Skip to main content

Kopi & Yang Belum Selesai (5)

"Jika kita mau bertemu ketua adat, jangan lupa bawa persembahan, aturan di Manggarai begitu,"

Tiba-tiba Om Stefan mengingatkan kami. Di tengah jalan, sudah dua jam lewat jalan bebatuan, dan belum sampai menuju Desa Sirise.

Kami berhenti di depan warung membeli lima kilogram kopi bubuk, dan 12 bungkus rokok. Tidak ada yang spesial dengan lima dan 12, angka-angka itu hanya kebetulan. Kopi dan rokok akan diberikan kepada Sipri Anom, kepala adat Desa Sirise.

Tidak ada yang tidur di dalam mobil, masih ada 10 kilometer lagi melewati jalan berdebu dan tak beraspal. Desa Sirise adalah bagian dari Kabupaten Manggarai Timur. Selama 30 tahun, ratusan kepala keluarga di sana menderita karena praktik izin tambang di bukit belakang desa. Kandungan mangan, bahan pembuat batu baterai, sangatlah tinggi.

Bukit itu dikeruk hingga menjadi ceruk. 2010 lalu saya seharian berada di desa itu.

Kala itu debu mangan berterbangan, menyesakkan siapapun yang menghirupnya. Jalanan batu dan tanah menghitam. Jalan ini dilewati truk pembawa batu mangan, menuju pelabuhan siluman tempat kapal tongkang berlabuh.

Limbah mangan dibuang ke mana-mana. Kebun warga rusak berat. Sumber air tercemar, lautan menghitam.

Tidak ada ikan yang bisa dicari. Warga Desa Sirise mayoritas adalah nelayan, mereka harus melaut lebih jauh untuk mencari ikan. Bahkan ada yang melaut hingga Labuan Bajo.

Lama-lama mereka menyerah, terpaksa menjadi pekerja tambang. Satu keluarga kala itu sedang berduka. Seorang ibu tewas, karena paparan mangan di paru-parunya.

Tidak banyak anak-anak yang bermain keluar. Rafli kala itu baru berusia tiga tahun. Sang ibu bertutur, sejak lahir, paru-parunya bermasalah. Batuk tak henti dalam empat bulan pertamanya lahir di dunia ini. Gereja membantu biaya pengobatan Rafli.

Setelah delapan tahun, akhirnya saya kembali ke Desa Sirise. Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan Rafli selama delapan tahun, apakah dia selamat?

Kami sudah tiba di rumah kepala adat. Dia berang sekali melihat kedatangan kami. Dia pikir saya bersama tim adalah para pelobi dari perusahaan tambang.

Dia memanggil banyak orang. Kami seperti dikepung. Saya gemetar duduk di ruang tamu, karena keterbatasan bahasa niat baik yang saya sampaikan kepada Kepala Adat agak meleset.

Lewat bantuan Om Stefan, menjelaskan maksud dan tujuan kami, Pak Sipri yang awalnya tidak mau menerima persembahan dari kami, lalu menerimanya. Setelah bahasa Manggarai, menyatukan dua kubu, suasana mendadak riang. Orang-orang di sekeliling kami berubah ramah.

Saya menganggap hal ini wajar, karena tambang mangan di desa mereka merusak lingkungan, dan terlebih kehidupan mereka.

Pekan lalu, tiga orang perwakilan dari perusahaan tambang datang menawari persembahan berikut juga kemungkinan perpanjangan operasi kegiatan tambang. Tetapi Pak Sipri menolak tegas dan mengusir mereka.

Kepala adat bersama dua warga Desa Sirise pernah dibui alasannya masuk wilayah tambang tanpa izin, dan merusak properti tambang. Menurut cerita Pak Sipri, mereka dianggap merusak barang yang sudah rusak sebelumnya.

