Skip to main content

Mimpi Indah Dari Natuna



                                                                                   
Sebelum memulai perjalanan ke Kabupaten Natuna di ujung utara Indonesia yang disebut ‘pulau terluar’ pada akhir pekan kemarin, saya punya istilah baru untuknya, yakni ‘pulau terdepan’.

Merujuk pidato Presiden Joko Widodo, bahwa kita sudah terlalu lama ‘memunggungi laut’, padahal masa depan bangsa ada di sana. Jadi, tersisip semangat ketika menyebutnya dengan kata ‘terdepan’.


Saya sudah membayangkan duduk di gugusan batu besar Alif Stone Park saat pesawat dari Bandara Internasional Hang Nadim Batam mulai terbang rendah untuk mendarat di Bandara Ranai Natuna setelah terbang selama 3 jam dari Jakarta.


Dari atas pesawat sudah terlihat bebatuan hitam yang tersebar di sepanjang garis pantai berpasir putih, bak perhiasan yang mengundang untuk dijamah wisatawan.

Tak hanya indah, salah satu pintu gerbang Nusantara ini juga memiliki potensi laut yang luar biasa. Dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat bahwa potensi hasil Laut Natuna Utara bisa mencapai angka 1,1 juta ton. Namun, pemerintah kita baru bisa mengeksplorasinya hingga 22 ribu ton per tahun.

Potensi hasil laut Natuna sangat berlimpah bahkan lebih dari cukup, sehingga mengundang penangkap ikan ilegal untuk mencurinya.



Mimpi indah Natuna saat ini adalah membangun Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) yang nantinya akan terkoneksi dengan tol laut, bahkan jalur ekspor. Dengan begitu, Kementerian Kelautan dan Perikanan memberikan nelayan kesempatan untuk memaksimalkan hasil tangkapannya.

Apalagi, patroli perbatasan sudah memberikan ruang bagi nelayan lokal untuk dapat melaut. Karena pesaingnya, kapal asing ilegal, sudah enggan mencuri hasil laut di Laut Natuna Utara. Pertengahan tahun ini saja sudah ada 29 kapal berbendera Vietnam, yang berhasil ditangkap.


Mimpi indah itu masih panjang untuk direalisasikan, target hasil laut pada 2018 nanti hanya naik 2.000 ton, dari tangkapan rata-rata per tahun.

Makan siang dengan menu hasil laut yang segar sudah ada di benak saya begitu menginjakkan kaki di Natuna. Lucunya, saya malah ditawari makan dengan menu ayam goreng bawang, yang menjadi menu saya selama empat hari berada di sana.

Bagi saya identitas suatu daerah adalah makanannya. Tapi, identitas Natuna sebagai penghasil hasil laut jutaan ton belum terwakili lewat makanan yang saya santap selama berada di sana.


Dari tempat makan, saya melanjutkan perjalanan ke Pulau Senoa. Belum ada transportasi umum yang familiar bagi saya, sehingga untuk berkeliling pulau, dibutuhkan mobil sewaan seharga Rp600 ribu perhari, lengkap dengan pengemudi dan bensin.

Lalu lintas di Kabupaten Natuna cenderung sepi, bahkan hanya ada dua lampu lalu lintas yang terpajang. Jadi, berkeliling terasa lebih dekat.

Pulau Senoa hanya berjarak 30 menit perjalanan ke arah timur dari dermaga mana saja di pusat kota, Ranai. Tapi saya memilih berangkat dari Teluk Tabu.

Penduduk setempat menamakannya ‘senoa’ yang berarti perempuan berbadan dua. Terlihat dari kejauhan, penampakan pulau itu memang terlihat seperti perempuan hamil yang sedang tidur terlentang.

Kapal yang saya tumpangi milik nelayan tradisional bernama Ahmad Suwandi. Ia bercerita, setiap hari bisa menangkap 100 kilogram ikan. Mata saya membesar, mulut saya ternganga karena terkejut dengan hasil tangkapan sebesar itu. Tapi Ahmad langsung membuyarkan kekaguman saya dengan mengatakan kalau jumlah hasil tangkapan itu bisa lebih banyak lagi.

“Laut ini sangat kaya, saya bahkan hanya bermodalkan kail pancing, tidak seperti kapal ilegal yang menggunakan teknologi lebih canggih,” kata Ahmad yang sering mendapatkan ikan jenis Kakap Merah.

