Skip to main content

Mencari Kafka di Praha





Kastil terbesar di Eropa, bangunan-bangunan klasik di kota tua Praha, saya bingung dibuatnya, karena semua layak difoto, bahkan gang sempit yang jarang terjamah orang. Semua itu distraksi, karena misi kali ini adalah mencari Kafka.


Franz Kafka pernah berkata dalam secarik kertas yang ia kirim kepada Oskar Lotak pada 27 Januari 1904, "Suatu tulisan harus bisa menikam dan melukai pembacanya. Katanya, kalau tulisan itu tidak membangunkan kita dengan hantaman keras di kepala, untuk apa kita membacanya?"

Suasana yang dihadirkan oleh Kafka sangat gelap, sepi, dan terlebih sehina-hinanya peran manusia di dunia.



"Ketika Gregor Semsa terbangun karena mimpinya terlalu abstrak pada pagi hari, ia menyadari dirinya berubah menjadi...serangga raksasa (orang mengartikannya sebagai kecoa, bahkan kepik)," kalimat pembuka Verwandlung, atau Metamorfosis, tulisan Kafka yang buat saya tersentak.

Metamorfosis kala itu mengubah dunia sastra, tutur tulisan yang Kafka bangun dibuat sangat berbeda, dari karya lain pada zamannya, bahkan disebut sebagai Postmodernisme saat batas fiksi dan dan non fiksi tidak ada.

Terlebih, konsep kehidupan yang dia pertanyakan, baiklah anda harus baca bukunya.

Kalau istilahnya, ada yang mengganjal.

Kafka juga menjadi bagian yang tak lepas dari Praha.

Sore hari di stasiun metro Katowice, Polandia, kami tak sabar menanti kereta antar negara tiba.

Tujuan kami Republik Ceko. Tepatnya Praha. Saya sudah unduh peta offline Praha, untuk mengurangi risiko tersasar dan menyita waktu.

Dari Katowice, kereta membawa saya dan Mba Irena menuju Praha.



Ingat, saat musim dingin, gelap datang lebih cepat, pukul 16.00 langit sudah kelam.

Koper besar yang kami bawa masing-masing seberat 20 kg. Kami tiba di stasiun Hlavní Nádraží. Naik turun tangga membawa koper, dan Mba Irena beberapa kali mendapat bantuan dari orang-orang untuk mengangkat koper hijau nan mencolok yang ia bawa.



Lalu dia menolaknya, dan orang-orang itu melihat ke arah saya dengan tatapan kira-kira begini: ih, kok nggak bantuin sih, dasar tega.

Di tempat asing, kita harus bisa bilang tidak. Meski mungkin saja niat orang yang mau membantu kami sangatlah baik.
Simak juga: 
Bukan tanpa sebab, kami sudah ketakutan dahulu karena cerita orang-orang tentang Praha.

Jika kita bisa browsing data tentang Ceko, harga makanan misalnya, terbilang mahal. Termaauk tentang angka kriminal.

Jadi kami mempersiapkan skenario terburuk jika kecopetan. Tipsnya bisa memisahkan uang dan kartu kredit bahkan paspor di tempat paling aman. Saya menyimpan semua itu di balik jaket tebal yang sulit digapai para pencopet.

Sementara uang yang lain saya pisahkan di kantung celana, untuk pengeluaran harian seperti beli makanan dan masuk museum.

We promise to look each other, and make sure everything in piece.

Kereta lainnya yang kami tumpangi berhenti di stasiun Florenc, dan akhirnya kami bisa keluar menuju pusat kota tua, tinggal jalan sedikit, tibalah kami ke penginapan.

Kami pikir, karena selama di Praha akan jalan kaki, maka harus tepat memilih posisi penginapan yang bisa menjangkau semua tempat tujuan kami. Saya tidur di bangunan tua, lampu remang dan dilengkapi dengan penghangat.



Keesokan harinya, kami jalan sejak pagi. Sejujurnya saya tidak tahu mana yang dituju lebih dahulu.

Saya hanya ingin melihat Kafka. Itupun kalau ketemu.

Tujuan kami hari itu ke Charles Bridge, tentu akan mampir ke banyak tempat sebelum ke sana. Musim dingin sebenarnya bukan waktu yang tepat kalau mau berkunjung ke Eropa. Selain malamnya lebih panjang, kita tak bisa berlama-lama di luar.


Praha bagai negeri dongeng. Saya keluar dari penginapan, melangkah sedikit dan sudah disuguhkan jam astronomi yang sebentar lagi akan berdentang. Jam itu dibuat oleh Josef Mán pada 1865.


