Skip to main content

Kopi & Yang Belum Selesai (2)




Sebuah sungai membelah perkebunan Sawit, di Mesuji. Pada 2011 lalu pembantaian terhadap para pekerja perkebunan terjadi. Kepala mereka terpenggal, dan diperlihatkan dalam sebuah video di ruang rapat gedung perwakilan rakyat.

Video itu mengantarkan saya ke Mesuji. Lewati liku jalan tak beraspal di tengah perkebunan Sawit. Jalan itu berujung pada sebuah sungai yang membelah perkebunan.

Perahu-perahu kecil merapat, membawa sawit. Sebuah rumah panggung berdiri paling gagah di tepi sungai Sodong. Di bawahnya terdapat meja dan kursi kayu tempat menunggu Kepala Desa.

Saya hanya inginkan kebenaran. Karena ada kabar bahwa terjadi pembantaian di desa itu.

Sekeliling saya adalah perkebunan Sawit, bisa dikatakan desa itu berada di tengah-tengah perkebunan.

Dalam sunyi, seseorang menghampiri, menanyakan maksud kedatangan kami. Saya beserta tiga kru lainnya, duduk menunggu. Sesaat kemudian, empat gelas kopi datang. Kopinya hitam pekat, robusta khas Lampung, dengan gula yang masih mengendap di dasar gelas.

Sambil menunggu, saya coba gunakan waktu untuk mengamati sekitar. Sekolah Dasar terletak tak jauh dari rumah panggung itu. Sekolah itu berubah fungsi jadi kandang ayam.

Di tepi Sungai, saya datangi seorang bapak yang sedang melipat jaring, lalu berbasa-basi, hal mendasar untuk mengetahui respon seseorang ketika kedatangan orang asing seperti saya.

Responnya pasif, bahkan dia tak menatap mata lawan bicara. Nada bicaranya tidak ramah. Saat itulah saya tahu harus berbuat apa. Pamit dengan sopan.

Saya kembali ke tempat duduk saya. Kopi sudah lumayan hangat untuk diminum. Kami berempat tidak berbicara sepatah katapun. Suasana agak tegang, karena kami tidak mengetahui pasti suasana hati narasumber kami yang satu ini.

Sampai kopi itu dingin, ia tak muncul juga. Seorang pesuruhnya tiba-tiba datang "tunggu sebentar ya, Pak Ketua baru bangun tidur," katanya.

Tidak lama, Pak Ketua mendatangi kami. Matanya merah, pandangannya tak fokus. Saya jelaskan baik-baik maksud kedatangan kami.

Karena, salah bicara, nyawa bisa melayang, dan tak ada rencana melarikan diri yang matang untuk liputan satu ini.

Mengingat salah satu warganya saja tidak begitu ramah. Saya pancing sedikit demi sedikit agar Pak Ketua mau diwawancara.

"Sebentar," Pak Ketua mengeluarkan alat suntik.

"Ini hanya iseng...kemarin ada tiga polisi datang sama-sama suntik bareng saya, kalian mau?"

"Terima kasih, saya ngopi saja pak, kopinya sedang sedap-sedapnya jam segini," saya menjawabnya sambil mengangkat gelas kopi yang sudah dingin itu, berusaha menutupi gelagat saya yang canggung dan gemetar.

Waktu menunjukkan keramahannya, kami sempat bergurau tentang banyak hal, dan ketika sudah mulai serius, emosinya keluar tiba-tiba, seperti seduhan kopi yang menghasilkan crema "Ada warga saya dibunuh mereka di tengah kebun sawit, katanya, dia mencuri sawit, lho ini kan desa kami, tanah kami, tiba-tiba dikepung sawit, mereka rampas tanah kami, kami juga bisa rampas sawit mereka, mereka rampas nyawa kami, kami juga rampas nyawa mereka," jelasnya.

Lantas, dari kepungan sawit pulalah, Pak Ketua dan warganya mengambil hasil sawit yang tak seberapa itu, lalu dibawa ke pengepul, melalui Sungai Sodong.

Ukuran mengetahui sebuah kebenaran, adalah ketika kopi panas dan masih mengepul berubah menjadi dingin, kebenaran yang tidak saya kira keluar dari mulut seseorang.