“Biaya hidup di sini saja sudah mahal, bagaimana kami bisa membeli teknologi pancing yang lebih mahal? Jika pemerintah membekali nelayan tradisional dengan teknologi yang lebih canggih, pasti lebih banyak nelayan tradisional yang melaut ketimbang kapal ilegal,” lanjutnya sambil menatap lautan di kejauhan.

Sesampainya di Pulau Senoa, hanya ada pos perbatasan yang berbendera Merah Putih. Pulau ini dijaga oleh prajurit penjaga perbatasan dari TNI, karena posisinya berbatasan dengan Vietnam dan Malaysia.

Dari dermaga apung di Pulau Senoa, pantulan sinar matahari pukul 13.00 membuat warna air laut berpadu serasi, antara hijau dan biru. Sementara gagahnya Gunung Ranai, dari Pulau Riau, masih terlihat jelas dari sini.

Saya sebut bercengkrama dengan laut, karena belum resmi menjajal beningnya Laut Natuna kalau belum basah. Meski tak membawa peralatan menyelam, kedalaman perairan selama 3 meter bisa ditembus dengan mata telanjang. Sementara dasar lautnya berada di kedalaman 10 meter.

Arusnya cukup tenang. Selain snorkeling, olahraga air seperti kayak misalnya, bisa dilakukan di sini.

Salah satu TNI mengatakan kalau wisatawan semakin banyak berdatangan di akhir pekan. Sayangnya, mereka masih sering meninggalkan sampah plastik. Sehingga oleh penjaga sampah itu dibakar agar tak menjadi tumpukan.

Puas di Pulau Senoa, saya melanjutkan perjalanan ke Pulau Tiga, yang berjarak sekitar 3 jam perjalan dengan kapal nelayan. Di pulau ini tampak ada kehidupan, dengan terlihatnya rumah-rumah laut di pinggiran pantainya.

Saya membayangkan kapal-kapal pesiar yang membawa wisatawan bisa berlabuh di sini.

Penduduk setempat sangat menjaga kelestarian pulaunya, karena pohon-pohon di sekitarnya masih tumbuh dengan rapat. Mereka juga lebih resik dibandingkan wisatawan dari kota besar, karena tidak terlihat tumpukan sampah yang berarti.


Karena sudah puas berenang di Pulau Sanoa, saya hanya berkeliling pulau sambil berbincang dengan orang yang ditemui di jalan.

Sebelum matahari turun, saya sudah diantar kembali ke Selat Lampa, dermaga terdekat dengan daratan dari Pulau Tiga. Inilah momen kebahagiaan saat melihat gugusan tebing karst bertemu dengan birunya laut.

Sore berganti malam, saya memilih memejamkan mata agar energi kembali terisi untuk menjelajah keesokan hari. Hotel Batu Hitam dengan tarif Rp300 ribu per malam jadi pilihan saya.

Keesokan harinya, matahari baru saja terbit dan saya sudah berada di Alif Stone Park. Sinar matahari masuk melalui celah gugus batu granit di sini, dengan siluet Pulau Senoa dari kejauhan.

Dari Alif Stone Park saya menumpang kapal nelayan lagi menuju Batu Sindu. Untuk ke tujuan sebenarnya bisa menggunakan jalur darat, tetapi bagi saya gugus batu granit di dua tempat ini sangat menakjubkan jika dilihat dari laut.

Seperti yang saya bayangkan, gugusan bebatuan di pulau ini benar indahnya, bahkan bisa dibilang menakjubkan.

Berkah bagi Kabupaten Natuna, karena letaknya berada di ujung Paparan Sunda. Para geolog menyebutnya sebagai jalur timah dengan batu granit berumur ratusan juta tahun.

Di belahan dunia lainnya, gugusan batu granit raksasa seperti di Natuna, dianggap sebagai peninggalan alamiah geologis, dan dilindungi. Sudah pasti setiap cuilnya sangat berharga, oleh karena itu sebagian tebingnya sudah dikikis oleh orang tak bertanggungjawab.

Sekitar 50 meter dari bibir pantai, bekas praktik kotor nelayan masa lampau masih terlihat, karangnya di dasar laut rusak. Tetapi, selebihnya ketika berenang sedikit lebih jauh, alam memperbaiki diri jika manusia bisa menjaganya.

Terlihat karang jenis Acropora Humilis dengan mudahnya tumbuh di sini, ikan bisa leluasa bermain di sela cabang-cabangnya. Gugus batu yang dimiliki Natuna berpotensi menjadi magnet kedatangan wisatawan, jika lautnya tetap lestari.

Batu Sindu menjadi penjelajahan terakhir saya di Natuna. Sesampainya di daratan dan sampai saya pulang ke Jakarta, hati dan pikiran masih membayangkan betapa kayanya salah satu ‘pulau terdepan’ di Indonesia ini.