Penolakan terhadap praktik tambang sudah berlangsung selama puluhan tahun. Pak Sipri termasuk yang menolak dengan bantuan Uskup di Ruteng. Satu Desa tak bulat satu suara, yang pro tambang juga ada, termasuk sang adik.

Kami memanggil Pak Sipri dengan panggilan Pak Tua, dan istrinya, Mama Tua. Mereka menyuguhkan kami makanan dan minuman. Rumah Pak Tua ramai kedatangan banyak tamu.

Saat ini, bukit di belakang desa berubah menjadi cawan raksasa. Tanah di sekelilingnya tidak kuat, sehingga rawan longsor.

Area Tambang Mangan - 2017

Area Tambang Mangan - 2010



Perebutan tanah adat 30 tahun silam berasal dari izin Bupati Manggarai terdahulu, tiba-tiba saja kendaraan besar lewat depan rumah mereka, seenaknya menutup jalan, dan mengotori sumber penghidupan; bukit dan laut.

Identifikasi lodok di pesisir, bisa dibilang hanya ada di Desa Sirise. Pembagian lahan berdasar silsilah keluarga, kalau di area pegunungan, lodok dapat terlihat seperti sarang laba-laba.

Batas lahan yang bisa digarap itu juga melalui perjanjian dan tanda alam. Misal sungai, jenis vegetasi, bahkan letak bebatuan.

Tapi akhirnya sistem itu hilang akibat perampasan lahan.

Sudah tiga perusahaan silih berganti mengeruk mangan di sini. Pada 2010 lalu, ketika masih beroperasi penuh, napas saya sesak, yang saya lihat di sekeliling adalah debu mangan.

Sekarang, pohon-pohon mulai tumbuh, di sekeliling area tambang. Apalagi, saat ini izin tambang sudah habis..

Lautnya mulai pulih, tidak ada lagi air hitam, nelayan sudah berani melaut dan mendapatkan banyak ikan.

Udaranya mulai bersih, karena debu mangan sudah tak bertebaran.

Kami berada di lokasi tambang, saya menyelesaikan pekerjaan, dan saat berencana kembali ke rumah Pak Tua, seorang penjaga area tambang datang dengan membawa golok.

"Oh kau, saya sering lihat kau ini adik pak bupati kah? Mirip sekali, asal mana?" Om Stefan sepertinya mengenali orang itu

"Asli Ruteng sebenarnya," jawab orang itu

"Oh saya tahu, pantas saja kau ini dari keturunan intelek toh, saya senang bisa kenal dengan kau."

Ternyata Om Stefan baru saja menyelamatkan kami. Beberapa kali Pak Tua menelpon untuk memperingatkan kami akan bahaya si penjaga. Karena dia tak sungkan untuk menebas kepala, siapapun yang masuk ke area tambang.

Si penjaga itupun tidak fokus, beberapa kali dia berpikir keras, seperti mempertanyakan kapan dan dari mana kenal Om Stevan.

Kembali ke Desa, saya masih membawa foto saat 2010 lalu, bersama Rafli, dan Tibo, adiknya.

Orang-orang yang saya tanyakan tentang foto itu lalu bertanya balik "ada apa cari Rafli?"

Saya ingin tahu bagaimana keadannya.

Rafli masih hidup, saat keadaan lingkungannya sudah membaik, Rafli pun ikut membaik. Dokter menyatakan dia sehat.

Anak kurus dan selalu lemah tidak selincah anak-anak lainnya kala itu, berubah menjadi bocah sehat yang hobinya main.


Foto di atas diambil pada 2010, rafli menyembunyikan wajahnya, foto di bawah diambil pada 2017, Rafli dan adik-adiknya sudah  bisa tersenyum

Rafli belum mandi tiga hari saat saya temui, dia bilang sumber airnya jauh. Mandi baginya adalah kemewahan.

Adiknya, Tibo, sedang memahat perahu kecil yang akan ia mainkan di pantai.

Alam akan pulih jika manusia berpihak kepadanya. Esensi hidup sederhana dari Pak Tua, yang masih saya simpan sampai saat ini.

