Skip to main content

Kopi & Yang Belum Selesai (8)



Malam yang dingin di Kota Takengon. Satu-satunya yang membuat bahagia jalan di kota ini adalah kedai kopinya. Bermacam-macam kopi specialty tersedia berikut variasi penyeduhannya.

Kala matahari masih berpijar, kita bisa bahagia dengan bentang alamnya, dan ketika malam menjemput, obrolan demi obrolan menghiasi benak. Mengisi laci-laci kosong di dalam pikiran.

Kabut turun pelan-pelan di jalan, lampu jejeran kedai masih terang, penanda hidupnya industri kopi di Takengon.

Iwan Juni, bersama komunitas pegiat kopi Gayo, mengajak saya berkumpul, di sebuah kedai kopi.

"Aduh, ini disimpan berapa lama? Kopi ini tengik sekali,"

Bang Iwan berbicara kepada salah satu barista yang menyuguhkan kopi di meja kami. Si Barista menjelaskan, baru satu bulan setelah dipanggang.

Dipanggang itu padanan kata roasting. saat menyusun naskah dokumenter tentang Pasar Baru Kopi Gayo, yang akhirnya jadi dua episode dan selalu diputar di Fakultas Kopi, saya dan Nana Riskhi, produser program, sempat bingung. Ada padanan lain seperti sangrai, gongseng, bakar, namun lebih cocok panggang, karena menggunakan alat pemanggang.

Bisa jadi penyimpanannya yang tidak benar. Rata-rata usia biji kopi specialty setelah dipanggang sangatlah pendek. Selain permintaan yang membludak, menjaga kesegaran aroma dan rasa tidak bisa dilakukan sembarangan. 

Biji kopi dalam ruang vakum, yang saya simpan dua minggu setelah dipanggang, dan biji kopi yang sama, yang saya minum setelah enam bulan disimpan, rasanya berbeda. 

Bahwa perjalanan kopi, seperti yang teridentifikasi dalam buku All About Coffee, tulisannya William H. Ukers, ada 24 tahapan tentang kopi yang harus dilalui. 



Saya setuju dengan pemuliaan kopi, misal dari segala evolusinya dilakukan dengan khusus sehingga dijadikan kopi specialty. Karena jika saya bandingan tulisan awal abad 20 dengan studi-studi para ahli yang telah dilakukan pada awal abad 21, perkembangannya luar biasa. Ada istilah sains kopi, yang saat ini sedang saya dengarkan baik-baik dari obrolan malam itu.

Bang Iwan, menaruh perhatian besar terhadap kopi, akun instagramnya penuh dengan foto-foto pohon kopi dan hasilnya. Secuil informasi yang ia berikan malam itu, bahwa di hutan paling dalam di Aceh Tengah, baru ditemukan pohon-pohon kopi, yang bisa jadi usianya lebih tua dari kedatangan Belanda di Aceh.

Artinya, Belanda bukanlah yang pertama kali mengenalkan Kopi kepada orang Aceh.

Dalam syair didong, terdapatlah istilah "sengkewe" atau kopi. Identifikasi berapa usia syair ini perlu dikaji lebih dalam, yang jelas, Sengkewe dan Gayo, sudah ada sebelum Belanda datang, menurut klaim Fikar W. Eda, sastrawan asli Gayo. Pohon kopi tua dan Sengkewe perlu pembuktian lebih lanjut.

Dalam bahasa Arab, kopi adalah Kahwah, di Turki, kopi dinamakan Kahveh, di Abyssinia bahasanya menjadi kaffa. Istilah coffee baru ada pada tahun 1600an, merunut pernyataan Sir James Murray, di New English Dictionary.

Orang Italia menyebutnya caffe, sementara orang Prancis menyebut kopi sebagai cafe, dan orang Belanda tak jauh beda, melafalkannya sebagi koffie.

Kita di Indonesia menyebutnya kopi, yang pada awal abad 20, memiliki banyak julukan. Tiga julukan yang paling saya suka adalah the festive drink, the universal thrill, dan the symbol of human brotherhood.

Saya jadi ingat perkataan Iwan Subekti, "once we brew, we are bro."

Baru satu jam saya kenal dengan Iwan Juni dan komunitas kopinya, seakan seperti kenal mereka bertahun-tahun, karena ada kopi di tengah meja kami. Bukan bermaksud hiperbolik. Tapi kenyataannya begitu.