Satu tahun kemudian, saya berada di kota Pelabuhan Mersin, Turki. Menanti kapal yang akan membawa saya ke Beirut. Satu cangkir kopi seharga lima Lyra, teman menunggu saya ketika dingin menyerang. Pelabuhannya berwarna terakota, kapal-kapal motor nelayan bersandar. Satu atau dua nelayan memperbaiki jaringnya.

Nelayan di sini menggunakan sepatu boots, sweater, dilapisi mantel, sementara di bagian lainnya patung putri duyung berwarna tosca, duduk sendiri mengarah laut. Pohon palem menguncup kedinginan ketika sore, saya agak lelah, karena siang tadi satu mobil pendingin tiba-tiba terbakar sebelum masuk ke kapal pengangkut.

Saya sempat mengabadikan momen itu, dan drama keterbatasan bahasa inggris seorang polisi Turki kepada saya, yang ia maksud adalah jaga jarak aman, namun bahasa tubuhnya menyatakan kalau kebakaran ini tidak boleh diliput. Keterbatasan bahasa juga terjadi sesudahnya karena seorang reporter TV lokal yang tak bisa berbahasa inggris ingin menyalin video yang saya ambil, saya coba bantu, namun akhirnya sia-sia.

Koin terakhir yang saya punya, tidak akan saya habiskan sia-sia. Hampir 24 jam, kapal belum datang, sampai dingin pun tetap saya teguk sedikit demi sedikit.

Kala itu, saya meliput sendirian, tanpa juru kamera. Puluhan aktivis berkumpul untuk hari Palestina, termasuk dari Indonesia, sudah 20 hari kami bersama, dari Pakistan, lalu naik bus ke Iran, dan tibalah di Turki.

Puluhan kota kami singgahi. Mereka datang dari berbagai macam latar belakang, suku, ras, dan agama. Menentang kolonialisme moderen yang terjadi di Palestina.

Seorang gadis Kashmir, mengajak saya berbincang, ia bagian dari rombongan. Kami sama-sama lapar.

"Konflik ini tak akan pernah usai," tegasnya.

saya membalasnya dengan berkata "Palestina dan Israel sama-sama mempertahankan hak mereka seperti yang tertulis di dalam kitab suci,"

Kalau urusan itu, sampai kopi membeku pun, tidak akan ada habisnya. Sampai kita benar-benar tahu, apa yang terjadi di Palestina dan Israel.

"Kamu bagian dari media yang bisa dengan mudahnya melakukan propaganda,"

saya tak tahu pasti berita apa yang harus saya buat untuk menyanggah peryataannya barusan. Permasalahannya, dalam setiap konflik selalu ada korban. Untuk meminimalisir jumlah korban, sebuah resolusi damai harus dibuat, namun tak seindah skemanya karena masing-masing, menginginkan sesuatu lebih dari resolusi damai.

Cangkir kopi yang saya pegang saat itu sudah sedingin es. Kedai Kopi di pelabuhan hampir tutup, bahkan pemiliknya sudah mengingatkan kami berkali-kali untuk pergi dan mencari tempat lain, padahal belum terlalu malam untuk menyudahi mencari rezeki.

Tempat lain itu adalah dermaga. 100 meter dari deretan kedai, kami duduk lagi untuk berbicara.

"Seberapa penting posisi Palestina bagimu?" Dia melempar pertanyaan itu sambil membetulkan kerudungnya.

"Penting bagi mereka yang hidup di sana, tidak ada yang mau jadi warga kelas dua. Kampanye keliling dunia, memberikan fakta, meneriakan semangat kemerdekaan Palestina, seperti yang kamu lakukan bersama puluhan aktivis lainnya, apakah penting juga? Sementara, kita bisa melakukan itu lewat internet."

"Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya menjadi orang Kashmir, surga di Kashmir tak pernah kami nikmati seutuhnya. Kami masih diperebutkan oleh Pakistan dan India, namun, yang kami inginkan hanya merdeka. Sama halnya seperti orang Palestina."

Jadi, dia juga membawa agendanya sendiri agar semua tahu apa yang terjadi Palestina dan Kashmir adalah nyata.

Kami menyudahi pembicaraan dengan diam. Saya akhirnya memutuskan untuk kembali ke tempat rombongan berkumpul, di depan dermaga utama. Di dekatnya terdapat sebuah kedai yang masih buka. Isinya orang-orang uzur.

