Skip to main content

Kopi & Yang Belum Selesai (7)




Di Indonesia, Kopi itu akrab sekali dengan manusia. Dia yang berpeluh, telanjang dada menyajikan kopi untuk para pejabat daerah, bahan basa-basi seorang mafia sawit, persembahan untuk kepala adat, simbol gaya hidup kaum urban, teman melaut seorang menteri dan ...

kopi lah yang tanpa disadari merasuk pikiran orang untuk mencintainya.

Berulang kali saya katakan, saya tidak suka dengan kopi. Masih saja disuguhkan. Berulang kali pula saya katakan, tidak suka minuman manis, tetap saja datangnya gula-teh-manis.

Itu satu tahun lalu.

Sekarang juga tidak terlalu suka minuman manis.

Tapi bagaimana dengan kopi?

Saya bawa french press portable setiap hari. Kadang satu toples kecil isi kopi arabica Gayo, muncul di dalam tas saya.

Sini mendekatlah, saya bisiki...

"Kopi membuat saya tergila-gila akan keajaiban rasa dan aromanya,"

Bagaimana bisa tergila-gila? padahal satu tahun lalu, saya masih mual dan keringat dingin sehabis meneguk kopi...

Begini, saya bisiki lagi...

Dia bisa membuat saya mencintainya, asalkan saya rela berkenalan dengannya. Dia tidak pernah memaksa saya untuk mencintainya. Zat yang diciptakan Tuhan dan sangat moderat kepada siapa saja yang menikmatinya.



Dalam sebuah manuskrip tua tentang kopi, seorang pujangga arab, Abdul Al-kadir bin Mohamad Al ansari al jazari Al Hanbali, yang teridentifikasi pada 1587. Sajak itu sangat indah, saya membaca translasinya sebagai berikut;

In Praise of Coffee

O Coffee, thou dost dispel all cases, thou art of the object of desire to the scholar...

This is the beverage of the friends of God...it gives health to those in its service who strive after wisdom...

Prepared from the simple shell of the berry, it has the odor of musk and the color of ink...

The intelligent man who empties these cups of foaming coffee, he alone knows the truth...

May God deprive of this drink the foolish man who condemns it with incurable obstinacy...

Coffee is our Gold. Wherever it is served, one enjoy the society of the noblest and most generous men...

O drink, as harmless as pure milk, which differs from it only blackness...



Barusan adalah penggalan sajak, dari seorang pujangga yang hidup di tengah pro dan kontra kopi di Arab kala itu. Sampai lima abad setelahnya, wahabi yang berabad-abad mempengaruhi budaya Arab, melarang kopi, sama halnya seperti alkohol atau minuman yang memabukkan.

Lepas dari pro dan kontra itu, sajak yang begitu indah seharum aromanya telah merasuki pikiran, siapapun yang rela untuk minum dan jatuh cinta padanya (kopi)...

Kita bisa belajar dari kopi, bahwa kau tidak perlu memaksakan orang lain untuk jatuh cinta padamu...

Bahwa kau tidak perlu memaksakan dirimu untuk masuk dalam sebuah lingkungan sosial dan disukai semua orang.

Biarkanlah mereka kenal dirimu, asalkan kau tidak memiliki niatan untuk memaksakan kehendakmu.

Kopi adalah sang pengalah untuk menang. Setelah dia menang, tak lantas kau diberikan kunci untuk mengalahkan dirinya.

Coba tengoklah, Asosiasi Kopi Specialty Amerika atau SCAA(Specialty Coffee Association of America) dan world Coffee Research, membuat roda rasa, atau Flavor Wheel, yang terus dikembangkan berdasar karakter rasa macam-macam varietas, jenis, penanaman, pengolahan, dan penyajian.


Sumber foto: WCR

Di sinilah misteri kopi menarik perhatian saya. Sebenarnya Flavor Wheel diciptakan untuk Coffee Taster, untuk mengetahui dan mengidentifikasikan karakter kopi yang akan dilepas ke pasar. Tetapi bagi saya, kopi dan flavor wheel menggugah indera perasa dan penciuman, mencoba merangsang daya ingat. Sangat intuitif, namun saya menikmatinya, seperti sebuah permainan, dalam percintaan.

Kompleksitasnya tinggi, itu sebabnya butuh belajar bertahun-tahun untuk mendalami ilmu ini. dan bagi Coffee taster, lidahnya dibayar mahal oleh para produsen Kopi specialty.