Potensi hasil laut hingga 1,1 juta ton, pantai bertabur "perhiasan", tebing karst penampung air alami, sudah pasti menjadi magnet bagi siapapun yang datang ke Natuna.

Bagi saya, Natuna istimewa, dia sedang bermimpi untuk jadi yang terdepan. Boleh saja bermimpi, karena Natuna sama indahnya dengan pulau-pulau lain di Indonesia, yang dianggap "sepenggal surga yang jatuh ke bumi".

Tetapi "surga" bisa jadi "neraka", jika salah urus atau kita yang abai untuk menjaga kelestariannya.

Artikel ini juga dimuat dalam kolom Gaya hidup CNN Indonesia link bisa dilihat di sini


Comments

Popular posts from this blog

Apakah masih ada senyum terselip di balik masker kain Anda?

Sesudah virus corona, lalu apa? I've asked this question over and over again inside my head. What if we never get back to our ordinary life before pandemic? Karena makin lama, lingkungan di luar sana seperti planet lain bagi saya.  Setiap minggu level stres naik, bukan saya sendiri yang mengalaminya, tapi semua orang. Jika pada pekan lalu mereka yang saya temui di jalan masih enak diajak ngobrol, kali ini, semua menatap bak kriminal. Saya menghabiskan waktu di rumah sekaligus bekerja. Dalam seminggu, hanya sekali keluar untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Sehari sebelum ramadan, saya meliput masjid dekat rumah. Awalnya semua baik-baik saja, saya sapa marbot dan dia mengizinkan saya meliputnya. Cerita yang ingin sekali saya dengar adalah para marbot yang nelangsa kala ramadan. Jika tahun lalu jamaah salat tarawih berbaris-baris hingga menyesakkan seisi masjid, kini ibadah itu ditiadakan.  Gerbang depan masjid dalam keadaan terkunci, kain penutup dipasang di teras masjid

Jalan Raya Tertinggi di Indonesia 3600 MDPL (2)

Kalau dipikir, kemiringan jalannya sampai 60 derajat, saya sudah cemas, karena setelah tanjakan langsung tikungan, lalu turun curam dan berbelok di jalan yang mulai berlumpur. Apalagi yang bisa saya lakukan selain tertawa. Menertawakan hidup saya, yang jauh-jauh datang ke Papua hanya untuk menyetor nyawa. Saat itu, Trans Papua sedang dibangun. Cerita yang saya dengar, awalnya saat pembukaan jalur, TNI lah yang bergerak. Beberapa titik masih rawan. Kami sama-sama berdoa sambil bercanda di mobil. Wabah misterius itu merenggut puluhan nyawa anak-anak di Distrik Mbua. Media daring yang bagai kilat melaporkan 50an anak mati. Terlebih, saat itu sedang ramai pembicaraan tentang ebola. Persiapan kami menghadapi itu semua adalah: mengucap basmalah. Keselamatan memang jadi faktor utama. Kebutuhan logistik sudah tersedia, peralatan medis dasar juga sudah ada. Takdir membawa kami ke Distrik Mbua, untuk membukakan mata, siapapun yang ada di Jakarta. Saat mobil tiba di jalan keci

Jalan Raya Tertinggi di Indonesia 3600 MDPL (1)

Dua tahun lalu, pergi ke Papua itu sangat mahal, bahkan lebih mahal ketimbang berlibur ke Jepang. Kalau bukan karena penugasan dari rapat redaksional, saya tak mungkin bisa ke sana. Saat itu saya mengejar cerita tentang kematian misterius puluhan anak di Distrik Mbua, Kabupaten Nduga. Saya masih ingat, penerbangan dari Jakarta, transit dahulu di Makassar, berlanjut menuju Manokwari, kemudian Jayapura, dan akhirnya tiba di Wamena. Bandaranya kala itu masih tradisional. Saya gambarkan seperti terminal bus era 90an. Tapi sekarang bandara yang baru sudah dibuka, setaraf dengan bandara-bandara di tempat saya dan tim, transit sebelum sampai Wamena. Pak Nico, driver kami menjemput dengan mobil yang memiliki spesifikasi tangguh di medan pegunungan. Kami mengisi bahan bakar dahulu. 20 liter bensin, seharga 2 juta rupiah. Saya dan kedua rekan langsung terkejut. Pegunungan di sekeliling menyembul, pamer keindahan. Saya tanyakan kepadanya, apakah dia bahagia tinggal d