Tidak jauh dari situ, pasar natal dibuka di old town square. Alun-alun kota saksi sejarah dan pergerakan. Kami mampir sebentar untuk membeli seporsi paha ayam dengan roti keras.

Bekal yang cukup sampai siang nanti untuk jalan menuju Charles Bridge, bahkan kalau sempat, kami mampir ke kastil.



Tapi sebelum kami melangkah lebih jauh, Mba Irena memutuskan untuk datang ke pusat informasi turis, lokasinya masih di old town square.

Hingga dapatlah sebuah peta dan tempat-tempat yang setidaknya bisa kami kunjungi dalam sehari.

Oh, karena paket roaming saya sudah habis, begitupun mba Irena, akhirnya kami sempat berjanji, jika salah satu dari kami terpisah atau tersasar, carilah bangunan yang jadi landmarknya. Lalu...sejenak hening, karena semua bangunan bisa jadi landmark di Praha.

Jadi, kalau salah satu ada yang tersasar setelah 1 jam tidak ketemu, datang ke Starbucks, atau KFC dan MCD. Serius itu cukup membantu. Apalagi kami tipe orang yang kalau sudah melihat suatu pemandangan, bisa lupa diri.

Terbukti, pada hari berikutnya Mba Irena menghilang, saya duduk saja di KFC dan dia tiba-tiba muncul. Atau saat saya menghilang, tiba-tiba Mba Irena menemukan saya, padahal kami tidak janjian.

Saya juga bukan orang penggila pesta, yang datang ke klub malam. Bingar itu bisa saya dapat di Jakarta.

Jembatan dan benteng yang sudah ada sejak tahun 1400an, kalau dilihat sejarahnya, bahkan jembatan ini sudah ada pada tahun 1300an, kami menyusuri jembatan bersama ratusan bahkan ribuan orang. Padat.



Burung camar sliweran di atas, menghadang angin sepanjang sungai, pemusik jalanan, penjual cendera mata berjejer pagi itu, mulai menggelar dagangannya.

Kadang burung merpati berebut roti dengan camar, yang dilemparkan orang-orang ke arah sungai.

Semilir angin berhembus kencang ketika berdiri di pinggir jembatan. Sempat terbayang kala itu ratusan tahun lalu, jembatan sebelum ini pernah hancur karena banjir besar.

Dari jembatan cantik ini, kami bisa memandang menara kastil dan gereja yang menyembul. Jembatan bergaya gothic yang menyimpan banyak sejarah.



Ketika orang sibuk berfoto, menandakan mereka pernah berada di sana. Kami justru bingung, harus mulai dari mana. Beberapa kali menguping para pemandu wisata, mencocokan informasi dengan peta yang kami dapat.

Kesimpulannya, tidak akan cukup memandangi seisi kota dalam waktu satu hari empat hari, selama kami di Praha.

Serius.

Jadi bersejarah ketika paduan Gothic dan Baroque terlihat di jembatan ini. Baroque muncul saat masa Renaissance, itu yang disebutkan oleh Antoine Bourdelle, seorang pematung dari Prancis.

Semisal punya waktu, hitunglah patung-patung di Jembatan Charles, ada 30 patung di sana. Bukan sebagai hiasan. Maknanya banyak.



Menurut informasi di peta, patung St. John Nepomuk disebut yang paling tua. Dipasang pada 1683, setelah itu patung lainnya dipasang, namun pada pertengahan abad 19 banyak patung dalam keadaan rusak.

Masih tersisa 15 patung dalam keadaan asli seperti pertama kali di pasang, selebihnya sudah direhabitasi, direplikasi lalu dipasang kembali.

Saat kami ke sana, satu patung siap dipindahkan ke museum karena kondisinya yang rapuh.

Dua patung terbaru, dipasang pada abad 19 hingga 20.

Bagi saya, patung Santo John Nepomuk yang paling menarik ceritanya. Dia adalah pendeta Bohemia. Oh ya, dahulu salah satu daerah di Ceko dinamakan Bohemia, jauh sebelum orang-orang Greenwich menyebut dirinya Bohemia, atau bahkan lagu Bohemian Rhapsody yang abadi itu.

Ok, lanjut. Dia hidup pada tahun 1345 hingga 1393. Dia mendengar pengakuan dosa dari Raja Wenceslas IV dan keluarga kerajaan lainnya. Sang raja paranoid bahwa istrinya selingkuh.

Raja meminta pendeta untuk membocorkan pengakuan dosa yang sudah diucapkan oleh sang ratu. Tetapi Santo John menolak. Ia kemudian dihukum penjara, dan dilempar ke sungai dari Jembatan Charles. Lokasinya pelemparannya tepat berada di lokasi patungnya sekarang.