Kakek-kakek merokok, sambil berbincang dengan kelakar tak henti, suasana kedai sangat ramai, semua meja penuh. wangi sup krim tercium dari sana, sup krim berbumbu yang agak getir. Baunya seperti campuran daun ketumbar dan cengkih. Ada tulisan free wifi, itu seperti sebuah undangan bagi saya, dengan Lyra yang tak tersisa, bagaimana bisa masuk ke dalam Kedai?

Dua orang tenaga medis dari Jakarta, yang juga ikut rombongan, sudah duduk di sana.

Seorang dokter dan satu lagi adalah perawat senior. Saya ikut bergabung di meja mereka yang menghadap ke laut. Mengingat koin terakhir sudah saya habiskan. Sang dokter menawarkan sup panas, dia juga memesankan saya kopi.

Lampu-lampu mulai hidup, malam menyambut, dingin sekali. Saat siang, suhu udara bersahabat kira-kira 16 derajat celcius, kalau malam, suhu udara mendekati nol. Tetapi jujur saja, semenjak lepas dari perbatasan Pakistan dan Iran, kali ini adalah suhu terhangat yang pernah kami rasakan. Tapi tetap membuat saya menggigil.

Sebelumnya, saya menawarkan sleeping bag, agar ia bisa tidur tanpa kedinginan. Kami tidur di masjid, saat singgah di Konya, dengan suhu nol derajat celcius. Kala itu saya pikir, pakaian yang saya kenakan sudah cukup untuk menghangatkan saya, sleeping bag milik saya bisa digunakan bagi siapapun yang membutuhkannya, dan orang itu adalah sang dokter.

"Supnya buat kita bertiga ya, kalau kopi, saya yang traktir," setelah itu kopi susu hangat lagi-lagi melewati kerongkongan saya, setelah terakhir minum tiga jam lalu.

"Mba, kira-kira kapan kapal datang menjemput kita? Kalau tidak datang juga, saya mau bongkar teri kacang buatan ibu saya, lumayan buat menahan lapar."

Saya coba mencairkan suasana, karena sejak lima hari lalu suasana cukup tegang. Berbagai peristiwa kami lalui, konflik antar relawan, hingga masuk area berbahaya di perbatasan.

Dua puluh hari, baru di Mersin, sang dokter yang penggila kafein bisa meneguk kopi. Sebelumnya yang kami minum adalah teh, yoghurt, cola dan selebihnya adalah air mineral.

Kafein baginya adalah sugesti agar tetap terjaga ketika berada di dalam ruang gawat darurat. Kafein bagi saya adalah rasa mual berkepanjangan diakhiri dengan keringat dingin.

Bagi sang dokter dan perawat senior, kegiatan ini adalah salah satu bakti profesi. Mereka mengigatkan saya, tentang sebuah keberuntungan. Kita masih beruntung hidup tanpa konflik berkepanjangan. Mereka tanya, pernahkah saya tumbuh besar di tengah ketakutan? Di antara reruntuhan bangunan, atau terselip ketakutan akan diserang oleh pihak yang berlawanan?

Seperti kafein yang membuat saya mual. Itulah rasanya pertanyaan mereka. Saya beruntung sekali bisa lahir di tengah keadaan yang cukup mendukung saya untuk menggapai cita-cita.

Lantas, jika sudah pernah meliput konflik, apakah kamu merasakan apa yang mereka rasakan? Atau justru jadi portofolio kamu?

Tunggu, saya sangat setuju bahwa produk jurnalistik seharusnya menjadi bagian dari masa pendinginan sebuah konflik. Tetapi, untuk bisa dikatakan berhasil, sangat sulit. Sudah untung tidak memanas-manasi keadaan, dengan diksi yang cenderung netral, namun bagi banyak wartawan, meliput konflik bagaikan mendapatkan piala, bisa disusun di rak penghargaan, sebagai portofolio.

Saya tidak butuh piala itu.

Justru membuat saya mual, jika mengingat-ingat lagi berapa banyak keluarga yang harus kehilangan karena urusan selisih paham kolektif?

Kopinya mulai dingin, ada kabar bahwa kapal akan tiba satu jam lagi. Kegelisahan saya dan kedua orang tadi tidak pernah terjawab sampai sekarang, jika selisih paham kolektif terjadi, kita akan berdiri di mana?

