumenter tentang perubahan iklim yang berdampak terhadap produksi garam nasional. Kementeriannya merekomendasikan impor garam untuk pemenuhan kebutuhan garam se Indonesia.

Saya harus wawancara dia tentang itu, harus.

Agendanya padat. Dia pergi ke Natuna bersama staffnya, meresmikan sekaligus sosialisasi tempat pengolahan ikan terpadu di Natuna.

Sesaat setelah kami tiba, mampir sebentar ke sebuah rumah makan yang menyajikan hidangan khas Natuna, Ayam goreng rempah. Sebuah pulau yang menghadap langsung ke Laut Natuna Utara, jalur migrasi banyak jenis mahluk laut yang hasilnya melimpah, menyajikan mahluk darat. Tapi cukup sedap.

staffnya mengajak kami langsung menyeberang ke Pulau Senoa. Dari Natuna, pulau itu terlihat seperti perempuan hamil yang sedang tidur. Sesungguhnya saya ikut bersama rombongan undangan wartawan, Karena saat saya tanya ke bagian humas untuk wawancara tentang garam yang kala itu sedang sensitif, ia merekomendasikan untuk mengikut sertakan saya dalam rombongan, dan nenyuruh saya untuk melobi sendiri.

Bu Menteri sedang menikmati laut, sekitar 100 meter dari bibir pantai, saat kapal kami merapat. Pulau Senoa dijaga penuh oleh pemerintah, terdapat semacam penanda, jika pulau itu masih bagian dari wilayah Indonesia. Gradasi biru air jernihnya memanggil semua orang untuk berenang.

Ia menggunakan papan dayung, sesekali berdiri tegak, dan menceburkan diri ke laut, lalu naik lagi, kadang istirahat. Ia dikawal oleh beberapa orang, Kopaska.

Ketika sedang lelah, ia duduk sebentar, memegang secangkir kopi.

Dari sana, suaranya yang menggeleggar memanggil kami, para jurnalis beserta staffnya untuk berenang di laut bersamanya. Maaf, saya tidak membawa pakaian berenang. saya hanya mengenakan celana jeans, dan kaus lengan panjang. Beberapa kali ia memanggil.

Bagi saya ini adalah kesempatan untuk mendekati Bu Susi, agar dia mau saya wawancara perihal garam.

Berenang ke arahnya dengan celana jeans yang memberatkan tendangan kaki saya di dalam air, bukanlah tindakan yang bijak, karena sama saja seperti berlari dengan pemberat.

"Halo bu Susi, saya bawa kopi enak lho, nanti malam kalau sempat saya buatkan ya bu" kaki saya menendang keras agar bisa tetap di permukaan laut

"Bener ya, saya tunggu,"

Saya bingung, bagaimana memulai pembicaraan dengannya.

"Bu, saya mau nyoba berenang sama ibu, gimana caranya biar napas kuat, saya juga perokok," Saya yakin ini sangat klise, tapi demi sebuah goal, mengapa tidak, mumpung ada di depan mata.

"Put your hand like this, and then you kick, over and over again,"

Sesaat setelah berenang, ia mengizinkan saya untuk mencoba papan dayungnya. Juru kamera saya sangat sigap mengabadikan video, saya sedikit bercerita di depan kamera yang coba mendekati posisi saya di dekat anjungan.

"Ternyata, susah sekali paddling....." belum selesai saya berbicara, sang menteri lalu berteriak..."ah wartawannya cengeng"

Saya dalam hati berucap, tahan malu tak seberapa, basah-basahan saya lakoni, yang penting dia ada mood untuk saya wawancara.

Bu Susi sedikit tertarik dengan tema wawancara yang saya ajukan. Selangkah lagi berhasil. Sampai esoknya, saat doorstop, usai acara sosialisasi tempat pengolahan ikan terpadu, seorang wartawan lokal bertanya dengan tidak sopan.

"Itu garam...garam gimana,"

Sang Menteri, langsung berubah marah. Saya juga marah. Karena hari itu, demi sesi wawancara dengannya, saya rela mengikuti segala agenda, di Natuna pula, yang seharusnya bisa snorkeling sampai keling.

Saya rela terliha bodoh berenang di laut dengan celana jeans.

Kamipun merancang strategi lagi. Ada waktu yang tepat, ketika ia menyambangi tempat penahanan awak kapal asing, yang secara ilegal menangkap ikan di perairan Indonesia.

Kami (wartawan dan staff KKP) membuntuti jejak kapal sang Menteri. Saat itu mulai hujan, anak buah kapal asal Vietnam berbaris di depan tempat penampungan.

"Kalian boleh pulang, tapi jangan kembali lagi ke Indonesia."

Itu pesan Susi pudjiastuti terhadap ABK asing yang tertangkap basah mencuri ikan kita. Selanjutnya, beberapa agenda lagi, dan kami berkesempatan wawancara.

Bu Susi sebenarnya tahu maksud wawancara saya. Maka dari itu dia merekomendasikan dirjen nya untuk diwawancara...di Jakarta.