Dia mati tenggelam, dan pada 1729 namanya dinobatkan sebagai Santo.

Legendanya, menyentuh bagian bawah patung itu akan membawa keberuntungan. Saya katakan kepada Mba Irena "Pegang, siapa tahu beruntung, dan bisa kembali lagi ke Praha," dan kami berdua memegangnya.



Banyak orang yang mencoba peruntungannya, buktinya bagian bawah patung itu mengkilap dibandingkan bagian lainnya.

Bibir dan wajah saya kaku, saatnya kembali berjalan. Udaranya dingin dan membuat kulit kering.

Toko-toko dengan kartu pos bahkan sovenir tentang Kafka berjejer. Tibalah kami di Museum Kafka.

"I've read his story, all I want to see is Kafka itself," kata saya kepada mba Irena.

"Tapi Kafka pernah ada di sini," imbuhnya.

"Yeah, dia sudah mati, bukan makamnya juga yang mau dilihat," saya berujar kepada Mba Irena.

Kami berhenti sampai di gerbang museum. Setelah itu melanjutkan perjalanan menuju kastil.

Tidak jauh, hanya saja komplek istana berada di dataran yang lebih tinggi dan antre.



Kami akhirnya kembali turun tangga, dan berlabuh di kedai kopi. Menghangatkan badan, minum kopi dengan pemandangan kota tua Praha dari ketinggian.

Tenang sekali.

Nama Kafka di Praha begitu populer. Dia semacam ikon pariwisata juga di sini.

Dia dikomersilkan sedemikian rupa sehingga orang-orang tertarik mengetahui sosok Kafka.

Sebagian bilang itu sisi baiknya, sebagian bilang lebih banyak sisi buruknya.

Praha tak sekadar 'menjual' Charles Bridge, Kafka, dan Jam astronomi untuk turis, lebih dari itu.

Iya, dia salah satu penulis terbaik di dunia. Membawa kengerian tentang eksistensi manusia di dunia. Tulisannya mampu mengeluarkan ruh dari dalam badam kita.

Entah saya yang berlebihan, atau bacanya sambil mabuk.

Jujur satu-satunya tulisan karangan Kafka yang saya baca adalah Metamorphosis.

Dahulu guru kusus bahasa Jerman di dalam kelas pernah membedah tulisan Kafka, menguliti kata perkata, untuk bahan pelajaran kami di kelas.

Saya kemudian penasaran ingin baca yang versi Inggrisnya, syukur-syukur kalau ada bahasa Indonesia. Tapi ternyata belum ada, karena empat toko buku yang saya datangi tak menyediakan buku itu, maklum belum ada google sebagai medium utama pencarian, apapun itu.

Gelap sudah datang, kami ke pasar natal di alun-alun kota tua, sebelum kembali ke penginapan.

I just need warm wine.

Rempah campur anggur merah dan jeruk nipis lalu dipanaskan, paduan pas saat musim dingin.

Distraksi makin banyak, Kafka makin jauh

Hari kedua kami di Praha, perencanaan lebih matang untuk datang ke berbagai tempat di Praha.

Rencananya, kami akan ke Charles Bridge lagi, setelah itu pergi John Lennon wall, lanjut lagi menuju Dancing Hall. Selebihnya tidak tahu. Terserah kaki ini akan melangkah ke mana.

Hingga siang, semua tempat dapat kami gapai dengan mudah. Semudah melihat #prague dan menandai foto-foto di instagram untuk tempat yang jadi wishlist kami.

Ada nilai lebih ketika kami berjalan kaki. Bisa melihat sekeliling, lebih detail menangkap cerita masyarakat sekitar, dan terutama budaya yang tercipta dari kebiasaan mereka.

Lalu melatih navigasi menggunakan peta manual dan peta offline. Adakalanya kami tersesat, google maps menunjukkan jalan yang salah.

Kemudian kami harus kembali beberapa blok. Melewati gedung bioskop, dan pusat niaga di Praha.

Mba Irena sempat bilang, "ketika ingin membangun gedung, satu faktor utama yang harus dipikirkan di sini adalah estetika, barulah fungsinya," saya setuju.

Kami putuskan untuk kembali ke penginapan lewat jalan lainnya.

Meski tidak yakin apakah akan sampai ke penginapan.

Kaki sudah lelah. Sepertinya tidak ada daya lagi untuk berjalan. Matahari tidak muncul, awan masih kelabu, apalagi tadi malam salju tipis baru saja turun.