Untuk membedahnya, World Coffee Research memiliki panduannya, bisa klik di sini 
Saya bukan ahlinya, dari 10 cangkir yang saya coba, satu cangkir saja sudah untung bisa terindentifikasi rasanya.

Selama ini, para penjajal kopi (bukan Coffe Taster Profesional) mendefinisikannya dalam rasa: Fruity, kegarangan bodi, nutty, asam atau tidak...

"Kopi ini fruity sekali...."

Iya lalu fruity yang seperti apa?

Padahal, dalam Flavor Wheel, terdapat ratusan probabilitas rasa terhadap secangkir kopi specialty, tidak semua orang bisa mengenalinya.

Ada sisi misterius dalam kopi ketika kita sudah tergila-gila padanya.

Selagi masih ciptaan Tuhan, interaksi antara kopi dan manusia, seperti yang saya alami tahun ini benar-benar harmonis.





Comments

Popular posts from this blog

Apakah masih ada senyum terselip di balik masker kain Anda?

Sesudah virus corona, lalu apa? I've asked this question over and over again inside my head. What if we never get back to our ordinary life before pandemic? Karena makin lama, lingkungan di luar sana seperti planet lain bagi saya.  Setiap minggu level stres naik, bukan saya sendiri yang mengalaminya, tapi semua orang. Jika pada pekan lalu mereka yang saya temui di jalan masih enak diajak ngobrol, kali ini, semua menatap bak kriminal. Saya menghabiskan waktu di rumah sekaligus bekerja. Dalam seminggu, hanya sekali keluar untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Sehari sebelum ramadan, saya meliput masjid dekat rumah. Awalnya semua baik-baik saja, saya sapa marbot dan dia mengizinkan saya meliputnya. Cerita yang ingin sekali saya dengar adalah para marbot yang nelangsa kala ramadan. Jika tahun lalu jamaah salat tarawih berbaris-baris hingga menyesakkan seisi masjid, kini ibadah itu ditiadakan.  Gerbang depan masjid dalam keadaan terkunci, kain penutup dipasang di teras masjid

Jalan Raya Tertinggi di Indonesia 3600 MDPL (2)

Kalau dipikir, kemiringan jalannya sampai 60 derajat, saya sudah cemas, karena setelah tanjakan langsung tikungan, lalu turun curam dan berbelok di jalan yang mulai berlumpur. Apalagi yang bisa saya lakukan selain tertawa. Menertawakan hidup saya, yang jauh-jauh datang ke Papua hanya untuk menyetor nyawa. Saat itu, Trans Papua sedang dibangun. Cerita yang saya dengar, awalnya saat pembukaan jalur, TNI lah yang bergerak. Beberapa titik masih rawan. Kami sama-sama berdoa sambil bercanda di mobil. Wabah misterius itu merenggut puluhan nyawa anak-anak di Distrik Mbua. Media daring yang bagai kilat melaporkan 50an anak mati. Terlebih, saat itu sedang ramai pembicaraan tentang ebola. Persiapan kami menghadapi itu semua adalah: mengucap basmalah. Keselamatan memang jadi faktor utama. Kebutuhan logistik sudah tersedia, peralatan medis dasar juga sudah ada. Takdir membawa kami ke Distrik Mbua, untuk membukakan mata, siapapun yang ada di Jakarta. Saat mobil tiba di jalan keci

Jalan Raya Tertinggi di Indonesia 3600 MDPL (1)

Dua tahun lalu, pergi ke Papua itu sangat mahal, bahkan lebih mahal ketimbang berlibur ke Jepang. Kalau bukan karena penugasan dari rapat redaksional, saya tak mungkin bisa ke sana. Saat itu saya mengejar cerita tentang kematian misterius puluhan anak di Distrik Mbua, Kabupaten Nduga. Saya masih ingat, penerbangan dari Jakarta, transit dahulu di Makassar, berlanjut menuju Manokwari, kemudian Jayapura, dan akhirnya tiba di Wamena. Bandaranya kala itu masih tradisional. Saya gambarkan seperti terminal bus era 90an. Tapi sekarang bandara yang baru sudah dibuka, setaraf dengan bandara-bandara di tempat saya dan tim, transit sebelum sampai Wamena. Pak Nico, driver kami menjemput dengan mobil yang memiliki spesifikasi tangguh di medan pegunungan. Kami mengisi bahan bakar dahulu. 20 liter bensin, seharga 2 juta rupiah. Saya dan kedua rekan langsung terkejut. Pegunungan di sekeliling menyembul, pamer keindahan. Saya tanyakan kepadanya, apakah dia bahagia tinggal d