Literatur tentang sejarah kopi itu banyak. Debatnya juga panjang. Tergantung sejarah mana yang paling kau percaya. Prinsip saya seperti itu. Percaya karena memiliki banyak catatan kaki dari referensi empiris.

Ini yang menggugah saya untuk keluar masuk perpustakaan, lalu terjun bebas di dunia daring.

Penasaran dengan segala kemungkinan yang muncul tentang asal-usul kopi, tiba-tiba saya kembali ke beberapa abad lampau.



Berdasar catatan di buku Voyages and Advetures of Ferdinand Mendez Pinto yang pernah datang ke Sumatera pada 1539, saat kesultanan Aceh perang, terdapat tentara Turki yang memperkuat barisan di antara pasukan Aceh.

Jalur dagang dari Aceh hingga Arab, melalui laut India juga dipertegas oleh Turki. Hubungan baik pada abad 15 antara Turki dan Aceh, mendukung "keamanan" jalur dagang itu.

Traktat antara Portugis dan Spanyol, bisa jadi adalah awal mula dunia baru di bagian timur bumi tereksplorasi oleh dunia barat. Takdir sejarah yang mengantarkan perang demi perang, penguasaan wilayah, hingga catatan sejarah para penjelajah.

Kala samudera Hindia sedang tenang-tenangnya, kapal dagang Aceh yang membawa rempah untuk dijual di Jeddah, selalu mendapat gangguan dari Portugis. Perampas atas nama penjelajahan dunia baru itu akhirnya pelan-pelan minggir karena bantuan Tentara Turki, mengamankan jalur dagang itu.

Dari penjelajahan literatur, saya tidak menemukan kata kopi, yang pada abad 15, mungkin saja terbawa oleh kapal-kapal dagang yang hilir mudik dari Timur Tengah, menuju Aceh.


Perlu dicatat, saya bukan ahli sejarah, saya suka sejarah, karena bagi saya, sejarah adalah nyawa keberlangsungan hidup masa kini.

Dalam banyak buku, tidak ada satupun yang menyebutkan penyebaran pohon kopi ke Indonesia lewat jalur dagang abad 14 sampai 15 apakah ada kaitannya dengan Arab yang kala itu menutup rapat-rapat penyebaran pohon kopi, dan hanya memperbolehkan kopi dalam bentuk siap saji, yang bisa diperdagangkan ke luar.

Baru dalam tahap kemunginan, ada semacam kode etik antara penulis kala itu, karena penyebaran pohon kopi dilakukan secara diam-diam, atau barangkali, kemasyhuran kopi tertutup gegap gempita rempah dunia timur di tangan rakus bangsa barat...

Saya, berterima kasih kepada Bangsa Arab, yang menemukan kopi. Oh, tidak...tidak...saya justru berterima kasih kepada Bangsa Abyssinia, yang memanfaatkan pohon kopi liar untuk kemudian dijadikan minuman sehitam tinta.

Kala di Takengon, kopi yang saya minum adalah arabica varietas Abyssinia. Saya tidak tahu sama sekali apa itu varietas abyssinia, sebelum saya membaca sejarahnya. The very first coffee, culitivated by the arab in Yemen. Saya merasa terhormat.

Sejarah itu dibuat berdasarkan kesepakatan para otoritas. Kopi pun juga begitu. Pada akhir abad 9, berdasar tulisan Ludolphus, pohon kopi tumbuh liar di Abyssinia, dan kemungkinan di Arab. Penjelajah Arab membawanya ke Yaman. Beberapa data menyebutkan, penanaman kopi pertama kali dilakukan pada abad ke-5, ketika invasi Persia menaklukan Etopia.

Berabad-abad kemudian, tepatnya pada abad 15-16, secara intensif kopi dikembangan di Yaman, dan melarang penyebaran pohon kopi ke luar Arab. Catatan secuil sejarah menceritakan bahwa ibadah haji juga mempengaruhi penyebaran pohon kopi.

Awal tahun 1600an, seorang haji, Baba Budan dari India Selatan, mulai menanam kopi di dalam rimba. Catatan ini mungkin juga berpengaruh pada penyebaran kopi di Indonesia sebelum Belanda datang, namun ini semua masih spekulasi, saya tak mau jadi ahli cocoklogi, yang jelas, inggris diuntungkan. dua abad kemudian, sang penjajah ini mengembang biakan pohon kopi di India.