Kami berhenti sebentar di Café Louvre, tempat Kafka berkumpul. Lebih dari 1 abad, kafe itu menyediakan kopi dan kue.

Saya memesan kopi campur alkohol dengan whipped cream, bersama kue, saya lupa namanya apa, pelayan bilang pesanan saya tepat sambil tersenyum.

Tiba-tiba langit mendadak biru, matahari datang sedikit memberi kehangatan.

Kamu teruskan berjalan hingga...sebuah jalan di antara gedung-gedung tua seakan memanggil saya.

Di sanalah sosok Kafka berada. Bukan patung yang dibuat beberapa tahun setelah ia wafat. Tetapi Patung kepala Kafka, yang dibuat David Černý pada November 2014 and stands di pusat niaga Quadrio dekat stasiun metro Národní třída.



Baja anti karat disusun setinggi 8 meter, mirip seperti di North Carolina, AS.

Saya lantas melamun, membayangkan sisi berantakan dan liarnya otak Kafka, yang pada saat hidupnya pergi ke rumah bordil untuk sekadar mengobrol tentang filsafat kepada para pelacur.

Atau saat Kafka, seorang penulis Yahudi berbahasa Jerman, yang menyebut jenis serangga dalam buku Metamorfosisnya sebagai "ungeheuren Ungeziefer," atau "serangga mengerikan" bagi saya, itu adalah kecoa.

Atau saat Kafka yang bosan dengan pekerjaannya sebagai akuntan, dan tak pernah akur dengan ayahnya.

Atau Kafka yang 'tak beruntung' dalam percintaan karena TBC.

Kafka sendiri tak mau ungkapkan jenis serangga apa yang ia gambarkan, banyak phla seniman penasaran dan mereka apa yang ada di pikiran Kafka. Siapa yang tahu.

Namanya tak populer usai pendudukan Jerman dan perang dunia II karena sentimen anti Nazi, sehingga Buku-buku Kafka diterbitkan dalam bahasa Jerman dilarang beredar.

Lalu pada era komunis, dia tidak bersahabat dengan para penguasa, begitupun tulisan-tulisannya.

Ketika turis banyak datang dan 'mencari Kafka' barulah banyak yang sadar bahwa, Franz Kafka begitu berharga.

Saya hanya datang ke tiga tempat, Museum Kafka, Patung kepala Kafka, dan Café Louvre.

Oh dan ini list yang bisa saya kumpulkan agar kelak, untuk siapapun yang ingin menapaki jejak Kafka tanpa harus ikut tur:

1. Museum Franz Kafka, di Mala Strana, lokasinya dekat dengan Jembatan Charles

2. Franz Kafka Society, ada di Siroka 14, toko buku yang juga menyediakan jasa tur bertema Kafka.

3. Patung Kafka yang dibuat Cerny ada di belakang Tesco. Berada di antara jalan Narodi Trida dan Jalan Spalena

4. Patung Kafka buatan Rona ada di Kota Tua Praha antara Jalan Dusni dan Vezenska.

5. Hotel Intercontinental, dahulu tempat Kafka tinggal, sebelum dijadikan hotel.

6. Hotel Century Old Town, bangunan sebelumnya adalah tempat Kafka bekerja.

7. Café Louvre  tempat Kafka bersantai sejenak, di Jalan Narodni 22,menyajikan kopi dan kue selama satu abad. Tempatnya agak tersembunyi jadi lebih jelilah mencari.

Baik, saya bukan stalker. Atau ada satu pertanyaan mengganjal, nama besarnya hadir secara kebetulan, kebetulan di Praha?

Tidak juga, baca saja bukunya terlebih dahulu.

Klimaks sudah didapat, dan akhir dari perjalanan saya di Praha, belum selesai, ada tempat yang harus didatangi, untuk sore terakhir di Praha.

Mendapat Golden Hour di Praha


Pagi itu saya berkemas, supaya esoknya tidak repot dan terburu-buru ke bandara.

Bangun lebih siang, sekali lagi berkeliling kota. Niatnya mau masuk museum, di alun-alun sedang digelar eksebisi lukisan Dali, namun biaya masuknya cukup mahal.

Akhirnya kami putuskan untuk masuk ke komplek kastil, yang pada hari pertama gagal kami singgahi karena terlalu ramai.

Bangunan yang sudah ada sejak tahun 800an dan masuk rekor dunia sebagai komplek kastil terbesar di dunia.

Bahkan ada yang menyebut, komplek kastil ibarat kota kecil. Bangunannya menyebar horizontal di sebuah bukit sepanjang sungai Vlatava.