Iya, kita bisa bilang, tidak berpihak. Namun kata hati berkata lain. Seperti saya yang coba-coba untuk merasakan sugesti kopi, agar terjaga semalaman namun perut dan pikiran berkata lain.

Ketika kapal tiba, kami bergegas naik, setelah pemeriksaan paspor selesai. Di kapal, saya terlelap sekali. Dua cangkir kopi tak ada pengaruhnya bagi saya.


Beirut menanti, sudah cukup kopi dingin menemani saya untuk menunggu sampai akhirnya bisa menemukan sebuah esensi.
















Comments

Popular posts from this blog

Apakah masih ada senyum terselip di balik masker kain Anda?

Sesudah virus corona, lalu apa? I've asked this question over and over again inside my head. What if we never get back to our ordinary life before pandemic? Karena makin lama, lingkungan di luar sana seperti planet lain bagi saya.  Setiap minggu level stres naik, bukan saya sendiri yang mengalaminya, tapi semua orang. Jika pada pekan lalu mereka yang saya temui di jalan masih enak diajak ngobrol, kali ini, semua menatap bak kriminal. Saya menghabiskan waktu di rumah sekaligus bekerja. Dalam seminggu, hanya sekali keluar untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Sehari sebelum ramadan, saya meliput masjid dekat rumah. Awalnya semua baik-baik saja, saya sapa marbot dan dia mengizinkan saya meliputnya. Cerita yang ingin sekali saya dengar adalah para marbot yang nelangsa kala ramadan. Jika tahun lalu jamaah salat tarawih berbaris-baris hingga menyesakkan seisi masjid, kini ibadah itu ditiadakan.  Gerbang depan masjid dalam keadaan terkunci, kain penutup dipasang di teras masjid

Jalan Raya Tertinggi di Indonesia 3600 MDPL (2)

Kalau dipikir, kemiringan jalannya sampai 60 derajat, saya sudah cemas, karena setelah tanjakan langsung tikungan, lalu turun curam dan berbelok di jalan yang mulai berlumpur. Apalagi yang bisa saya lakukan selain tertawa. Menertawakan hidup saya, yang jauh-jauh datang ke Papua hanya untuk menyetor nyawa. Saat itu, Trans Papua sedang dibangun. Cerita yang saya dengar, awalnya saat pembukaan jalur, TNI lah yang bergerak. Beberapa titik masih rawan. Kami sama-sama berdoa sambil bercanda di mobil. Wabah misterius itu merenggut puluhan nyawa anak-anak di Distrik Mbua. Media daring yang bagai kilat melaporkan 50an anak mati. Terlebih, saat itu sedang ramai pembicaraan tentang ebola. Persiapan kami menghadapi itu semua adalah: mengucap basmalah. Keselamatan memang jadi faktor utama. Kebutuhan logistik sudah tersedia, peralatan medis dasar juga sudah ada. Takdir membawa kami ke Distrik Mbua, untuk membukakan mata, siapapun yang ada di Jakarta. Saat mobil tiba di jalan keci

Jalan Raya Tertinggi di Indonesia 3600 MDPL (1)

Dua tahun lalu, pergi ke Papua itu sangat mahal, bahkan lebih mahal ketimbang berlibur ke Jepang. Kalau bukan karena penugasan dari rapat redaksional, saya tak mungkin bisa ke sana. Saat itu saya mengejar cerita tentang kematian misterius puluhan anak di Distrik Mbua, Kabupaten Nduga. Saya masih ingat, penerbangan dari Jakarta, transit dahulu di Makassar, berlanjut menuju Manokwari, kemudian Jayapura, dan akhirnya tiba di Wamena. Bandaranya kala itu masih tradisional. Saya gambarkan seperti terminal bus era 90an. Tapi sekarang bandara yang baru sudah dibuka, setaraf dengan bandara-bandara di tempat saya dan tim, transit sebelum sampai Wamena. Pak Nico, driver kami menjemput dengan mobil yang memiliki spesifikasi tangguh di medan pegunungan. Kami mengisi bahan bakar dahulu. 20 liter bensin, seharga 2 juta rupiah. Saya dan kedua rekan langsung terkejut. Pegunungan di sekeliling menyembul, pamer keindahan. Saya tanyakan kepadanya, apakah dia bahagia tinggal d