Ternyata tidak semua air hitam itu nikmat (kopi), air hitam di sini, menjauhkan mereka dari sumber kehidupan.

Comments

Popular posts from this blog

Apakah masih ada senyum terselip di balik masker kain Anda?

Sesudah virus corona, lalu apa? I've asked this question over and over again inside my head. What if we never get back to our ordinary life before pandemic? Karena makin lama, lingkungan di luar sana seperti planet lain bagi saya.  Setiap minggu level stres naik, bukan saya sendiri yang mengalaminya, tapi semua orang. Jika pada pekan lalu mereka yang saya temui di jalan masih enak diajak ngobrol, kali ini, semua menatap bak kriminal. Saya menghabiskan waktu di rumah sekaligus bekerja. Dalam seminggu, hanya sekali keluar untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Sehari sebelum ramadan, saya meliput masjid dekat rumah. Awalnya semua baik-baik saja, saya sapa marbot dan dia mengizinkan saya meliputnya. Cerita yang ingin sekali saya dengar adalah para marbot yang nelangsa kala ramadan. Jika tahun lalu jamaah salat tarawih berbaris-baris hingga menyesakkan seisi masjid, kini ibadah itu ditiadakan.  Gerbang depan masjid dalam keadaan terkunci, kain penutup dipasang di teras masjid

Jalan Raya Tertinggi di Indonesia 3600 MDPL (2)

Kalau dipikir, kemiringan jalannya sampai 60 derajat, saya sudah cemas, karena setelah tanjakan langsung tikungan, lalu turun curam dan berbelok di jalan yang mulai berlumpur. Apalagi yang bisa saya lakukan selain tertawa. Menertawakan hidup saya, yang jauh-jauh datang ke Papua hanya untuk menyetor nyawa. Saat itu, Trans Papua sedang dibangun. Cerita yang saya dengar, awalnya saat pembukaan jalur, TNI lah yang bergerak. Beberapa titik masih rawan. Kami sama-sama berdoa sambil bercanda di mobil. Wabah misterius itu merenggut puluhan nyawa anak-anak di Distrik Mbua. Media daring yang bagai kilat melaporkan 50an anak mati. Terlebih, saat itu sedang ramai pembicaraan tentang ebola. Persiapan kami menghadapi itu semua adalah: mengucap basmalah. Keselamatan memang jadi faktor utama. Kebutuhan logistik sudah tersedia, peralatan medis dasar juga sudah ada. Takdir membawa kami ke Distrik Mbua, untuk membukakan mata, siapapun yang ada di Jakarta. Saat mobil tiba di jalan keci

Jalan Raya Tertinggi di Indonesia 3600 MDPL (1)

Dua tahun lalu, pergi ke Papua itu sangat mahal, bahkan lebih mahal ketimbang berlibur ke Jepang. Kalau bukan karena penugasan dari rapat redaksional, saya tak mungkin bisa ke sana. Saat itu saya mengejar cerita tentang kematian misterius puluhan anak di Distrik Mbua, Kabupaten Nduga. Saya masih ingat, penerbangan dari Jakarta, transit dahulu di Makassar, berlanjut menuju Manokwari, kemudian Jayapura, dan akhirnya tiba di Wamena. Bandaranya kala itu masih tradisional. Saya gambarkan seperti terminal bus era 90an. Tapi sekarang bandara yang baru sudah dibuka, setaraf dengan bandara-bandara di tempat saya dan tim, transit sebelum sampai Wamena. Pak Nico, driver kami menjemput dengan mobil yang memiliki spesifikasi tangguh di medan pegunungan. Kami mengisi bahan bakar dahulu. 20 liter bensin, seharga 2 juta rupiah. Saya dan kedua rekan langsung terkejut. Pegunungan di sekeliling menyembul, pamer keindahan. Saya tanyakan kepadanya, apakah dia bahagia tinggal d