Bangunan yang menjulang tinggi dikenal sebagai Katedral Santo Vitus, bergaya gothic dan dibangun tahun 1400an. Perhatian saya tertuju kepada Gargoyle, berbentuk kepala monster yang jadi dekorasi bangunan.



Kami masuk ke dalam dan naik ke atas menara. Lewati tangga-tangga yang curam dan memutar hingga di bagian puncaknya.

Apa yang terjadi? Seisi kota Praha bagai lukisan dari atas sini.

Alun-alun kota, Menara Petrin, apa lagi? Semuanya.

Matahari muncul membiaskan warna emas. Bagi saya ini adalah hadiah.

Indah sekali. Kopi yang saya bawa adalah arabica dari Gayo, meluncur nimat dengan pemandangan yang mungkin hanya bisa saya lihat sekali seumur hidup. 

Comments

Popular posts from this blog

Apakah masih ada senyum terselip di balik masker kain Anda?

Sesudah virus corona, lalu apa? I've asked this question over and over again inside my head. What if we never get back to our ordinary life before pandemic? Karena makin lama, lingkungan di luar sana seperti planet lain bagi saya.  Setiap minggu level stres naik, bukan saya sendiri yang mengalaminya, tapi semua orang. Jika pada pekan lalu mereka yang saya temui di jalan masih enak diajak ngobrol, kali ini, semua menatap bak kriminal. Saya menghabiskan waktu di rumah sekaligus bekerja. Dalam seminggu, hanya sekali keluar untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Sehari sebelum ramadan, saya meliput masjid dekat rumah. Awalnya semua baik-baik saja, saya sapa marbot dan dia mengizinkan saya meliputnya. Cerita yang ingin sekali saya dengar adalah para marbot yang nelangsa kala ramadan. Jika tahun lalu jamaah salat tarawih berbaris-baris hingga menyesakkan seisi masjid, kini ibadah itu ditiadakan.  Gerbang depan masjid dalam keadaan terkunci, kain penutup dipasang di teras masjid

Jalan Raya Tertinggi di Indonesia 3600 MDPL (2)

Kalau dipikir, kemiringan jalannya sampai 60 derajat, saya sudah cemas, karena setelah tanjakan langsung tikungan, lalu turun curam dan berbelok di jalan yang mulai berlumpur. Apalagi yang bisa saya lakukan selain tertawa. Menertawakan hidup saya, yang jauh-jauh datang ke Papua hanya untuk menyetor nyawa. Saat itu, Trans Papua sedang dibangun. Cerita yang saya dengar, awalnya saat pembukaan jalur, TNI lah yang bergerak. Beberapa titik masih rawan. Kami sama-sama berdoa sambil bercanda di mobil. Wabah misterius itu merenggut puluhan nyawa anak-anak di Distrik Mbua. Media daring yang bagai kilat melaporkan 50an anak mati. Terlebih, saat itu sedang ramai pembicaraan tentang ebola. Persiapan kami menghadapi itu semua adalah: mengucap basmalah. Keselamatan memang jadi faktor utama. Kebutuhan logistik sudah tersedia, peralatan medis dasar juga sudah ada. Takdir membawa kami ke Distrik Mbua, untuk membukakan mata, siapapun yang ada di Jakarta. Saat mobil tiba di jalan keci

Jalan Raya Tertinggi di Indonesia 3600 MDPL (1)

Dua tahun lalu, pergi ke Papua itu sangat mahal, bahkan lebih mahal ketimbang berlibur ke Jepang. Kalau bukan karena penugasan dari rapat redaksional, saya tak mungkin bisa ke sana. Saat itu saya mengejar cerita tentang kematian misterius puluhan anak di Distrik Mbua, Kabupaten Nduga. Saya masih ingat, penerbangan dari Jakarta, transit dahulu di Makassar, berlanjut menuju Manokwari, kemudian Jayapura, dan akhirnya tiba di Wamena. Bandaranya kala itu masih tradisional. Saya gambarkan seperti terminal bus era 90an. Tapi sekarang bandara yang baru sudah dibuka, setaraf dengan bandara-bandara di tempat saya dan tim, transit sebelum sampai Wamena. Pak Nico, driver kami menjemput dengan mobil yang memiliki spesifikasi tangguh di medan pegunungan. Kami mengisi bahan bakar dahulu. 20 liter bensin, seharga 2 juta rupiah. Saya dan kedua rekan langsung terkejut. Pegunungan di sekeliling menyembul, pamer keindahan. Saya tanyakan kepadanya, apakah dia bahagia tinggal d