Belanda mulai menanam kopi pada tahun 1600an. Bibit itu sukse didatangkan dari sebuah daerah bernama Mocha. Awalnya di Ceylon, walaupun Bangsa Arab juga mengklaim pernah membudidayakan kopi di sana pada 1505.

Kopi juga sempat ditanam di Dijon, Prancis, namun gagal. Pada mulanya, tahun 1696, Belanda membudidayakan kopi di Pulau Jawa, kemudian menyebar hingga Sumatera, Sulawesi, Timor, Bali, dan beberapa wilayah jajahan Belanda di Asia Tenggara.



Malam itu, sejarah coba dilihat dari berbagai arah. Saya hampir limpung, dan pamit pulang. 

Comments

Popular posts from this blog

Apakah masih ada senyum terselip di balik masker kain Anda?

Sesudah virus corona, lalu apa? I've asked this question over and over again inside my head. What if we never get back to our ordinary life before pandemic? Karena makin lama, lingkungan di luar sana seperti planet lain bagi saya.  Setiap minggu level stres naik, bukan saya sendiri yang mengalaminya, tapi semua orang. Jika pada pekan lalu mereka yang saya temui di jalan masih enak diajak ngobrol, kali ini, semua menatap bak kriminal. Saya menghabiskan waktu di rumah sekaligus bekerja. Dalam seminggu, hanya sekali keluar untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Sehari sebelum ramadan, saya meliput masjid dekat rumah. Awalnya semua baik-baik saja, saya sapa marbot dan dia mengizinkan saya meliputnya. Cerita yang ingin sekali saya dengar adalah para marbot yang nelangsa kala ramadan. Jika tahun lalu jamaah salat tarawih berbaris-baris hingga menyesakkan seisi masjid, kini ibadah itu ditiadakan.  Gerbang depan masjid dalam keadaan terkunci, kain penutup dipasang di teras masjid

Jalan Raya Tertinggi di Indonesia 3600 MDPL (2)

Kalau dipikir, kemiringan jalannya sampai 60 derajat, saya sudah cemas, karena setelah tanjakan langsung tikungan, lalu turun curam dan berbelok di jalan yang mulai berlumpur. Apalagi yang bisa saya lakukan selain tertawa. Menertawakan hidup saya, yang jauh-jauh datang ke Papua hanya untuk menyetor nyawa. Saat itu, Trans Papua sedang dibangun. Cerita yang saya dengar, awalnya saat pembukaan jalur, TNI lah yang bergerak. Beberapa titik masih rawan. Kami sama-sama berdoa sambil bercanda di mobil. Wabah misterius itu merenggut puluhan nyawa anak-anak di Distrik Mbua. Media daring yang bagai kilat melaporkan 50an anak mati. Terlebih, saat itu sedang ramai pembicaraan tentang ebola. Persiapan kami menghadapi itu semua adalah: mengucap basmalah. Keselamatan memang jadi faktor utama. Kebutuhan logistik sudah tersedia, peralatan medis dasar juga sudah ada. Takdir membawa kami ke Distrik Mbua, untuk membukakan mata, siapapun yang ada di Jakarta. Saat mobil tiba di jalan keci

Jalan Raya Tertinggi di Indonesia 3600 MDPL (1)

Dua tahun lalu, pergi ke Papua itu sangat mahal, bahkan lebih mahal ketimbang berlibur ke Jepang. Kalau bukan karena penugasan dari rapat redaksional, saya tak mungkin bisa ke sana. Saat itu saya mengejar cerita tentang kematian misterius puluhan anak di Distrik Mbua, Kabupaten Nduga. Saya masih ingat, penerbangan dari Jakarta, transit dahulu di Makassar, berlanjut menuju Manokwari, kemudian Jayapura, dan akhirnya tiba di Wamena. Bandaranya kala itu masih tradisional. Saya gambarkan seperti terminal bus era 90an. Tapi sekarang bandara yang baru sudah dibuka, setaraf dengan bandara-bandara di tempat saya dan tim, transit sebelum sampai Wamena. Pak Nico, driver kami menjemput dengan mobil yang memiliki spesifikasi tangguh di medan pegunungan. Kami mengisi bahan bakar dahulu. 20 liter bensin, seharga 2 juta rupiah. Saya dan kedua rekan langsung terkejut. Pegunungan di sekeliling menyembul, pamer keindahan. Saya tanyakan kepadanya, apakah dia bahagia tinggal d