Walau akhirnya saya mendapatkan sesi wawancara. "Mau wawancara di Jakarta saja Vano,"

Kata-kata itu bagai petir. Kami kejar kau, berlarian sampai basah...

Sambil meringis saya katakan "bu, di sini backgroundnya sangat indah, masa menteri kelautan wawancara dengan background tembok, ya sudah paling benar di laut."

Dia terseyum, lalu mengisyaratkan untuk dapat kami wawancara.


Misi, sukses.

Malamnya, kami diundang ke penginapannya di Alif Stone, pemandangan malam itu sangat mewah. Polusi cahaya minim. Kami tidur di atas batu-batu granit.

Natuna bagi saya adalah taman geologi, karena memiliki batu granit berukuran raksasa yang berusia ratusan juta tahun (mungkin).

Kalau di lihat dari udara, Natuna bertabur batu mulia, seperti tasbih black onyx milik pak Haji yang tercecer, namun banyak sekali.

Oh saya lupa, janji saya untuk membuatkan kopi Bu Susi belum terlaksana, sempat saat di Jakarta menghubungi salah satu stafnya untuk mengirim biji kopi, tapi belum sempat. Maaf.


Video tentang menikmati laut ala Susi Pudjiastuti bisa dilihat di sini





Comments

  1. Aku bacanya seraya tersenyum. Ada pesan ttg bagaimana mewawancarai seseorang dengan baik. Lalu dibawa ingat ke momen dimana selama ini cara memulai wawncara aku kurang baik:( trimakasih mas vano:)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Apakah masih ada senyum terselip di balik masker kain Anda?

Sesudah virus corona, lalu apa? I've asked this question over and over again inside my head. What if we never get back to our ordinary life before pandemic? Karena makin lama, lingkungan di luar sana seperti planet lain bagi saya.  Setiap minggu level stres naik, bukan saya sendiri yang mengalaminya, tapi semua orang. Jika pada pekan lalu mereka yang saya temui di jalan masih enak diajak ngobrol, kali ini, semua menatap bak kriminal. Saya menghabiskan waktu di rumah sekaligus bekerja. Dalam seminggu, hanya sekali keluar untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Sehari sebelum ramadan, saya meliput masjid dekat rumah. Awalnya semua baik-baik saja, saya sapa marbot dan dia mengizinkan saya meliputnya. Cerita yang ingin sekali saya dengar adalah para marbot yang nelangsa kala ramadan. Jika tahun lalu jamaah salat tarawih berbaris-baris hingga menyesakkan seisi masjid, kini ibadah itu ditiadakan.  Gerbang depan masjid dalam keadaan terkunci, kain penutup dipasang di teras masjid

Jalan Raya Tertinggi di Indonesia 3600 MDPL (2)

Kalau dipikir, kemiringan jalannya sampai 60 derajat, saya sudah cemas, karena setelah tanjakan langsung tikungan, lalu turun curam dan berbelok di jalan yang mulai berlumpur. Apalagi yang bisa saya lakukan selain tertawa. Menertawakan hidup saya, yang jauh-jauh datang ke Papua hanya untuk menyetor nyawa. Saat itu, Trans Papua sedang dibangun. Cerita yang saya dengar, awalnya saat pembukaan jalur, TNI lah yang bergerak. Beberapa titik masih rawan. Kami sama-sama berdoa sambil bercanda di mobil. Wabah misterius itu merenggut puluhan nyawa anak-anak di Distrik Mbua. Media daring yang bagai kilat melaporkan 50an anak mati. Terlebih, saat itu sedang ramai pembicaraan tentang ebola. Persiapan kami menghadapi itu semua adalah: mengucap basmalah. Keselamatan memang jadi faktor utama. Kebutuhan logistik sudah tersedia, peralatan medis dasar juga sudah ada. Takdir membawa kami ke Distrik Mbua, untuk membukakan mata, siapapun yang ada di Jakarta. Saat mobil tiba di jalan keci

Jalan Raya Tertinggi di Indonesia 3600 MDPL (1)

Dua tahun lalu, pergi ke Papua itu sangat mahal, bahkan lebih mahal ketimbang berlibur ke Jepang. Kalau bukan karena penugasan dari rapat redaksional, saya tak mungkin bisa ke sana. Saat itu saya mengejar cerita tentang kematian misterius puluhan anak di Distrik Mbua, Kabupaten Nduga. Saya masih ingat, penerbangan dari Jakarta, transit dahulu di Makassar, berlanjut menuju Manokwari, kemudian Jayapura, dan akhirnya tiba di Wamena. Bandaranya kala itu masih tradisional. Saya gambarkan seperti terminal bus era 90an. Tapi sekarang bandara yang baru sudah dibuka, setaraf dengan bandara-bandara di tempat saya dan tim, transit sebelum sampai Wamena. Pak Nico, driver kami menjemput dengan mobil yang memiliki spesifikasi tangguh di medan pegunungan. Kami mengisi bahan bakar dahulu. 20 liter bensin, seharga 2 juta rupiah. Saya dan kedua rekan langsung terkejut. Pegunungan di sekeliling menyembul, pamer keindahan. Saya tanyakan kepadanya, apakah dia bahagia tinggal d